KPI Ditarget Capai Indeks Kualitas 3,35 di 2029
Jakarta-Spektroom : Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) periode 2026–2029 untuk menjadi regulator yang adaptif terhadap perubahan teknologi, namun tetap menjaga kualitas siaran.
Hal itu disampaikan Meutya saat memimpin Pengambilan Sumpah Jabatan dan Pengukuhan Anggota KPI Pusat di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut Meutya, perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi membuat persaingan industri penyiaran semakin ketat. Namun, perebutan perhatian publik tidak boleh mengorbankan kualitas.
“KPI tidak boleh menjadi pengawas semata, tetapi harus mampu membantu industri menciptakan persaingan yang sehat dan setara tanpa mematikan inovasi,” ujar Meutya.
Ia menekankan dua prinsip utama yang harus dijaga KPI, yaitu diversity of content dan diversity of ownership.
Target indeks kualitas siaran juga harus dipenuhi, yakni 3,2 pada 2026 dan 3,35 pada 2029.
“Di tengah banjir informasi, keunggulan lembaga penyiaran ada pada informasi yang akurat, terverifikasi, berimbang, dan memiliki konteks. Jurnalisme berkualitas harus jadi pembeda,” kata Meutya.
Meutya mengingatkan kredibilitas adalah aset jangka panjang media. Lembaga penyiaran diminta menjaga profesionalisme agar tidak menghasilkan konten sensasional, dangkal, atau hanya mengejar kontroversi.
“Persaingan harus sehat, tetapi kualitas jangan pernah menjadi korban,” tegasnya.
Menkomdigi juga menyoroti tanggung jawab publik lembaga penyiaran karena menggunakan frekuensi milik publik. Konten harus berkualitas, aman bagi anak, memperkuat keberagaman budaya, dan memberikan edukasi.
KPI diminta memahami perkembangan layanan streaming, konten lintas platform, dan model bisnis media. Pengawasan perlu diimbangi pembinaan dan dialog dengan industri.
“KPI harus tegas, adil, transparan, dan adaptif. Regulasi harus memberi kepastian sekaligus ruang bagi inovasi,” ujar Meutya.
Ia berharap KPI dapat memperkuat penyiaran nasional sebagai industri yang inovatif sekaligus bertanggung jawab publik.
“KPI ke depan harus memastikan di tengah persaingan ketat, kualitas tetap menjadi keunggulan utama penyiaran Indonesia,” pungkas Meutya.