KONI Sumbar Berduka, Munandar Maska: Wasit, Ustadz, dan Guru Kehidupan Itu Kini Telah Pergi
“Innalillahi wainnailaihi roji’un.”
Kalimat itu spontan terucap begitu saya membaca pesan yang diunggah Rahmad, salah seorang pengurus KONI Sumatera Barat, di grup WhatsApp Pengurus KONI Sumbar, Senin petang, 11 Mei 2026, sekitar pukul 18.06 WIB.
Pesan itu begitu singkat, namun terasa menghantam.
Ustadz Drs. H. Munandar Maska dikabarkan wafat saat menjalankan tugas sebagai wasit pada Kejuaraan Karate di Bandung, Jawa Barat. Beliau disebut tak sadarkan diri di arena pertandingan sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pukul 17.05 WIB.
Saya sempat tak percaya.
Sehari sebelumnya, almarhum tampak aktif di media sosial. Di akun Facebook miliknya, ia mengunggah foto bersama Sekretaris Dewan Wasit Asian Karate Federation (AKF), Sensei Michael Huang. Dalam foto itu, beliau tersenyum lebar. Teduh. Menenangkan. Tak ada tanda apa pun bahwa itu akan menjadi salah satu unggahan terakhirnya.
Saya pun mencoba memastikan kabar tersebut kepada sejumlah teman. Dan ternyata benar. Sosok yang berpulang itu adalah Munandar Maska yang saya kenal. Seorang ustadz, wasit karate nasional, sekaligus pribadi hangat yang begitu dihormati banyak orang.
Pertemuan pertama saya dengan almarhum terjadi pada ajang PON Beladiri di Kudus, Jumat, 24 Oktober 2026. Saat itu, Djarum Arena yang biasanya riuh oleh pertandingan, berubah sejenak menjadi ruang ibadah untuk Shalat Jumat.
Munandar Maska berdiri sebagai khatib.
Dengan suara yang tenang namun tegas, beliau membuka khutbah bertema “Manusia yang Tidak Diterima Amalannya.”
Sebuah tema yang sederhana, namun terasa menghunjam di tengah hiruk-pikuk persaingan olahraga dan ambisi mengejar kemenangan.
Tak sedikit atlet, pelatih, dan official dari berbagai daerah di Indonesia larut dalam khutbahnya.
“Luar biasa, khutbahnya sederhana tapi mengena. Kami jadi diingatkan untuk menjaga niat dalam bertanding,” ujar seorang jamaah asal Sulawesi usai salat.
Sejak saat itu komunikasi kami terjalin. Kami saling bertukar nomor telepon dan akun media sosial. Sesekali bertukar pesan. Beliau termasuk sosok yang aktif berbagi aktivitas dan nasihat melalui Facebook.
Namun ada satu hal yang hingga kini menjadi sesal: janji untuk bertemu langsung di Padang tak pernah terlaksana.
Kami tinggal di kota yang sama. Tetapi kesibukan membuat rencana itu terus tertunda. Sampai akhirnya, waktu tak lagi memberi kesempatan.
Kini, sang ustadz wasit itu telah pergi.
Sosok yang selama ini dikenal santun, teduh, dan menjadi tempat bertanya bagi banyak orang, meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi insan olahraga Sumatera Barat.
Ketua KONI Sumbar, Hamdanus, turut menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Munandar Maska.
“Sumatera Barat kehilangan salah satu tokoh olahraga dan tokoh umat yang sangat kami hormati. Beliau bukan hanya wasit karate berpengalaman, tetapi juga pribadi yang menyejukkan dan penuh keteladanan. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Hamdanus.
Munandar Maska lahir di Padang, 30 Agustus 1962. Dalam hidupnya, beliau dikenal aktif di dunia olahraga dan dakwah.
Almarhum merupakan alumni UIN Imam Bonjol Padang angkatan 1991 dan pernah menjadi pengurus Masjid Raya Ganting, salah satu masjid bersejarah di Indonesia.
Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak, dan seorang cucu.
Jenazah almarhum diterbangkan dari Bandung menuju Padang, Selasa pagi (12/5/2026). Sebelum dimakamkan, almarhum disemayamkan di Ganting dan dishalatkan di Masjid Raya Ganting, masjid yang juga menjadi bagian dari pengabdian hidupnya.
Ada orang yang dikenang karena jabatan. Ada yang dikenang karena prestasi. Tapi ada pula yang terus hidup dalam ingatan karena keteduhan hati dan kebaikan yang ditinggalkannya.
Munandar Maska adalah salah satunya.
Selamat jalan, ustadz.
Selamat jalan, guru kehidupan.
Kami bersaksi, engkau orang baik.
Semoga Allah SWT melapangkan kuburmu, menerima segala amal ibadahmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan semoga kami yang ditinggalkan mampu menjaga pelajaran-pelajaran hidup yang pernah engkau titipkan. Aamiin.
(Feature oleh: Hendri Parjiga/Ketua Bidang Humas KONI Sumbar)