Ketika Seni Tradisi Banyumas Mencari Napas di Zaman Baru
Purwokerto-Spektroom: Di tengah riuh perubahan zaman, kesenian tradisional Banyumas dihadapkan pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana tetap hidup tanpa kehilangan jati dirinya?
Pertanyaan itu terasa dalam pementasan Daglung bertajuk Dadhung Kepuntir yang dibawakan Teater Samudra di Aula SMP Negeri 5 Purwokerto, Jumat (28/8/2026).
Panggung menjadi ruang pertemuan antara tradisi yang diwariskan dari masa lalu dengan cara pandang generasi hari ini.
Bagi Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas, menjaga seni tradisional bukan berarti membekukannya dalam bentuk lama. Justru, tradisi perlu diberi ruang untuk bergerak mengikuti zaman.
Sekretaris Umum Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas Jarot C Setyoko mengatakan, kesenian tradisional harus mampu menyesuaikan diri dengan konteks masyarakat yang terus berubah.
“Yang tradisional itu harus bisa menyesuaikan dengan konteks zaman,” kata Jarot.
Semangat itu kemudian diwujudkan melalui berbagai bentuk pengembangan seni. Salah satunya Sendratari, yang tetap mengambil akar dari tradisi, tetapi diperkaya dengan gerak, musik, koreografi dan tata panggung yang lebih kontemporer.
Ada pula fragmen tari ebeg. Dari luar, nuansa tradisionalnya masih terasa. Namun, ketika pertunjukan berlangsung, penonton dapat melihat perubahan pada koreografi, musik hingga konsep penyajiannya.
Begitu pula dengan wayang Banyumasan yang terus dikembangkan oleh sejumlah dalang. Sementara Daglung menjadi salah satu bentuk lain bagaimana kesenian tradisional dapat diberi sentuhan baru tanpa harus tercerabut dari akarnya.
“Keempat bentuk kesenian ini berakar dari kesenian tradisional, tetapi sudah melalui konsep kontemporer. Jadi sudah agak berbeda karena ada sentuhan modern,” ujarnya.
Upaya mempertemukan tradisi dengan generasi muda bahkan dibawa hingga Jakarta. Dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026, sekitar 100 anak-anak Banyumas yang terdiri atas pelajar dan mahasiswa mendapat kesempatan tampil dalam kegiatan di ibu kota.
Bagi Jarot, tampil di luar daerah bukan sekadar soal pertunjukan. Ketika orang-orang dari luar Banyumas mulai bertanya dan tertarik dengan kesenian yang dibawa, di situlah tanda bahwa seni tradisional masih memiliki daya hidup.
Kini, tantangannya adalah membuat kehidupan itu terus berlanjut.
Pementasan Dadhung Kepuntir menjadi salah satu ikhtiar untuk mendekatkan kembali seni masa lalu kepada generasi sekarang.
Dukungan sekolah pun dinilai penting karena ruang pendidikan dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal budaya daerahnya.
Tradisi, pada akhirnya, bukan benda yang disimpan di lemari dan hanya dikeluarkan pada waktu tertentu. Ia harus dimainkan, ditonton, dipelajari, dan bila perlu ditafsirkan kembali.
Sebab, selama masih mampu berbicara dengan zamannya, kesenian Banyumas tidak sekadar menjadi warisan masa lalu. Ia akan tetap memiliki tempat di panggung kehidupan generasi berikutnya.