Mendaki Slamet demi Merah Putih, 1.200 Pendaki Padati Jalur Bambangan

Mendaki Slamet demi Merah Putih, 1.200 Pendaki Padati Jalur Bambangan
Disamping gerbang ini seluruh pendaki wajib registrasi keposko pendakian Jalur Bambangan. Sebelum dan sesudah naik. (Foto : Bian Pamungkas).

Purbalingga-Spektroom : Ada banyak cara masyarakat Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Ada yang mengikuti upacara di sekolah, halaman rumah, bahkan di dalam perairan.

Namun bagi para pecinta alam, kemerdekaan dirayakan dengan cara yang berbeda: menapaki jalur terjal menuju puncak Gunung Slamet.

Sejak Sabtu (15/8/2026), ratusan pendaki dari berbagai daerah berdatangan ke Posko Pendakian Gunung Slamet via Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Mereka membawa satu tujuan, menikmati suasana kemerdekaan dari ketinggian sambil mengibarkan Merah Putih.

Ketua Posko Pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Saiful, mengatakan jumlah pendaki tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan.
“Hari Sabtu tercatat 934 pendaki. Sedangkan Minggu (16/8/2026) sampai pukul 12.00 sudah mencapai 1.010 pendaki dan kemungkinan masih terus bertambah,” kata Saiful kepada Spektroom.co.id di Basecamp Bambangan,

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 700 pendaki.

Lonjakan jumlah pendaki membuat pengelola harus meningkatkan kewaspadaan. Selain keselamatan dan keamanan, ancaman kebakaran hutan di tengah musim kemarau serta ketersediaan air bersih menjadi perhatian.

Untuk mengantisipasi kepadatan, posko berencana membatasi jumlah pendaki yang diberangkatkan pada Minggu (16/8/2026) hingga maksimal 1.200 orang.

934 Pendaki yang telah berangkat pada Sabtu diharapkan sudah turun pada Minggu sehingga menimbulkan kepadatan.

“Pembatasan ini untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa terjadi dan memberikan rasa nyaman bagi pendaki,” ujarnya.

Kepadatan jalur pendakian ternyata bukan hanya terasa di basecamp.

Ibra, pemuda asal Temanggung yang mendaki bersama tiga temannya, saat ditemui dalam perjalanan turun gunung, mengaku harus menghadapi tantangan lain saat berada di atas.

Menurutnya, cuaca cukup bersahabat untuk melakukan pendakian. Namun, banyaknya pendaki membuat mereka kesulitan mencari tempat untuk mendirikan tenda.

“Lokasi sudah dipadati tenda pendaki mulai Pos 5 hingga Pos 7. Kami sampai tidur sambil duduk sebelum pukul 00.00 berangkat untuk summit,” tutur Ibra sembari menunjukkan foto mereka saat berada di puncak Gunung Slamet.

Ibra dan ketiga temannya dari Temanggung merasa lega bisa sampai dipuncak gunung Slamet Minggu (16/8/2926). Foto : Ibra


Rasa lelah dan minimnya ruang beristirahat seolah terbayar ketika mereka berhasil mencapai puncak dan menyaksikan langsung suasana Gunung Slamet menjelang peringatan kemerdekaan.

Bagi mereka, perjalanan panjang dan dinginnya malam menjadi bagian dari pengalaman merayakan kemerdekaan dengan cara yang tak biasa.

Untuk menjaga keamanan para pendaki, tim SAR Posko Bambangan juga menambah personel. Koordinator Lapangan SAR Posko Bambangan, Tohani, mengatakan sebanyak 28 personel diterjunkan dan dibantu relawan dari warga setempat.

Mereka disiagakan di empat titik untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan selama padatnya aktivitas pendakian.

Salah satu perhatian utama adalah potensi kebakaran hutan. Pendaki diimbau tidak menyalakan api selama berada di kawasan gunung.

“Kami mengawasi dan melarang pendaki menyalakan api karena musim kemarau sangat rawan terjadi kebakaran,” kata Tohani.

Sementara itu, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di puncak Gunung Slamet tahun 2026, akan diisi dengan pengibaran bendera Merah Putih sepanjang 81 meter serta pelaksanaan upacara bendera.

Di tengah dinginnya udara dan beratnya medan, Merah Putih akan kembali berkibar di puncak Slamet. Bagi para pendaki, kemerdekaan bukan sekadar diperingati, tetapi juga ditempuh dengan langkah demi langkah menuju puncak.

Berita terkait