Lulusan SMP Di Solo Hanya Terserap 60 Persen Di Penerimaan SMA Dan SMK Negri.
Solo - Spektroom : Para orang tua wali murid lulusan SMP di Solo diminta untuk berpikir realistis tidak memaksakan anak harus masuk sekolah negri.
Jumlah kelulusan di Tingkat SMP di Surakarta dikhawatirkan tidak akan tertampung di jenjang diatasnya, mengingat kuota penerimaan tahun ajaran 2026/2027 baik di jenjang SMA dan SMK di masih sama seperti tahun lalu.
Kekhawatiran muncul dikarenakan terjadi kesenjangan antara tinggi kelulusan siswa SMP dibanding ketersediaan Sekolah SMA dan SMK Negri di Solo maupun wilayah yang berdekatan yakni kabupaten Sukoharjo yang diproyeksikan hanya menyerap 60 persen.
Dikonfirmasi ( Kamis, 21/05/2026 ) Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah, Agung Wijayanto, mengaku kuota penerimaan di Kota Solo tahun ajaran baru 2026/2027 tidak mengalami penambahan tercatat kuota SMA Negeri sebanyak 3.276 kursi dan SMK Negeri 5.092 kursi, sedang jumlah lulusan SMP di Solo tahun ini menembus angka 10.119 siswa.
Dari sisi Kemampuan sekolah negeri untuk menampung lulusan SMP Di Solo sebenarnya masih cukup tinggi, berada di kisaran 80 persen. Sisanya bisa terserap di sekolah swasta,tetapi persentase daya tampung tersebut langsung menyusut drastis ketika digabungkan dengan data dari Kabupaten Sukoharjo.
" Wilayah tersebut memiliki 10.420 lulusan SMP, sedangkan ketersediaan kuota SMA Negeri hanya berjumlah 3.348 kursi dan SMK Negeri 2.808 kursi, sehingga rasio kemampuan serap sekolah negeri anjlok di angka 60-an persen" Jelas Agung
Penyusutan persentase daya tampung juga dipengaruhi melonjaknya jumlah lulusan SMP secara umum di Jawa Tengah dibandingkan tahun sebelumnya, serta asumsi lulusan Madrasah Tsanawiyah akan linear melanjutkan ke Madrasah Aliyah.
Selain itu, tingginya minat calon siswa dari perbatasan Sukoharjo untuk mendaftar ke sekolah negeri di Kota Solo makin memperketat persaingan di jalur prestasi maupun zonasi.
Menghadapi keterbatasan daya tampung tersebut, pihak Cabang Dinas mengimbau para orang tua tidak memaksakan diri menembus sekolah negeri dan mulai menjadikan sekolah swasta sebagai alternatif utama kelanjutan studi.
"Sekolah swasta kita sudah cukup banyak yang siap menampung dan memberikan akses pendidikan yang tak kalah berkualitas," ucap Agung Wijayanto. (Dan)