Menyambangi London, Kota Termahal di Dunia Yang Tak Pernah Kehabisan Pesona
Oleh: Syafaruddin Daeng Usman
Pontianak-Spektroom : Banyak orang menunda perjalanan karena menunggu teman yang tepat untuk diajak berpetualang. Namun, menunggu sering kali justru menjadi alasan mengapa sebuah impian tak pernah terwujud.
Karena itulah saya memutuskan berangkat sendiri ke London, kota yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota termahal di dunia.
Saya tiba dengan rasa penasaran yang besar. Benarkah London semahal yang dibicarakan orang?
Jawabannya, ya. Tetapi hanya sebagian.
Di balik reputasinya sebagai kota dengan biaya hidup tinggi, London menyimpan banyak kejutan yang dapat dinikmati tanpa menguras kantong.
Museum-museum kelas dunia, galeri seni ternama, hingga taman-taman bersejarah dapat dikunjungi secara gratis.
Kota ini seperti panggung raksasa yang memamerkan sejarah, budaya, dan kreativitas kepada siapa saja yang ingin menjelajahinya.
Sebagian besar destinasi di pusat kota dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki.
Sementara kawasan yang lebih jauh terhubung oleh jaringan transportasi yang nyaris sempurna, mulai dari bus tingkat merah yang menjadi ikon Inggris hingga kereta bawah tanah yang melayani ratusan stasiun setiap harinya.
Selain menikmati suasana di sepanjang Sungai Thames, saya menyempatkan diri mengunjungi Harrods, department store legendaris yang berdiri megah di atas lahan sekitar lima hektare. Tak jauh dari sana, Borough Market menjadi tujuan berikutnya.
Pasar yang telah beroperasi selama hampir seribu tahun itu menawarkan pengalaman kuliner yang merepresentasikan wajah kosmopolitan London.
Menjelang malam, sahabat saya, Austen, memberikan saran yang menarik.
"Jika ingin mengenal jiwa London yang sesungguhnya, kunjungilah pub-pub tua di sepanjang Sungai Thames," katanya.
Menurut Austen, nama-nama besar seperti Charles Dickens, Sir Arthur Conan Doyle, hingga Voltaire pernah menjadi pelanggan tetap sejumlah pub bersejarah di kota ini.
Bahkan beberapa sudut Thames disebut menjadi inspirasi dalam karya-karya sastra mereka.
Pub-pub tersebut masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Pada masa lalu, tempat-tempat itu menjadi titik pertemuan para pelaut, seniman, petualang, pedagang, hingga para pemburu nasib yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Salah satu yang paling terkenal adalah Prospect of Whitby.
Berdiri sejak abad ke-16, pub ini menyimpan kisah panjang tentang pelayaran dan petualangan. Konon, penjelajah Sir Hugh Willoughby pernah memulai ekspedisinya dari tempat ini.
Nama Charles Dickens dan Samuel Pepys pun tercatat pernah singgah di sana.
Dari sejarah, London bergerak menuju inovasi. Kota ini terus melahirkan restoran-restoran unik dengan konsep yang tak biasa.
The Cheese Bar, misalnya, menawarkan berbagai kreasi berbahan dasar keju yang memanjakan lidah. Ada pula Abandoned, restoran yang berdiri di bangunan bekas kamar mandi umum yang lama terbengkalai.
Sementara La Bodega Negra tampil nyentrik dengan fasad menyerupai toko seks, padahal di dalamnya tersimpan restoran Meksiko yang elegan dan berkelas.
Dunia hiburan malam London pun tak kalah menggoda. Artesian di The Langham, yang pernah dinobatkan sebagai salah satu bar terbaik di dunia, menawarkan pengalaman berbeda melalui kreasi minuman yang inovatif dan presentasi yang nyaris menyerupai karya seni.
Namun London tidak hanya memikat lewat sejarah dan kuliner. Kota ini juga merupakan salah satu pusat belanja paling berpengaruh di Eropa.
Dari Harrods yang mewah, Old Spitalfields Market yang artistik, Dover Street Market dengan koleksi rancangan Rei Kawakubo dan Comme des Garçons, hingga Shoreditch yang dipenuhi butik kreatif dalam bangunan-bangunan unik, semuanya menghadirkan pengalaman berbelanja yang sulit dilupakan.
Seperti kata Austen sambil tertawa, banyak wisatawan datang ke London dengan koper kosong dan pulang dengan beberapa koper tambahan. Bahkan tak sedikit yang harus membayar biaya kelebihan bagasi.
Saya percaya, bukan semata karena barang-barang yang mereka beli.
London membuat orang jatuh cinta pada cerita-ceritanya. Kota ini memang mahal, tetapi pesona, sejarah, kreativitas, dan pengalaman yang ditawarkannya terasa jauh lebih berharga daripada angka yang tertera pada setiap tagihan. Itulah sebabnya London selalu berhasil membuat para pengunjungnya ingin kembali lagi.