LPLH Nata Buana Lestari Hadir di Sawahlunto, Dorong Pelestarian Alam dari Hutan hingga Pengelolaan Limbah

LPLH Nata Buana Lestari Hadir di Sawahlunto, Dorong Pelestarian Alam dari Hutan hingga Pengelolaan Limbah
LPLH Nata Buana Lestari Hadir di Sawahlunto, Dorong Pelestarian Alam dari Hutan hingga Pengelolaan Limbah (Goto design Riswan/Spektroom)

Sawahlunto-Spektroom : Menjaga lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Di tengah tekanan terhadap hutan, persoalan limbah, dan kebutuhan edukasi ekologis, keterlibatan masyarakat sipil menjadi bagian penting dalam merawat ruang hidup.

Semangat itu dibawa Lembaga Pemerhati Lingkungan Hidup (LPLH) Nata Buana Lestari di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Lembaga ini memberi perhatian pada pelestarian hutan, pengelolaan limbah, dan edukasi lingkungan melalui semangat “Menjaga Alam, Mewariskan Kehidupan.”

Ketua DPD LPLH Nata Buana Lestari Sawahlunto, Bushaini mengatakan, keberadaan lembaganya diarahkan sebagai wadah partisipasi masyarakat untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus membangun kesadaran ekologis secara berkelanjutan.

“Lingkungan hidup bukan hanya soal pohon dan hutan. Di dalamnya ada air, tanah, udara, pengelolaan limbah, kesehatan masyarakat, serta keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi gerakan bersama,” ujarnya saat berbincang dengan Spektroom.co.id, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, LPLH bukan untuk mengambil alih kewenangan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan. Sebaliknya, lembaga ini diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pengawasan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Di Sawahlunto, LPLH Nata Buana Lestari mendorong masyarakat tidak sekadar mengetahui persoalan lingkungan, tetapi ikut mengambil bagian dalam penyelesaiannya.

Setidaknya ada tiga fokus utama. Pertama, pelestarian hutan dan ekosistem sebagai penyangga tata air, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan ekologis.

Kedua, pengelolaan limbah. Sampah dan limbah yang tidak dikelola dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan. Karena itu, kesadaran memilah, mengurangi, dan mengelola limbah dari sumbernya perlu diperkuat.

Ketiga, edukasi lingkungan. Perubahan perilaku tidak cukup hanya melalui aturan. Masyarakat perlu memahami mengapa lingkungan harus dijaga dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau masyarakat sudah memiliki kesadaran lingkungan, menjaga alam tidak lagi dipandang sebagai kewajiban lembaga tertentu saja. Ia menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Persoalan lingkungan kerap bermula dari hal sederhana: sampah yang dibuang sembarangan, limbah yang tidak dikelola, berkurangnya tutupan vegetasi, hingga pemanfaatan sumber daya alam tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Jika dibiarkan, persoalan kecil itu dapat berkembang menjadi masalah ekologis yang lebih besar.

Karena itu, LPLH Nata Buana Lestari mendorong gerakan yang tidak berhenti pada kegiatan simbolis, melainkan diterjemahkan menjadi aksi, edukasi, dan kolaborasi.

“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton. Mereka harus dilibatkan, diedukasi, dan diberikan ruang untuk ikut menjaga lingkungannya sendiri. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, sekolah, dan komunitas dapat berjalan bersama,” ujar Bushaini.

Pendekatan kolaboratif dinilai penting bagi Sawahlunto. Kota dengan bentang alam dan sejarah panjang pertambangan ini membutuhkan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekologis.

Pelestarian lingkungan pun berkaitan langsung dengan masa depan kota. Air bersih membutuhkan daerah tangkapan yang terjaga, pariwisata membutuhkan lanskap sehat, pertanian membutuhkan tanah produktif, sementara masyarakat membutuhkan udara dan lingkungan yang layak.

Sekretaris LPLH NBL Sawahlunto, Riswan Idris, menambahkan bahwa keberadaan lembaga tersebut diharapkan memperkuat ruang partisipasi publik dalam agenda lingkungan.

“Gerakan lingkungan membutuhkan kerja jangka panjang. Menanam pohon adalah langkah awal, tetapi merawatnya jauh lebih penting. Mengedukasi masyarakat adalah awal, tetapi mengubah perilaku membutuhkan waktu. Mengelola limbah adalah kebutuhan, tetapi membangun budaya minim sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak,” ujarnya.

Menurut Riswan, LPLH ingin membangun kesadaran bahwa alam bukan warisan yang boleh dihabiskan.

“Alam adalah titipan untuk generasi berikutnya. Kalau hari ini kita tidak menjaganya, anak cucu kita yang akan menerima akibatnya,” katanya.

Pada akhirnya, menjaga hutan berarti menjaga air, mengelola limbah berarti menjaga kesehatan, dan mengedukasi masyarakat berarti menyiapkan generasi yang lebih peduli.

Menjaga alam bukan sekadar menyelamatkan lingkungan. Ia adalah cara manusia menyelamatkan masa depannya sendiri. (Ris1)

Berita terkait

Setahun Kodam XXII/Tambun Bungai, Pengabdian Diperkuat untuk Keamanan dan Kesejahteraan Masyarakat

Setahun Kodam XXII/Tambun Bungai, Pengabdian Diperkuat untuk Keamanan dan Kesejahteraan Masyarakat

Palangka Raya-Spektroom : Satu tahun perjalanan Kodam XXII/Tambun Bungai tidak hanya ditandai dengan bertambahnya usia organisasi, tetapi juga oleh tuntutan untuk terus hadir menjawab kebutuhan masyarakat. Dari penanganan bencana, pengamanan wilayah hingga dukungan terhadap program pembangunan, sinergi menjadi kekuatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Polin, Julianto
Lepas Kontingen Jamnas XII ke Cibubur, Riyanda Minta Pramuka Sawahlunto Jadi Duta Kota Warisan Dunia

Lepas Kontingen Jamnas XII ke Cibubur, Riyanda Minta Pramuka Sawahlunto Jadi Duta Kota Warisan Dunia

Sawahlunto-Spektroom : Anggota Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Sawahlunto bersiap membawa nama daerah ke panggung nasional. Mereka bertolak menuju Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta, untuk mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) XII Tahun 2026.Senin (10/8/2026) Pelepasan kontingen dilakukan di Balai Kota Sawahlunto dan dipimpin langsung

Riswan Idris, Rafles
Sektor Pertanian Jawa Tengah Akan Semakin Berdaya Dengan Penerapan Teknologi PATS

Sektor Pertanian Jawa Tengah Akan Semakin Berdaya Dengan Penerapan Teknologi PATS

Semarang-Spektroom: Dunia pertanian Jawa Tengah semakin menggeliat dengan ditetapkannya teknologi Pompa Air Tenaga Surya (PATS) Teknologi berbasis energi baru terbarukan tersebut dikembangkan melalui program Benteng Pangan Jawa Tengah sebagai upaya mendukung pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meninjau langsung pemanfaatan pompa air tenaga surya (PATS)

Sigit Budi Riyanto, Bian Pamungkas