Maknai Hari Buruh, Kakanwil Kemenag Kalteng Tekankan Kerja sebagai Jalan Ibadah
Palangka Raya-Spektroom : Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026 dimaknai berbeda oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, HM Yusi Abdhian. Ia mengajak para pekerja melihat kerja bukan sekadar rutinitas ekonomi, melainkan bagian dari ibadah yang sarat nilai spiritual dan tanggung jawab moral.
Menurutnya, dalam syari'ah Islam menempatkan kerja pada posisi yang mulia. Bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga bentuk pengabdian kepada Allah SWT yang bernilai pahala jika dilakukan dengan niat tulus dan cara yang halal.
“Kerja dalam Islam bukan sekadar aktivitas duniawi. Di balik setiap usaha, ada nilai ibadah yang menentukan keberkahan hidup,” ujarnya di Palangka Raya, Jumat (1/5/2026).
Ia menyebutkan firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 105 sebagai pengingat bahwa setiap amal akan dilihat dan dipertanggungjawabkan. Karena itu, setiap profesi apa pun bentuknya memiliki nilai jika dijalankan dengan integritas.
Sementara itu, dalam ajaran Kristen/Katolik, bekerja merupakan mandat ilahi bagi manusia untuk mengelola dan memelihara ciptaan Tuhan. Bekerja juga dipandang sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan serta sarana untuk hidup mandiri dan membantu sesama.
Dalam ajaran Hindu, bekerja berkaitan erat dengan konsep Dharma dan Karma Yoga, yakni menjalankan kewajiban dengan penuh keikhlasan tanpa terikat pada hasil, serta dilakukan dengan kejujuran dan tanggung jawab sosial.
Ajaran Buddha menekankan pentingnya Mata Pencaharian Benar (Samma Ajiva), yaitu pekerjaan yang tidak merugikan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan, serta dijalankan dengan ketekunan dan kesadaran.
Adapun dalam ajaran Konghucu, bekerja merupakan bagian dari upaya mengaktualisasikan diri sebagai manusia berbudi luhur (Junzi), dengan menekankan nilai tanggung jawab, kemandirian, serta etika yang berlandaskan cinta kasih dan kebenaran.
Lebih lanjut, Yusi mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, dunia usaha, maupun pekerja, untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi.
"Momentum Hari Buruh ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus membangun hubungan industrial yang harmonis, adil, dan berkelanjutan, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan kemanusiaan,” pungkasnya.
Di tengah dinamika kehidupan modern, ia menilai semangat produktivitas perlu terus dijaga. Tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan secara halal. Semua profesi, dari buruh, petani, swasta hingga pegawai, punya peran dalam membangun masyarakat dan kehidupan selanjutannya.
“Ukuran kemuliaan bukan jenis pekerjaannya, tapi bagaimana cara kita menjalaninya,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar umat menjauhi sikap malas dan tidak menyia-nyiakan waktu. Kerja keras harus dibarengi doa dan keikhlasan, agar hasilnya tidak hanya terasa di dunia, tapi juga bernilai di akhirat.
Menutup pesannya, HM Yusi Abdhian menegaskan bahwa inti dari kerja dalam Islam adalah keseimbangan antara usaha dan nilai kemanusiaan. Produktif, jujur, dan peduli itu tiga hal yang, kalau dijalankan konsisten, bukan cuma bikin hidup layak, tapi punyapunya makna bermanfaat. (Polin-Maturidi)