Ketika Purnama Berselimut Kabut
Malam 29 Agustus 2026.
Cerpen Oleh : Apolonius Welly
Pontianak - Spektroom : Seharusnya langit Kalimantan Barat sedang merayakan purnama.
Bulan bulat sempurna menggantung di ufuk timur, menjadi lentera alam yang sejak ribuan tahun lalu menemani nelayan, peladang, para pengembara, juga sepasang manusia yang sedang jatuh cinta.
Namun malam itu berbeda.
Purnama tetap datang tepat waktu, tetapi sinarnya seperti dipenjara. Cahaya putih keperakannya menembus lapisan demi lapisan kabut asap yang menggantung tebal di langit.
Ia tampak seperti mata tua yang lelah memandang bumi.
Di tepian Sungai Kapuas, seorang lelaki tua bernama Jaya duduk sendirian di beranda rumah panggungnya. Ia memandang bulan yang samar.

“Kasihan kau, Bulan,” gumamnya. “Bahkan cahayamu pun kalah oleh asap.”
Udara berbau hangus. Tenggorokan terasa kering. Jauh di seberang sungai, suara mesin pompa dan kendaraan patroli terdengar bersahut-sahutan. Sudah berbulan-bulan orang sibuk memerangi api.
Api yang aneh.
Api yang datang seperti hantu.
Tak seorang pun benar-benar melihat siapa yang menyalakannya. Tak ada jejak penyulut yang jelas. Tak ada tangan yang mengaku.
Yang ada hanya hamparan lahan yang tiba-tiba menghitam, lalu asap yang merambat ke desa-desa, kota-kota, hingga menelan langit.
Peladang menjadi kambing hitam.
Kambing putih berlari tanpa jejak.
Semua saling menunjuk, tetapi api tetap menyala.
Hari ini padam di satu tempat, esok membara di tempat lain.
Seperti perang tanpa senjata.
Pasukan diterjunkan. Polisi, tentara, petugas pemadam, relawan, hingga warga biasa turun ke medan yang sama. Mereka tidak mengejar musuh yang bisa dilihat, melainkan bara yang bersembunyi di balik semak, gambut, dan akar-akar tua.
Jaya teringat masa kecilnya.
Dulu, purnama adalah pesta cahaya. Anak-anak bermain di halaman tanpa lampu. Orang-orang berkumpul di beranda, mendengar cerita para tetua tentang naga langit dan putri bulan.
Kini cerita itu kalah oleh berita.
Berita tentang titik panas.
Berita tentang kualitas udara.
Berita tentang helikopter pengebom air.
Berita tentang ribuan hektare yang terbakar.
Di kejauhan, bulan yang buram itu seolah bergerak mendekat. Dalam imajinasi Jaya, purnama berbicara kepadanya.
“Aku masih di sini,” kata bulan.
“Tapi kami tak bisa melihatmu,” jawab Jaya.
“Aku tahu.”
“Kenapa bumi menjadi begini?”
Bulan diam sesaat.
Lalu menjawab dengan suara yang terdengar seperti desir angin di antara pohon-pohon yang kehausan.
“Karena manusia sering mencari siapa yang harus disalahkan, sebelum mencari apa yang harus diperbaiki.”
Jaya menunduk.
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada asap yang menggores matanya.
Malam semakin larut. Kabut makin tebal. Cahaya purnama makin redup. Namun ia belum hilang sepenuhnya. Masih ada lingkaran pucat yang bertahan di balik tirai abu-abu langit Kalbar.
Seperti harapan.
Seperti keyakinan bahwa suatu hari nanti hujan akan datang.
Bahwa langit akan kembali biru.
Bahwa anak-anak akan mengenal purnama bukan dari cerita orang tua mereka, melainkan dari cahaya yang benar-benar jatuh ke bumi.
Dan ketika malam itu tiba, mungkin bulan akan kembali bersinar utuh. Bukan sebagai saksi kebakaran.
Bukan sebagai lampu bagi perang tanpa senjata. Melainkan sebagai purnama yang bebas, setelah sekian lama berselimut kabut