Trending

Langkah Budaya Pagi Hari di Kota Solo

Langkah Budaya Pagi Hari di Kota Solo
Kirab Budaya Pokdarwis Menjadi Suguhan Istimewa Pengunjung Car Free Day SOLO

Solo - Spektroom : Matahari belum terlalu tinggi ketika ribuan orang memadati kawasan Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu pagi (10/5/2026).

Seperti biasanya, warga berjalan santai, berolahraga, atau sekadar menikmati udara segar di jantung Kota Bengawan. Namun pagi itu, suasana terasa berbeda.

Dari depan Rumah Dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung, hingga Kampung Batik Kauman, jalan utama kota berubah menjadi panggung budaya terbuka. Denting musik bambu, derap langkah pasukan bergada, dan warna-warni busana adat menyita perhatian siapa pun yang berada di sepanjang rute.

Sebanyak 190 peserta Kirab Budaya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-Jawa Tengah berjalan anggun dan penuh semangat. Mereka datang sebagai perwakilan dari 35 kabupaten dan kota, membawa identitas daerah masing-masing dalam satu parade yang memadukan seni, tradisi, dan semangat memajukan pariwisata.

Di tengah hiruk-pikuk kota modern, kirab itu seperti pengingat bahwa budaya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, bergerak, dan menyapa masyarakat dengan caranya sendiri.

Alunan musik bambu Gajah Krodyung membuka iring-iringan. Tak lama kemudian, pasukan bergada tampil gagah, disusul kelompok Kebaya Nusantara dengan kebaya beraneka warna.

Penampilan Wayang Orang Sriwedari menambah nuansa klasik yang lekat dengan sejarah seni pertunjukan Solo. Bagi banyak warga, kirab itu bukan sekadar tontonan.

Anak-anak menunjuk kostum-kostum unik, orang tua mengabadikan momen dengan telepon genggam, sementara wisatawan menikmati pengalaman budaya yang sulit ditemukan di tempat lain.

Panitia kegiatan, Candrawati, mengatakan kirab ini menjadi bukti bahwa semangat menjaga tradisi tetap kuat di tengah perkembangan zaman.

“Setiap kalurahan mengeluarkan potensi seni terbaiknya. Mulai dari musik bambu hingga Wayang Orang Sriwedari. Ini bukti bahwa warisan budaya harus terus dirawat,” ujarnya.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyampaikan kebanggaannya terhadap dedikasi para penggerak Pokdarwis. Menurutnya, pembangunan pariwisata yang kuat harus tumbuh dari komunitas akar rumput.

“Delegasi yang datang dapat melihat langsung potensi Kota Solo sebagai kota wisata budaya. Kalau gerakan ini kuat dari bawah, perhatian pemerintah pusat pun akan semakin besar,” katanya.

Kirab berakhir di Kampung Batik Kauman, salah satu kampung heritage terbaik di Solo. Di sana, para peserta disambut bazar UMKM yang menawarkan batik, produk fesyen, hingga makanan khas Solo.

Pagi itu, Jalan Slamet Riyadi tidak hanya menjadi ruang publik untuk berolahraga. Ia menjelma menjadi panggung besar tempat budaya berjalan kaki, menyapa masyarakat, dan mengingatkan bahwa pariwisata terbaik selalu berakar pada tradisi yang hidup. (Dan).

Berita terkait

Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Padang-Spektroom : Sebanyak 118 pasal dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Keolahragaan Sumatera Barat mulai dikaji secara terperinci oleh Komisi V DPRD Sumbar bersama mitra kerja. Pembahasan diarahkan untuk menghasilkan regulasi yang memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat pembinaan olahraga di daerah. Pembahasan berlangsung alot melalui rapat kerja di Ruang

Rafles
Warga Galang Sampaikan Aspirasi Pelayanan kepada Pemko Batam

Warga Galang Sampaikan Aspirasi Pelayanan kepada Pemko Batam

Batam–Spektroom : Sejumlah Aspirasi masyarakat Kecamatan Gatang disamaikan kepada Walikota Batam terkait pemerataan layanan air bersih, perbaikan infranstruktur jalan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Aspirasi yang disampaikan melalui Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Galang, Nazaruddin, dalam kegiatan silaturahmi bersama RT, RW, LPM, dan tokoh masyarakat di halaman Kantor Camat Galang,

Desmawati, Rafles