Membaca Ulang Revolusi Iran Relevan bagi Indonesia

Revolusi Iran dari Tumbangnya Shah Iran hingga Perang Melawan Amerika Serikat-Israel

Membaca Ulang Revolusi Iran Relevan bagi Indonesia
Penulis buku Revolusi Iran dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan Amerika Serikat-Israel, Dr. Nasir Tamara (kiri di Podium ). (Foto Spektroom, Afrizal )

Jakarta - Spektroom : Dunia termasuk Indonesia telah merasakan akibat konflik antara Amerika-Israel dengan Iran. Pertamina telah menaikkan harga BBM nonsubsidi (Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex) per 18 April 2026, akibat gejolak harga minyak dunia. Kenaikan signifikan berkisar Rp 6.300 - Rp 9.400 per liter, sementara Pertamax dan Pertalite tetap. Kebijakan ini mengikuti mekanisme pasar yang berpotensi penyesuaian lanjutan.

"Hari ini, mulai 2 hari yang lalu, ibu-ibu harga minyak, harga gula sudah naik, harga gas sudah naik, harga segala macam itu mempengaruhi. Inflasi akan terjadi di seluruh dunia. Di Indonesia juga terasa. Ongkos transportasi, harga plastik, semua itu sudah naik. Jadi dampaknya ini sekarang ini belum full, tapi kalau misalnya minyak naik sampai 150 dolar per barel ya, Indonesia akan kesulitan sekali. Dunia akan kesulitan sama sekali," kata Nasir Tamara kepada Spektroom, ketika Diskusi Buku "Revolusi Iran Dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan Amerika Serikat", di Pusat Riset Politik BRIN di Jakarta, Selasa (21/04/2026).

Nasir Tamara, mengatakan terjadi perubahan-perubahan aliansi-aliansi geopolitik global. Misalnya aliansi NATO, aliansi Atlantik Utara berubah sekarang. Amerika Serikat memisahkan diri, NATO sendiri membangkang untuk ikut perintahnya Amerika Serikat. Jadi aliansi-aliansi baru ini terjadi di kalangan Barat tapi juga di bisa di kalangan misalnya superpower lain seperti Tiongkok dan Rusia dan Iran.

Petanya sekarang ada 4 negara kuat : Amerika, Rusia, Tiongkok, Iran. Iran sudah masuk di situ sekarang, tanpa pernah dibayangkan bahwa Iran bisa menjadi sebuah 4 besar. Dan juga BOP apakah BOP ini akan bertahan, itu juga pertanyaan. Apakah Abraham Accords yang dibikin Amerika Serikat itu bisa bertahan gitu kan? Apakah akan ada blok-blok baru? Ini sedang terjadi dan begitu cepat."

Sanksi terhadap Iran adalah bagian dari strategi geopolitik global yang bertujuan untuk mempertahankan dominasi atas sumber energi dan jalur perdagangan dunia. Sejak nasionalisasi minyak Iran pada awal 1950-an, Iran telah menjadi target intervensi sistematis.

Kudeta terhadap Mohammad Mossadegh pada tahun 1953 (Perdana Menteri Iran pada 1951-1953) adalah rangkaian panjang dominasi asing yang memuncak dalam Revolusi 1979. Dalam konteks ini Konflik Iran terhadap Israel-Amerika sebagai pertarungan atas kedaulatan energi dan kontrol geopolitik.

Standar ganda dalam isu nuklir semakin memperlihatkan ketimpangan sistem Internasinol. Iran ditekan dan diancam karena program nuklirnya, sementara negara lain yang memiliki senjata nuklir, termasuk sekutu dekat Amerika dibiarkan. Hukum Internasional menjadi instrumen selektif, tunduk pada relasi kuasa, bukan pada prinsip keadilan.

Foto bersama penulis buku (nomor 6 dari kiri), Dian Wirengjurit (nomo 3 dari kiri Duta Besar RI untuk Iran merangkap Turkmenistan pada periode 2012–2016.

Kasus Venezuela menyingkap dengan telanjang logika imperialisme kotemporer. Dibalik retorika perang melawan narkotika dan otoritarianisme, tersembunyi kepentingan strategis menguasai cadangan minyak terbesar di dunia. Tidak lama setelah penangkapan Nicolas Maduro, Amerika Serikat secara terbuka menyatakan niat membuka kembali sektor energi Venezuela bagi perusahaan minyak Amerika Serikat.

Membaca ulang Revolusi Iran menjadi relevan bagi Indonesia. Revolusi itu mengingatkan dominasi asing, ketimpangan global dan militerisasi politik selalu berkelindan dengan krisis demokrasi dan penderitaan rakyat.

Apakah dunia akan tetap berdiri pada prinsip keadilan global dan kedaulatan bangsa, ataukah dunia akan tergelincir menjadi bagian dari logika imperium?

Dr. Nasir Tamara, satu-satu wartawan Indonesia dari surat kabar Sinar Harapan yang ikut dalam penerbangan bersejarah, jam 21.00 Rabu malam 31 Januari 1979, Ayatollah Ruhullah Khomeni, pembantu dan pengikutnya, termasuk 150 wartawan yang ikut bersama pemimpin Syi'ah, pulang ke negerinya dari pengasingan di Prancis, menggunakan pesawat Boeing 747 Air France dari Bandara Charles de Gaulle, Paris yang disebut sebagai "penerbangan revolusi".

Berita terkait

Pemerintah Percepat Pemulihan Lahan Terdampak Bencana dan Antisipasi Kekeringan Melalui Gerakan Tanam Serempak 50 Ribu Hektare

Pemerintah Percepat Pemulihan Lahan Terdampak Bencana dan Antisipasi Kekeringan Melalui Gerakan Tanam Serempak 50 Ribu Hektare

Agam-Spektroom : Pemerintah mempercepat pemulihan lahan pertanian terdampak bencana sekaligus mengantisipasi potensi kekeringan melalui Gerakan Tanam Serempak 50.000 hektare yang dilaksanakan di berbagai daerah secara nasional, termasuk di Sumatera Barat (Sumbar). Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah ikut turun langsung menanam padi dalam kegiatan tanam serempak 50.000 hektare di Sumbar yang

Rafles
Bupati Rinto Wardana Siapkan Bonus Rp50 Juta Untuk Atlet Mentawai Peraih Emas Porprov Sumbar 2026

Bupati Rinto Wardana Siapkan Bonus Rp50 Juta Untuk Atlet Mentawai Peraih Emas Porprov Sumbar 2026

Mentawai-Spektroom : Komitmen besar Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam mendorong prestasi olahraga kian tak terbantahkan. Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, menyiapkan bonus fantastis sebesar Rp50 juta khusus bagi atlet Mentawai yang berhasil meraih medali emas pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026. Pernyataan tegas tersebut disampaikan dalam suasana santai namun

Rafles