Mata Air Posko 5 Kering, Pendaki Gunung Slamet Harus Bawa Bekal Air

Mata Air Posko 5 Kering, Pendaki Gunung Slamet Harus Bawa Bekal Air
Untuk memenuhi air bersih untuk pendakian, posko pendakian Gunung Slamet Via Bambangan Purbalingga menyiapkan setiap hari menyiapkan 2-3 tangki air bersih. (Foto : Bian Pamungkas).

Purbalingga-Spektroom : Musim kemarau yang berkepanjangan mulai berdampak pada ketersediaan air di kawasan Gunung Slamet.

Salah satu mata air yang selama ini menjadi andalan para pendaki di Posko 5 jalur pendakian Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, kini mengering dan tidak lagi mengeluarkan air.

Kondisi tersebut membuat pengelola posko pendakian harus mendatangkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan para pendaki, terutama menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di puncak Gunung Slamet.

Ketua Posko Pendakian Gunung Slamet jalur Bambangan, Saiful, mengatakan kebutuhan air bersih di base camp mencapai dua hingga tiga tangki setiap hari. Masing-masing tangki berkapasitas 5.000 liter.

“Air bersih dibeli dari wilayah Karangsari, Kabupaten Pemalang, karena lokasinya cukup dekat dan kualitas airnya bagus. Harganya Rp450 ribu per tangki,” kata Saiful kepada Spektroom.

Menanti dropping air bersih Puluhan jerigen untuk memenuhi kebutuhan warga dan pendaki di dukuh Bambangan desa Kutabawa Purbalingga Minggu (16/8/2026).Foto : Bian

Menurutnya, setiap pendaki setidaknya membutuhkan sekitar lima liter air selama melakukan pendakian. Selama ini, sebagian kebutuhan tersebut biasanya dipenuhi dari mata air di Posko 5.

Namun, karena mata air tersebut mengering, para pendaki kini diimbau membawa persediaan air yang cukup sejak dari base camp.

Kebutuhan air meningkat seiring melonjaknya jumlah pendaki yang memilih Gunung Slamet sebagai lokasi memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Pada Sabtu (15/8/2026), tercatat 934 pendaki melakukan pendakian melalui jalur Bambangan. Sementara pada Minggu (16/8/2026), jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 1.200 pendaki.

Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan Agustus 2025 yang hanya berada di kisaran 700 pendaki.

Para pendaki datang dari berbagai daerah di Indonesia. Sekitar 60 persen di antaranya berasal dari Jakarta dan Jawa Barat, sedangkan lainnya berasal dari sejumlah daerah seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, Temanggung hingga Jawa Timur.

Kedatangan ribuan pendaki ini merubah desa terakhir di kaki gunung Slamet bagaimana kita besar yang dipadati puluhan bus, kendaraan mini bus maupun kendaraan pribadi lainnya.

Selain mengantisipasi kebutuhan air dan kondisi kesehatan pendaki dengan menyiapkan peralatan medis, pengelola posko juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan selama musim kemarau.

Saiful mengatakan, setiap ketua regu pendaki telah diberi sosialisasi agar mengingatkan anggotanya untuk tidak menyalakan api selama berada di kawasan hutan Gunung Slamet.

“Para ketua tim atau regu kami minta ikut mengingatkan anggotanya agar tidak menyalakan api. Ini untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan karena kondisi sekarang sangat kering,” pungkasnya..

Berita terkait

Sambut HUT RI Ke 81 Polwan Polda Maluku dan Jemaat GPM Soya,  Sosialisasi Perkuat Literasi Digital

Sambut HUT RI Ke 81 Polwan Polda Maluku dan Jemaat GPM Soya, Sosialisasi Perkuat Literasi Digital

Ambon - Spektroom: Menyongsong peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat mengisi kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dengan mempersiapkan generasi muda yang tangguh menghadapi tantangan zaman, termasuk ancaman di ruang digital. Semangat tersebut diwujudkan Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi dan Nasional (HBGN) Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat

Eva Moenandar, Anggoro AP