Mahasiswa UMI Memandu Perwakilan MACEH Indonesia Praktek Kerja Aplikasi di Borong Loe Bulukumba
Bulukumba - Spektroom : Selama dua hari di rumah produksi MACEH Indonesia, Desa Borong Loe, Kabupaten Bulukumba, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia mendampingi mitra belajar mendeteksi penyakit tanaman merica lewat kamera ponsel dan kecerdasan buatan. Aroma merica kering masih menggantung di udara ketika rombongan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia tiba di rumah produksi MACEH Indonesia, Desa Borong Loe, Kabupaten Bulukumba, bukan membawa cangkul atau alat pengukur tanah, mereka datang membawa sesuatu lebih ringan namun tak kalah berdaya: sebuah aplikasi bernama SiMerica, hasil racikan riset yang siap diuji oleh tangan-tangan mitra sendiri.
Dalam Rilis yang diterima Rabu (22 /7/2026 ) disebutkan ,kegiatan ini digagas oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) Universitas Muslim Indonesia (UMI), diketuai Zaskia Nurfadillah Rachmat bersama tiga rekannya, Anisa Novria Kartika, Dea Ariyanti, dan Nayla Amalya. Di bawah bimbingan Lilis Nur Hayati, S.Kom., M.Eng., MTA, tim ini merancang dua rangkaian kegiatan bagi mitra . MACEH Indonesia. Pelatihan penggunaan aplikasi dilanjutkan sesi evaluasi .
Rangkaian ini menjadi bagian penting dari implementasi program PKM-PI, sejak awal bertujuan mempercepat dan mempertajam deteksi penyakit tanaman merica melalui teknologi.
Pada hari pertama, suasana rumah produksi yang biasanya dipenuhi aroma rempah berubah menjadi ruang belajar. Peserta diajak langsung mempraktikkan setiap tahapan penggunaan aplikasi: mulai dari cara mengambil gambar daun merica yang tepat, mengunggahnya ke sistem, hingga menafsirkan hasil identifikasi penyakit lengkap dengan rekomendasi penanganannya.
Pendekatan belajar sambil praktik ini sengaja dipilih agar mitra tidak hanya memahami cara kerja aplikasi, tetapi benar-benar percaya diri mengoperasikannya sendiri saat memantau kebun di lapangan.
“Bukan tentang menggantikan insting petani, tetapi memberi mereka mata kedua yang bekerja lebih cepat dan lebih presisi.”katanya.
Di balik antarmuka yang sederhana, SiMerica dibangun di atas fondasi kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengenali gejala dini penyakit pada tanaman merica. Sistem SiMerica tidak berhenti pada diagnosis semata ia juga menyajikan informasi jenis penyakit terdeteksi serta langkah penanganan relevan, sehingga pengguna dapat segera menentukan tindakan tepat tanpa harus menunggu diagnosis manual yang memakan waktu.
Rangkaian kegiatan berlanjut ke tahap evaluasi. Di tempat yang sama, mitra dan tim mahasiswa duduk bersama meninjau kembali pengalaman sehari sebelumnya: fitur mana yang terasa mudah, langkah mana yang masih membingungkan, serta kendala teknis yang mungkin muncul saat aplikasi benar-benar dipakai di tengah kondisi nyata perkebunan. Diskusi dua arah ini menjadi masukan berharga bagi tim pengembang untuk terus menyempurnakan SiMerica ke depannya.
Harapan yang digantungkan pada rangkaian kegiatan dua hari ini pun tidak kecil. Tim PKM-PI Universitas Muslim Indonesia ingin agar SiMerica tidak berhenti sebagai proyek akademik di atas kertas, melainkan benar-benar dimanfaatkan secara optimal oleh . MACEH Indonesia sebagai bagian dari keseharian mengelola kebun di Desa Borong Loe.
Jika deteksi dini penyakit tanaman dapat dilakukan lebih cepat dan lebih akurat, pengelolaan budidaya merica pun berpeluang berjalan lebih efektif dan berkelanjutan menjadikan teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan mitra kerja baru bagi petani di lahan.