Ketua Kopdes Grogol Limo, Deni Santana: KMP Baru Layani Minyak dan Beras untuk Dapur MBG
Depok- Spektroom : Diantara 63 target Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kota Depok, Kopdes Grogol di Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, menjadi salah satu yang gerainya sudah berdiri.
Namun ketua koperasinya, Deni Santana, mengaku masih menahan laju. Bukan karena tidak ada kemauan, melainkan regulasi yang belum tuntas. Banyak instansi yang terlibat, dari Agrinas, Bulog, hingga Badan Gizi Nasional, sehingga koperasi belum bisa bergerak leluasa.
"Kita masih menunggu regulasi yang akan dilaksanakan untuk menjalankan koperasi itu sebagaimana mestinya, karena memang banyak instansi yang dilibatkan," ujar Deni Santana saat ditemui di sela Acara Rapat Monitoring Evaluasi Semester I & Pola Kemitraan bagi Kopdes, Rabu (28/10/2026).
Disebutkan, saat ini Kopdes Grogol baru melayani kebutuhan paling dasar, yakni sembako berupa beras dan minyak goreng untuk Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Misalkan ada bahan minyak yang bisa diterima oleh MBG itu kita bawa dulu sampelnya, lalu kerja sama. Kalau ada perubahan merek dan lain sebagainya kita koordinasi," kata Deni.
Sejauh ini sudah ada satu dapur MBG yang menjalin komunikasi, dan dalam waktu dekat akan bertambah menjadi dua dapur. Pemilik dapur, menurut Deni, sudah terbuka dan siap bekerja sama.
"Kita hanya kerja sama untuk kebutuhan yang dibutuhkan oleh dia, bukan kebutuhan MBG secara keseluruhan. Kita siap menyediakan," ujarnya.
Modal awal koperasi berasal dari dana hibah. Dari dana tersebut, Kopdes Grogol sempat membeli tabung gas sebagai modal usaha. Namun rencana untuk menjadi pangkalan gas elpiji terkendala.
"Ternyata dari Pertamina langsung kirim barang, jadi barang kita tidak bisa masuk. Harganya juga tidak kompetitif. Saya beli Rp18.000 - Rp19.000, di Pertamina, jualnya Rp16.000," keluh Deni.
Rencana pengembangan gerai juga sudah disiapkan. Di gerai Kopdes Grogol Limo, sudah ada ruangan untuk klinik yang tinggal menunggu petunjuk pelaksanaan dari Agrinas. Kapan klinik itu bisa beroperasi, apakah dua atau tiga bulan ke depan, masih menunggu regulasi.
Di sisi keanggotaan, Kopdes Grogol baru memiliki 50 anggota. Padahal potensi di Kelurahan Grogol sangat besar, dengan 87 RT dan 13 RW. Banyak tokoh masyarakat yang sebenarnya sudah menyatakan siap bergabung.
"Kita belum bisa buka sosialisasi besar-besaran ke masyarakat karena kita sendiri belum dapat gambaran utuh soal bonus dan sistem simpan pinjamnya seperti apa. Prosedurnya sudah ada namanya, tapi belum berjalan," kata Deni.
Ia mengaku masih hmempelajari perbedaan koperasi Merah Putih yang merupakan program pemerintah dengan koperasi simpan pinjam biasa. Dana hibah, sistem keanggotaan satu orang satu KK, hingga mekanisme simpan pinjam masih menjadi tanda tanya.
"Kita pelajari dulu. Kecuali koperasi biasa, ini kan ada dana hibah dan lain sebagainya. Jadi kita kadang-kadang kalau ditanya warga soal keuntungan jadi anggota, kita belum bisa jawab pasti," ujarnya jujur.
Meski masih meraba-raba, Deni tetap optimistis. Gerai sudah ada, modal awal sudah ada, kemitraan dengan Dapur MBG sudah dirintis.
Jadi yang dibutuhkan sekarang adalah kepastian regulasi agar Koperasi Merah Putih benar-benar bisa menjadi tulang punggung ekonomi warga Grogol. (wis)