Lulus 3,5 Tahun, Masrul Buktikan Mahasiswa Aktif Tak Harus Korbankan Akademik
Palangka Raya-Spektroom: Di saat banyak mahasiswa memilih mengerem aktivitas demi menjaga IPK, Masrul Maulana Pratama justru menempuh jalur sebaliknya.
Lulusan Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Palangka Raya ini menuntaskan studi hanya dalam 3,5 tahun dengan predikat cumlaude, dalam prosesi Wisuda S1 dan Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya, Kamis, (30/04/2026).
Luar biasa, menurut pengakuannya Masrul tak ingin mengurangi intensitasnya di berbagai aktivitas organisasi, sosial, hingga forum ilmiah.
Bagi Masrul, kampus bukan satu-satunya ruang belajar. Ia menjadikan organisasi, pembinaan pelajar, hingga forum nasional dan internasional sebagai “laboratorium hidup” untuk menguji teori yang diperoleh di kelas.
“Kalau hanya berhenti di kelas, kita hanya tahu konsep. Tapi ketika turun langsung, kita belajar bagaimana ilmu itu bekerja,” ujarnya.
Lahir di Desa Garantung, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, pada 15 Maret 2004, Masrul tumbuh dalam lingkungan sederhana. Dari sana, ia membangun cara pandang bahwa pendidikan bukan sekadar prestasi pribadi, tapi alat untuk memberi manfaat.
Selama kuliah, aktif dalam pembinaan generasi muda, diskusi ilmiah, kegiatan dakwah, hingga menjadi narasumber di berbagai forum edukatif. Ia juga terlibat dalam konferensi nasional dan internasional serta ambil bagian dalam ajang MTQ Nasional.
Menariknya, padatnya aktivitas tidak membuat akademiknya goyah. Kuncinya bukan pada banyak atau sedikitnya kegiatan, tapi bagaimana menempatkan prioritas.
“Bukan soal sibuk atau tidak, tapi soal arah. Kalau kita tahu tujuan, waktu akan menyesuaikan,” katanya lugas.
Masrul menolak anggapan klasik bahwa mahasiswa harus memilih antara akademik atau organisasi. Menurutnya, keduanya justru saling menguatkan jika dijalankan dengan disiplin dan kesadaran.
“Organisasi bukan penghambat kuliah, justru bisa jadi ruang belajar yang tidak kita dapatkan di kelas,” tegasnya.

Prinsip khairunnas anfa’uhum linnas sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat menjadi pegangan utamanya. Ia memastikan setiap aktivitasnya punya dampak, bukan sekadar menambah daftar pengalaman.
Kisah Masrul memberi pesan sederhana tapi sering diabaikan: waktu selalu cukup untuk yang mau dan tahu arah. Produktif bukan soal punya waktu luang, tapi soal kemampuan mengatur prioritas dan konsisten dari beberapa kegiatan untuk dijalaninya.
Di masa kecenderungan generasi muda yang mudah terdistraksi, profil ini jadi pengingat kuliah bisa juga cepat, walau tetap aktif juga bisa. Asal tahu mana yang penting, runtutan, dan tidak sekadar sibuk tanpa tujuan yang menguras waktu. (Polin)