Ketika Langit Pontianak Menghitam: Awal Pendudukan Jepang di Kalimantan Barat
Oleh: Syafaruddin Daeng Usman
Pontianak-Spektroom : Langit Pontianak siang itu mendadak berubah mencekam. Jumat, 19 Desember 1941, tepat menjelang tengah hari, sembilan pesawat tempur Jepang muncul di angkasa dan menjatuhkan bom ke berbagai sudut kota. Ledakan demi ledakan mengguncang Kampung Bali, Parit Besar, Kampung Melayu, serta kawasan Tangsi Militer Belanda Fort du Bus yang menjadi sasaran utama.
Warga berlarian menyelamatkan diri. Sebagian mengungsi ke luar kota, meninggalkan rumah dan harta benda. Tidak seorang pun menyangka bahwa serangan udara tersebut menjadi awal dari runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda di Kalimantan Barat.
Di balik serangan itu berdiri Mayor Jenderal Kiyotake Kawaguchi, komandan Brigade Kawaguchi yang menjadi ujung tombak ekspansi Jepang di Borneo. Brigade ini berangkat dari Cam Ranh, Vietnam, dengan perlindungan armada besar Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Setelah berhasil merebut Miri, Serian, dan Kuching di Sarawak pada Desember 1941, pasukan Jepang bergerak menuju wilayah Hindia Belanda.
Kalimantan Barat memiliki arti strategis yang sangat penting. Letaknya berada di jalur pelayaran Asia Tenggara dan memiliki sumber daya alam melimpah. Menguasai wilayah ini berarti membuka jalan bagi Jepang untuk menekan Sumatera, Jawa, dan kawasan Indonesia lainnya.
Saat ancaman itu datang, kekuatan Belanda di Kalimantan Barat sesungguhnya sangat terbatas. Letnan Kolonel DPF Mars hanya memiliki sekitar satu batalion KNIL yang tersebar di Pontianak, Singkawang, Sintang, dan Ketapang. Pertahanan udara bertumpu pada Lapangan Terbang Singkawang II di Sanggau Ledo yang menjadi pangkalan pesawat-pesawat Belanda.
Namun, Jepang bergerak terlalu cepat. Pada 23 Desember 1941, dua puluh empat pesawat Jepang menggempur Lapangan Terbang Singkawang II. Landasan rusak dan pesawat Belanda tak lagi mampu menjalankan operasi secara efektif. Tidak lama kemudian, seluruh kekuatan udara Belanda diperintahkan mundur ke Palembang.
Sementara itu, Pontianak terus dibombardir. Serangan berulang pada 22 dan 27 Desember membakar kawasan permukiman dan menenggelamkan sejumlah kapal angkutan sungai yang selama ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat.
Memasuki Januari 1942, pasukan Jepang mulai datang dari berbagai arah. Mereka bergerak dari Kuching melalui jalur darat dan mendarat di Pemangkat melalui Tanjung Kodok. Pertahanan Sekutu semakin terdesak. Pasukan Inggris dari Resimen 15 Punjabi yang bertahan di sekitar Singkawang II bertempur hingga kehabisan amunisi sebelum akhirnya menyerah.
Tanggal 27 Januari 1942, Singkawang II jatuh ke tangan Jepang. Sejak saat itu, praktis tidak ada lagi kekuatan udara yang mampu menghalangi laju pasukan Dai Nippon di Kalimantan Barat.
Di Pontianak, suasana berubah menjadi kacau. Hubungan telepon dengan Singkawang dan Mempawah terputus. Pemerintah kolonial mulai membumihanguskan pelabuhan, gudang, pabrik, fasilitas minyak, hingga rumah-rumah dinas agar tidak dimanfaatkan musuh. Asap hitam membubung tinggi ke langit kota. Ledakan terdengar sepanjang malam.
Ketika aparat militer Belanda meninggalkan kota, penjarahan mulai terjadi. Gudang-gudang dibuka dan masyarakat mengambil barang-barang yang tersisa. Malam-malam terakhir sebelum pendudukan dipenuhi ketakutan dan ketidakpastian.
Akhirnya, Kamis 29 Januari 1942, pasukan Dai Nippon memasuki Pontianak. Tidak ada perlawanan besar yang mereka hadapi. Tentara Jepang bergerak hati-hati menyusuri jalan-jalan kota yang masih dipenuhi bekas kebakaran dan kepulan asap.
Hari itu menjadi penanda berakhirnya kekuasaan Belanda di Kalimantan Barat. Sebuah babak baru dimulai, babak yang kelak menghadirkan penderitaan panjang, penangkapan massal, hingga tragedi kemanusiaan yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Bumi Khatulistiwa.
(*Syafaruddin Daeng Usman adalah Sejarawan Kalbar)