Mengenang Sembilan Perancang Lambang Kota Pontianak yang Kini Tinggal Jejak

Mengenang Sembilan Perancang Lambang Kota Pontianak yang Kini Tinggal Jejak
Walikota Pontianak Ir H Edi Rusdi Kamtono MM MT bersama H Boy Mirza Noor SH putera Almarhum HA Achmad Noor salah seorang Warga Kota Terhormat yang merancang lambang Kota Pontianak.Foto: Dok Pribadi.

Pontianak - Spektroom : Tidak banyak yang mengetahui bahwa lambang Kota Pontianak yang kini terpampang di berbagai kantor pemerintahan, dokumen resmi, hingga ruang publik, lahir dari sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Hanya satu bulan.

Di balik simbol yang telah menjadi identitas Kota Khatulistiwa selama puluhan tahun itu, terdapat kisah sembilan putra terbaik Pontianak yang bekerja merancang lambang daerah pada akhir dekade 1950-an. Hasil karya mereka kemudian menjadi bagian penting dari sejarah kota dan tetap digunakan hingga sekarang.

Lambang kota Pontianak yg di rancang oleh 9 putra terbaik pontianak . Foto: Dok Pribadi.

Sebelum terbentuknya DPR Daerah Swapraja Tingkat I Kalimantan Barat pada 1957, Kota Pontianak lebih dahulu memiliki DPRD Peralihan Tingkat II Kotapraja Pontianak yang dibentuk pada 16 September 1956. Saat itu, Radja Mohamad Siddiq menjabat Ketua DPRD Peralihan dengan Djafar Idris sebagai wakil ketua. Keduanya berasal dari Fraksi Masyumi. Sementara jabatan Wali Kota Pontianak diemban A. Moeis Amin.

Memasuki 1959, DPRD Kotapraja Pontianak menilai kota membutuhkan identitas resmi yang merepresentasikan karakter dan jati dirinya. Melalui Surat Keputusan Nomor 5/Kpts/DPRD/1959 tertanggal 17 Februari 1959, dibentuklah Panitia Lambang Kotapraja Pontianak.

Panitia tersebut dipimpin Mohamad Arief Satok sebagai ketua dan Ronald Harun Rasjid sebagai wakil ketua. Mereka didampingi Imlhas Dyzs dan Abang Achmad Noor sebagai sekretaris, serta sejumlah anggota lain, yakni Sjarief Osman Alkadrie, Mohamad Noor atau Guru Nong, Munzirin AS, Abdurahman On, dan M. Saleh H. Thalib.

Tugas yang diberikan tidak ringan. Mereka harus merumuskan lambang yang mampu mewakili sejarah, budaya, dan cita-cita masyarakat Pontianak. Yang menarik, seluruh pekerjaan itu harus diselesaikan hanya dalam kurun waktu satu bulan.

Meski waktu yang tersedia sangat terbatas, tim berhasil menuntaskan rancangan tersebut. Hasil kerja mereka kemudian dipaparkan oleh Abang Achmad Noor dalam Sidang Pleno DPRD Kotapraja Pontianak pada April 1960.

Karya itu mendapat apresiasi tinggi dari DPRD. Pada 4 Juli 1960, melalui Keputusan DPRD Kotapraja Pontianak Nomor 003/Kpts/DPRD/1960, sembilan anggota panitia perancang lambang dianugerahi status Warga Kota Terhormat (WKT).

Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk pengakuan atas jerih payah, gagasan, dan sumbangsih mereka dalam menghadirkan lambang resmi yang dinilai penting bagi Pemerintah Daerah Kotapraja Pontianak.

Dalam keputusan yang ditandatangani Ketua DPRD Radja Mohamad Siddiq, lembaga tersebut menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas hasil karya yang telah melahirkan simbol resmi daerah.

Kini, seluruh anggota panitia perancang lambang Kota Pontianak telah wafat. Namun jejak pemikiran mereka tetap hidup. Setiap kali lambang Kota Pontianak terlihat, di sana tersimpan cerita tentang sembilan tokoh yang bekerja dalam keterbatasan waktu, tetapi berhasil menciptakan simbol yang mampu melampaui zaman.

Diadaptasi dari catatan sejarawan dan budayawan Kalimantan Barat, Syafaruddin DaEng Usman.

Berita terkait

Gelar Inovasi Perangkat Daerah 2026, Pemkot Surakarta Dorong Inovasi Jadi Budaya Birokrasi

Gelar Inovasi Perangkat Daerah 2026, Pemkot Surakarta Dorong Inovasi Jadi Budaya Birokrasi

Surakarta–Spektroom : Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta terus mendorong tumbuhnya budaya inovasi di lingkungan birokrasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kinerja pemerintahan. Komitmen tersebut ditegaskan melalui Gelar Inovasi Perangkat Daerah Kota Surakarta Tahun 2026 yang dibuka Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, Rabu (23/9/2026), di

Ciptati Handayani, Rafles
Pantau Layanan PAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, Ombudsman Kalsel Minta Perbanyak Tandon dan Tingkatkan Operasional Mobil Tangki

Pantau Layanan PAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, Ombudsman Kalsel Minta Perbanyak Tandon dan Tingkatkan Operasional Mobil Tangki

Banjarmasin-spektroom : Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Hadi Rahman dan jajaran berkunjung ke Kantor PT. Air Minum (PAM) Bandarmasih (Perseroda) dalam rangka koordinasi dan pemantauan layanan PAM Bandarmasih pada Selasa, (22/9/2026). Kunjungan tersebut langsung diterima Direktur Utama Zulbadi dan jajaran manajemen PAM Bandarmasih. Zulbadi menyampaikan terima

Junaidi, Rafles
Pemkab Dharmasraya Mulai Pengaspalan Jalan Pulau Punjung-Lubuk Bulang, Perkuat Akses Jalan Alternatif Menuju Timpeh

Pemkab Dharmasraya Mulai Pengaspalan Jalan Pulau Punjung-Lubuk Bulang, Perkuat Akses Jalan Alternatif Menuju Timpeh

Dharmasraya–Spektroom: Pemerintah Kabupaten Dharmasraya di bawah kepemimpinan Bupati Annisa Suci Ramadhani dan Wakil Bupati Leli Arni terus menggenjot pembangunan infrastruktur jalan sebagai upaya memperlancar mobilitas masyarakat dan memperkuat konektivitas antarwilayah. Salah satu ruas yang mulai ditangani adalah Jalan Pulau Punjung - Lubuk Bulang yang selama bertahun-tahun belum tersentuh perbaikan.

Riswan Idris, Rafles
Sekolah Lansia Pelangi Senja Wisuda 35 Lansia, Jadi Bukti Semangat Belajar Tak Mengenal Usia

Sekolah Lansia Pelangi Senja Wisuda 35 Lansia, Jadi Bukti Semangat Belajar Tak Mengenal Usia

Tidore-Spektroom : Sebanyak 35 siswa lanjut usia mengikuti prosesi wisuda Sekolah Lansia Pelangi Senja Kelurahan Gubukusuma Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Selasa (23/09/2026). Wisuda ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan semangat para lansia dalam menyelesaikan proses pembelajaran. Kegiatan wisuda berlangsung khidmat dan penuh keharuan. Para wisudawan yang

Nanang Adrany, Pelinus Latuheru