Lenjongan, Jajanan Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Lenjongan, Jajanan Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern
Lenjongan, aneka kudapan berbahan dasar singkong dan ketan yang dijajakan di Pasar Sangkrah Solo. (Foto: Ciptati Handayani)

Surakarta – Spektroom: Di tengah menjamurnya aneka makanan modern, jajanan tradisional khas Jawa yang dikenal dengan sebutan lenjongan masih bertahan dan tetap memiliki penggemar di Kota Solo.

Aneka kudapan berbahan dasar singkong, ketan, dan tepung beras ini masih mudah dijumpai di sejumlah pasar tradisional, salah satunya di Pasar Sangkrah.

Pagi itu, Kamis (30/7/2026), lapak milik Mbak Ning di deretan kios bagian depan pasar tampak ramai didatangi pembeli. Di atas meja dagangannya tersusun aneka lenjongan berwarna-warni, mulai dari gethuk, sawut, moto bagong, jongkong, rondo gulung, ketan, hingga kue lapis yang semuanya dibuat sendiri sejak dini hari.

"Saya mulai menyiapkan dari pukul 03.00 dini hari, lalu buka sekitar pukul 06.30. Semua yang dijual masih baru," ujar Mbak Ning kepada Spektroom di sela melayani pembeli.

Menurutnya, sebagian besar lenjongan dibuat dari singkong yang diolah dengan cara dikukus atau direbus. Satu bungkus lenjongan dijual mulai Rp5 ribu dengan isi beragam jenis jajanan yang ditaburi kelapa parut. Pembeli juga bebas memilih isi sesuai selera.

"Kalau mau lengkap ada gethuk, sawut, jongkong, moto bagong, ketan, sampai cenil. Bisa juga pilih sendiri, misalnya hanya gethuk dan sawut atau ketan saja," katanya.

Bagian makanan dari Lenjongan, ada yang disebut rondo gulung, terbuat dari parutan singkong diisi enten-enten dan taburan parutan kelapa. (Foto: Ciptati Handayani)

Di antara berbagai jenis lenjongan, moto bagong menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Kudapan ini dibuat dari parutan singkong yang diberi pewarna hijau, kemudian digulung bersama pisang dan dikukus. Saat diiris, tampilannya menyerupai mata dengan bagian tengah berwarna kuning dari pisang.

Ada pula jongkong, yaitu singkong parut yang dibentuk pipih dengan isian gula merah dan kelapa, serta rondo gulung yang berisi enten-enten kelapa manis. Keunikan bentuk dan cita rasa jajanan tradisional itu membuat banyak pembeli rela mengantre.

"Wah, jongkongnya lembut, tengahnya manis. Saya beli dua bungkus yang isinya lengkap," ujar salah seorang pembeli.

Sedangkan pembeli lainnya memilih kombinasi berbeda, terdiri beberapa bungkus.

"Saya pesan satu bungkus isi rondo gulung, moto bagong, gethuk, dan sawut. Satu lagi ketan saja, kelapanya yang banyak," katanya sambil tersenyum.

Meski tampil sederhana, lenjongan tetap menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional Solo. Selain harganya terjangkau, ragam bentuk, warna, dan cita rasanya masih mampu mengundang nostalgia sekaligus menarik minat generasi muda untuk kembali mengenal jajanan warisan leluhur. (Ciptati Handayani)

Berita terkait

Bupati Pasaman Barat Yulianto Tinjau Lahan Sekolah Rakyat

Bupati Pasaman Barat Yulianto Tinjau Lahan Sekolah Rakyat

Pasaman Barat-Spektroom : Bupati Pasaman Barat (Pasbar) Yulianto meninjau kesiapan lahan pembangunan Sekolah Rakyat sekaligus rencana pembangunan jembatan penghubung Kampung Cubadak-Kampung Sipirok, Senin (14/9/2026). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan lokasi serta mematangkan perencanaan teknis kedua program pembangunan tersebut. Bupati Yulianto didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Rafles
Galian C Poka Disorot, Bodewin: Jangan Tunggu Lingkungan Rusak Baru Bertindak

Galian C Poka Disorot, Bodewin: Jangan Tunggu Lingkungan Rusak Baru Bertindak

Ambon-Spektroom : Aktivitas Galian C di Desa Poka, Kota Ambon, mendapat perhatian serius dari Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena. Ia meminta DPRD dan Pemerintah Kota Ambon tidak sekadar membicarakan persoalan tersebut, tetapi segera memastikan dampaknya terhadap lingkungan melalui kajian teknis yang dapat dipertanggungjawabkan. Bodewin menyampaikan hal itu usai Rapat Paripurna ke-5

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru