Ketika Polisi Memilih Mendengar: Merajut Keamanan dari Tengah Masyarakat
Feature oleh : Apolonius Welly
Pontianak – Spektroom: Keamanan tidak selalu dimulai dari sirene patroli, penjagaan bersenjata, atau penindakan terhadap pelanggaran hukum. Terkadang, upaya menjaga ketertiban justru bermula dari langkah sederhana: hadir di tengah masyarakat, duduk bersama, mendengarkan keluhan, dan membangun kepercayaan.
Pendekatan itulah yang terus diupayakan Kepolisian Daerah Kalimantan Barat (Polda Kalbar) melalui berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Dari masjid dan gereja hingga titik-titik keramaian, polisi berupaya membangun komunikasi yang lebih terbuka untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Di Kabupaten Ketapang, pendekatan tersebut terlihat melalui kegiatan Minggu Kasih di Gereja Katedral Santa Gemma Galgani, Jalan A. Yani, Kecamatan Delta Pawan, Sebanyak 11 personel gabungan Polres Ketapang mengikuti perayaan Ekaristi bersama umat yang dipimpin Pastor RP. Oscar Aris, CP.
Kehadiran personel kepolisian bukan semata-mata untuk menjalankan tugas pengamanan. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, menumbuhkan rasa aman, serta merawat hubungan harmonis antara kepolisian dan umat beragama.
Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama mengatakan, Polri perlu hadir bukan hanya ketika masyarakat menghadapi persoalan keamanan, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Melalui Minggu Kasih, kepolisian berharap masyarakat semakin merasakan peran polisi sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
Pendekatan serupa juga dilakukan Polda Kalbar melalui kegiatan Sambang dan Silaturahmi Subuh Keliling (Suling).
Wakapolda Kalbar Brigjen Pol. Hindarsono turun langsung menyambangi Masjid Attaqwa di Jalan Alianyang, Pontianak, setelah salat Subuh berjamaah.
Di hadapan jamaah dan tokoh agama, ia mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kamtibmas, menjauhi narkoba, tertib berlalu lintas, serta bijak menggunakan media sosial.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya kepada pihak yang menjanjikan kelulusan dalam penerimaan anggota Polri dengan imbalan tertentu.
Pesan-pesan tersebut menunjukkan bahwa menjaga keamanan membutuhkan keterlibatan masyarakat.
Polisi dapat melakukan patroli dan penegakan hukum, tetapi kewaspadaan warga, kepedulian terhadap lingkungan, dan kesediaan melaporkan gangguan keamanan juga memiliki peran penting.
Upaya membangun kedekatan itu tidak berhenti di tempat ibadah.

Pada setiap Jumat personel Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Kalbar kembali menggelar program Curhat Kamtibmas dan Makan Gratis di berbagai tempat terbuka.
Di tengah suasana santai, warga diberi kesempatan menyampaikan keluhan, saran, dan informasi mengenai kondisi keamanan di lingkungan mereka.
Dialog berlangsung lebih cair dengan kehadiran musik yang dimainkan langsung oleh personel kepolisian.
Dirbinmas Polda Kalbar Kombes Pol. Juda Trisno Tampubolon mengatakan, kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara Polri mendengarkan langsung aspirasi masyarakat sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat.
Melalui dialog dan kebersamaan, polisi berupaya mengurangi jarak yang terkadang terbentuk antara aparat dan warga.
Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono menerangkan pelayanan Humanis secara menyeluruh dilaksanakan di Polres polres,Polsek Polsek jajaran Polda di Kalimantan Barat.
Mereka mendatangi tempat tempat aktifitas masyarakat baik siang maupun malam sekaligus berpatroli.
Setiap kesempatan mereka menyampaikan himbauan,pesan agar selalu waspada dimanapun berada. Jadilah polisi bagi diri sendiri.
Dari masjid, gereja, hingga pusat aktivitas masyarakat, benang merahnya adalah pendekatan humanis.
Keamanan tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan gangguan, tetapi juga tumbuhnya rasa saling percaya, kepedulian, dan kesediaan untuk bekerja sama.
Bagi Polda Kalbar, tantangan berikutnya adalah menjaga agar pertemuan-pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Aspirasi yang disampaikan warga perlu didengar, ditindaklanjuti sesuai kewenangan, dan menjadi bahan evaluasi pelayanan kepolisian.
Sebab, keamanan yang bertahan lama tidak cukup dibangun melalui kehadiran aparat. Ia tumbuh ketika masyarakat merasa didengar, dihargai, dan memiliki ruang untuk ikut menjaga lingkungannya.
Di situlah makna pendekatan humanis kepolisian: hadir sebelum persoalan membesar, merawat kerukunan sebelum perbedaan menjadi pertentangan, dan membangun kepercayaan sebagai fondasi keamanan bersama.