Kramat Jati Berbenah, 614 Pedagang Menatap Ruang Usaha Baru
Jakarta-Spektroom : Suasana perdagangan di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, perlahan berubah. Aktivitas yang selama puluhan tahun memenuhi sejumlah ruas jalan dan ruang publik kini mulai diarahkan ke lokasi-lokasi yang telah disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Bagi para pedagang, perubahan ini bukan sekadar perpindahan tempat berjualan. Setelah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari aktivitas perdagangan di kawasan Kramat Jati, mereka kini harus beradaptasi dengan ruang usaha yang baru.
Sebanyak 614 pedagang telah ditata dan disiapkan lokasi penempatannya. Penataan dilakukan Pemprov DKI pada 24 hingga 31 Agustus 2026.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan penataan tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalan dan ruang publik, tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha para pedagang.
“Pemerintah DKI Jakarta secara sungguh-sungguh ingin menata kawasan pedagang yang ada di Kramat Jati ini,” ujar Pramono saat meninjau Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Selasa (1/9/2026) malam.
Dari 614 pedagang tersebut, sebanyak 193 pedagang ikan direlokasi ke Lokbin Kramat Jati. Sebanyak 331 pedagang lainnya ditempatkan di Pasar Kramat Jati Sektor 7. Sementara 45 pedagang kue diarahkan ke Lokbin Cililitan dan 45 pedagang lainnya ditempatkan di pasar-pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya.
Pemprov DKI memahami bahwa masa perpindahan membutuhkan penyesuaian. Karena itu, para pedagang mendapatkan keringanan berupa pembebasan retribusi selama enam bulan. Setelah masa tersebut berakhir, retribusi ditetapkan sebesar Rp180 ribu per bulan.
“Selama enam bulan kami beri retribusi atau iurannya kami gratiskan,” katanya.
Penataan Kramat Jati sendiri bukan pekerjaan yang berlangsung dalam hitungan hari. Aktivitas perdagangan di kawasan itu telah berlangsung sejak sekitar 1970-an.
Pramono, mengakui prosesnya tidak mudah karena menyangkut kehidupan, mata pencaharian ratusan pedagang. Dukungan pedagang dan tokoh masyarakat menjadi faktor penting dalam proses tersebut.
“Ini tidak akan berhasil tanpa dukungan sepenuhnya dari para pedagang dan juga para tokoh masyarakat,” ujarnya.
Pemprov DKI juga ingin memastikan relokasi tidak berhenti pada pemindahan tempat berjualan. Ke depan, pedagang akan didorong memiliki kekuatan ekonomi bersama melalui pembentukan koperasi.
Koperasi tersebut dirancang untuk memasok kebutuhan bahan baku ikan bagi rumah sakit milik Pemprov DKI Jakarta. Skema ini diharapkan membuka pasar yang lebih pasti sekaligus memperkuat posisi pedagang.
Gagasan tersebut telah dibahas bersama Wali Kota Jaktim dan Dinas PPKUKM DKI Jakarta.
Pemprov DKI masih menyiapkan lokasi tambahan untuk menampung pedagang ikan yang belum mendapatkan tempat di Lokbin Pasar Ikan Kramat Jati.
Pramono berharap lokasi tersebut dapat segera digunakan sehingga persoalan keterbatasan tempat usaha dapat diselesaikan.
“Mudah-mudahan bisa dipersiapkan dalam waktu yang singkat. Kalau itu bisa dilakukan, maka persoalan kekurangan lokasi bagi para pedagang segera terselesaikan,” tuturnya.
Koordinator Pedagang Subuh Kramat Jati, Muhtarom, turut mengajak para pedagang untuk memanfaatkan lokasi binaan yang telah disediakan.
“Saya sudah mengimbau kepada pedagang kaki lima, khususnya pasar subuh, untuk masuk ke Lokbin,” katanya.
Kini, penataan Kramat Jati memasuki babak baru. Jalan dan ruang publik diharapkan kembali pada fungsinya, sementara para pedagang mendapat ruang usaha yang lebih tertata.