Koperasi Desa Era Digital : Antara Kedisiplinan Militer dan Kebutuhan Kerja Riil
Oleh : Heriyoko - Jurnalis Spektroom
Jakarta - Spektroom : Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tengah menjadi sorotan tajam publik. Program besar ini melibatkan sekitar 30.000 calon manajer. Mereka disiapkan untuk mengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Namun, sebuah kabar duka yang mendalam mendera program ini.
Lima peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) pada Juni 2026. Kelima peserta yang gugur tersebut adalah:
Yonanda Muhammad Taufiq. Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, Nola Dya Sari
Kepergian mereka memicu gelombang duka sekaligus kritik keras di Instagram dan Facebook. Masyarakat kini menuntut transparansi penuh terkait standar keselamatan dan penanganan medis di kamp pelatihan.
Merespons tragedi ini, Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI langsung bergerak cepat :
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Mensesneg Prasetyo Hadi memerintahkan evaluasi menyeluruh.
Memberikan santunan duka senilai Rp50 juta per korban.
Menelusuri potensi adanya kesalahan prosedur atau kelalaian selama pelatihan.
Memperketat proses seleksi dan pengawasan medis ke depan.
Kepala BPSDM Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, juga telah menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas tragedi ini.
Kejadian ini memicu perdebatan tentang relevansi doktrin militer bagi calon pengelola koperasi.
Peneliti Poshdem Universitas Andalas, Feri Amsari, menilai negara telah menyalahi prinsip administrasi. Menurutnya, calon manajer koperasi tidak perlu dilatih secara militer. Mereka harusnya dibekali pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan kinerja riil di lapangan.
Namun, argumen ini ditepis oleh Kapus Komcad Brigjen TNI Hengki Yuda Setiawan. Ia menegaskan bahwa porsi Latsarmil sudah terukur, tidak berat, bahkan ramah bagi peserta disabilitas. Kemhan menekankan bahwa Latsarmil bukan bertujuan mencetak prajurit, melainkan membentuk kedisiplinan, integritas, dan etos kerja tinggi bagi kader pembangunan desa.
Terlepas dari polemik pelatihannya, kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memang sangat dibutuhkan. Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat geopolitik global, masyarakat butuh bantalan ekonomi yang kuat di tingkat akar rumput melalui gotong royong.
Namun, tantangan sesungguhnya bukan soal ketahanan fisik. Tantangan utamanya adalah bagaimana membawa koperasi bersaing di era digital. Koperasi modern dituntut adaptif terhadap teknologi agar mampu bersaing dengan korporasi besar.
Untuk memenangkan persaingan, koperasi modern harus melakukan transformasi total dengan :
Menerapkan digitalisasi pada seluruh sistem operasional.
Menciptakan ekosistem ekonomi mandiri yang solid.
Mengoptimalkan keunggulan pelayanan yang berpusat pada kesejahteraan anggota.
Menghadapi korporasi raksasa dengan modal besar tidak harus dengan bersaing langsung sebagai marketplace raksasa. Koperasi harus menggunakan teknologi untuk memperkuat efisiensi internal dan memperluas jangkauan ke anggota.
Kehilangan nyawa generasi muda tidak boleh dianggap angin lalu. Pemerintah harus membuktikan bahwa membentuk mental penggerak ekonomi desa tidak harus dibayar mahal oleh keselamatan para pesertanya.