Mediamorfosis : Transformasi Media Akibat Interaksi Rumit, Antara Kebutuhan Masyarakat dan Inovasi Teknologi
Jakarta Selatan - Spektroom: Seperti diketahui bahwa media saat ini menghadapi tantangan yang luar biasa karena harus bermetamorfosa atau tepatnya Mediamorfosis, adalah transformasi media karena adanya berbagai perubahan, khususnya perubahan teknologi digital.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Organisasi Dewan Pers, Rosarita Niken Widiastuti pada Pembekalan Jurnalis Spektroom.co.id secara virtual, Senin (27/4/2026).
Menurut Niken diera digital ini metamorfosa tersebut mengubah cara menyajikan informasi konsumsi dan distribusi secara fundamental. Saat ini media tidak statis dalam satu platform, tidak murni digital saja tetapi sudah multi-flexing.
"Untuk itulah jurnalis Spektroom harus beradaptasi dan dibarengi juga dengan keaktifan di media sosial, yang pada gilirannya website akan menjadi media terpercaya karena masyarakat setiap hari disuguhi materi-materi yang belum tentu benar di media sosial, baik itu hoax, ujaran kebencian, fitnah, bahkan informasi provokatif" rinci Direktur Utama LPP RRI 2010-2015 ini.
Niken Widiastuti menambahkan dahsyatnya penyampaian informasi dimedsos, merupakan tantangan besar bagi masyarakat dan Spektroom diharapkan bisa menjadi penyaring dari informasi-informasi yang berseliweran di media sosial yang belum tentu diketahui kebenarannya.
"Kalau media tidak mempunyai nilai tambah, dia tidak akan dilirik oleh masyarakat" tandasnya lagi.
R.Niken Widiastuti melanjutkan, sepanjang kontennya tidak diminati oleh masyarakat niscaya lama kelamaan akan ditinggalkan, padahal Spektroom adalah media yang baru saja berdiri.
"Masih baru (Spektroom: red) jadi jangan sampai Spektroom itu tumbuh kemudian layu. Nah ini yang jangan sampai terjadi. Spektroom harus optimis, di tengah situasi media yang saat ini luar biasa tantangannya.
Media-media besar, baik itu media mainstream maupun media konvensional seperti radio, televisi, atau media cetak, banyak yang harus mem PHK Jurnalisnya, tidak hanya ratusan tapi ribuan" terang dia lagi.
Oleh karenanya media tersebut juga berusaha untuk meningkatkan kualitas kontennya sebagai upaya untuk meningkatkan income-nya. Namun di era digital seperti sekarang ini perusahaan swasta maupun pemerintah lebih memilih beriklan di platform digital bukan di media massa, seperti di platform TikTok, Facebook, Instagram dengan memanfaatkan influencer.
"Nah disinilah Iklan yang tadinya berseliweran dimedia mainstream akhirnya tergerus dan pindah ke platform digital" pungkasnya.(@Ng).