Mendorong Langkah Konkrit Empati Terhadap Bencana Karhutla Kalbar

Mendorong Langkah Konkrit Empati Terhadap Bencana Karhutla Kalbar
Nidia Candra Praktisi Hukum Kalimantan Barat. (Foto: Apolo/Spektroom)

Pontianak-Spektroom : Asap pekat yang menyelimuti langit Kalimantan Barat selama berminggu-minggu bukan lagi sekadar persoalan daerah.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai kabupaten dan kota di provinsi ini telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, keselamatan lingkungan, dan masa depan ekosistem yang selama ini menjadi salah satu penyangga kehidupan dunia.

Di tengah perjuangan panjang ribuan personel pemadam di lapangan, muncul pertanyaan yang semakin nyaring terdengar:
sampai kapan beban penanganan karhutla hanya dipikul oleh petugas di garis depan?

Praktisi hukum Kalimantan Barat, Nidia Candra menilai, bencana karhutla harus dipandang sebagai bencana bersama yang menuntut keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk para pejabat publik dan pelaku usaha yang selama ini menikmati manfaat ekonomi dari sumber daya alam di daerah tersebut.

“Karhutla bukan hanya urusan pemerintah dan petugas pemadam. Ini adalah persoalan kemanusiaan. Karena itu diperlukan empati yang diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan,” ujarnya.

Menurut Nidia, para anggota DPR RI, DPRD provinsi maupun kabupaten/kota, serta kalangan pengusaha perlu menunjukkan kepedulian konkret kepada para petugas yang telah berjuang tanpa henti selama lebih dari satu bulan menghadapi kobaran api di berbagai titik kebakaran.

Bentuk dukungan yang dimaksud tidak harus selalu besar. Bantuan berupa makanan siap saji, air mineral, vitamin, obat-obatan, masker, hingga perlengkapan pendukung operasional pemadaman dinilai sangat berarti bagi personel yang setiap hari berjibaku di tengah panas, asap, dan risiko kesehatan yang tinggi.

Di lapangan, petugas Manggala Agni, Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, TNI, Polri, BPBD, relawan pemadam kebakaran hingga masyarakat setempat menjadi garda terdepan dalam perang melawan api.

Mereka bekerja dalam kondisi yang tidak mudah, bahkan kerap menghadapi keterbatasan logistik dan medan yang berat.

Ironisnya, perhatian publik sering kali hanya muncul ketika asap mulai mengganggu aktivitas perkotaan atau ketika kualitas udara mencapai level berbahaya.

Padahal perjuangan para petugas berlangsung jauh sebelum bencana menjadi sorotan nasional.

Kalimantan Barat memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Hamparan hutan tropis dan kawasan gambutnya berfungsi menyerap karbon, menjaga stabilitas iklim, serta menjadi habitat ribuan spesies flora dan fauna.

Ketika kawasan ini terbakar, dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat lokal, tetapi juga berkontribusi pada krisis lingkungan yang lebih luas.

Karena itu, menurut Nidia, saatnya empati diterjemahkan menjadi aksi.

Kehadiran para pejabat, legislator, dan pelaku usaha di lokasi-lokasi terdampak dengan membawa bantuan nyata akan menjadi simbol bahwa perang melawan karhutla adalah tanggung jawab bersama.

“Jangan biarkan petugas berjuang sendirian. Mereka membutuhkan dukungan moral dan material. Di saat Kalbar terbakar, yang dibutuhkan bukan hanya simpati, tetapi solidaritas yang nyata,” tegasnya.

Di tengah musim kemarau yang belum menunjukkan tanda berakhir, seruan tersebut menjadi pengingat bahwa melawan karhutla tidak cukup dengan kata-kata. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberpihakan yang bisa dirasakan langsung oleh mereka yang berada di garis api.

Berita terkait

129 Tim dari 52 Kampus Siap Berkompetisi Pada Ajang Kontes Kapal Indonesia: Bupati Bengkalis Apresiasi Kemdiktisaintek

129 Tim dari 52 Kampus Siap Berkompetisi Pada Ajang Kontes Kapal Indonesia: Bupati Bengkalis Apresiasi Kemdiktisaintek

Bengkalis-Spektroom: Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni secara resmi membuka Kontes Kapal Indonesia (KKI) Tahun 2026 di Lapangan Tugu Bengkalis, Senin (14/9/2026). Kegiatan nasional tersebut diikuti 52 perguruan tinggi se-Indonesia yang terdiri dari 7 politeknik, 5 institut dan 40 universitas dengan total 129 tim. Dalam sambutannya, Bupati Kasmarni menyampaikan apresiasi

Salman Nurmin, Rafles