Lopes Vivi Kamboja: Dari Resep Warisan Ibu hingga Jadi Buruan Penikmat Senja di Waterfront Pontianak
Pontianak-Spektroom : Menjelang sore, ketika cahaya matahari mulai memantul di permukaan Sungai Kapuas, sebuah lapak sederhana di kawasan Waterfront Pontianak ramai didatangi pengunjung. Bukan tanpa alasan.

Di tempat itulah Lopes Vivi Kamboja hadir menawarkan kudapan tradisional yang berhasil mempertahankan cita rasa lama di tengah gempuran kuliner modern.

Di balik usaha tersebut, ada sosok Vivi Mulyanti, perempuan yang memilih melanjutkan warisan usaha sang ibu daripada membiarkan resep keluarga itu hilang ditelan waktu.
Perjalanan Lopes Vivi Kamboja bermula pada 2018. Saat itu, ibunya lebih dulu berjualan lopes dan mendapat sambutan positif dari masyarakat Pontianak.
Namun pada 2021, usaha tersebut terhenti karena sang ibu harus fokus mengurus cucu.
Usaha keluarga itu sempat vakum selama beberapa waktu. Hingga akhirnya, setelah pulang dari Kuala Lumpur pada 2022 dan menjalani masa tanpa aktivitas selama hampir setahun, Vivi memutuskan mengambil tongkat estafet usaha keluarga.
“Pulang dari Kuala Lumpur saya sempat tidak ada kegiatan. Tahun 2023 saya minta izin kepada mama untuk meneruskan jualan lopes, dan mama mengizinkan,” kata Vivi.
Langkah awalnya tidak langsung mulus. Saat mulai kembali berjualan, ia hanya mengolah sekitar 10 kilogram ketan setiap akhir pekan. Jumlah itu bahkan baru habis terjual dalam waktu dua hari.
Namun perlahan, pelanggan mulai berdatangan. Dari mulut ke mulut, nama Lopes Vivi Kamboja semakin dikenal, terutama di kalangan warga yang rindu cita rasa jajanan tradisional.
Yang membuat lopes buatannya berbeda adalah komitmennya menjaga resep asli keluarga.
Vivi mengaku tidak mengubah sedikit pun formula yang diajarkan sang ibu.
Lopes berbentuk panjang dan bulat itu dipotong menggunakan tali, teknik tradisional yang masih dipertahankan hingga sekarang. Teksturnya legit dan pulen karena dimasak selama sekitar tujuh jam.
“Kami hanya menggunakan pulut ketan super tanpa campuran beras atau ubi. Semua murni ketan,” ujarnya.
Tak hanya itu, gula merah yang digunakan juga dibuat tanpa campuran tepung maizena maupun kanji sehingga menghasilkan rasa manis yang lebih alami.
Lokasi lapaknya menjadi nilai tambah tersendiri. Berada tepat di kawasan Waterfront Pontianak dan menghadap langsung ke Sungai Kapuas, pengunjung bisa menikmati lopes sambil menyaksikan aktivitas sungai dan suasana senja khas Kota Khatulistiwa.
Setiap hari, lapak ini buka mulai pukul 14.00 hingga 20.00 WIB. Khusus akhir pekan, jam operasional diperpanjang hingga sekitar pukul 21.30 WIB karena tingginya jumlah pengunjung.
Meski harga bahan baku, terutama pulut, mengalami kenaikan signifikan, Vivi tetap berupaya menjaga kualitas produknya.
Harga satu porsi yang berisi empat potong lopes kini dibanderol Rp12.000, naik dari sebelumnya Rp10.000.
Bagi Vivi, keberhasilan usahanya bukan hanya soal penjualan, melainkan bagaimana sebuah resep keluarga tetap hidup dan dicintai banyak orang.
Dari tangan sang ibu, resep itu kini menjadi bagian dari denyut UMKM lokal yang ikut meramaikan wajah baru Waterfront Pontianak.
Di tengah tren kuliner kekinian, Lopes Vivi Kamboja membuktikan bahwa cita rasa tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Bahkan, bagi sebagian orang, seporsi lopes hangat dengan guyuran gula merah bukan sekadar jajanan, melainkan rasa nostalgia yang tak pernah kehilangan penggemarnya.