Trending

Merawat Warisan Sejarah Pulau Penyengat, Ekonomi Masyarakat Kuat

Merawat Warisan Sejarah Pulau Penyengat, Ekonomi Masyarakat Kuat
Pulau Penyengat di malam hari. (Foto: Diskominfo)

Kepri-Spektroom : Pulau Penyengat bukan sekadar gugusan daratan kecil di Kota Tanjungpinang melainkan ruang tempat sejarah bersemayam, bahasa Melayu menemukan jejak kebesarannya, dan kebudayaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di balik bangunan-bangunan bersejarah dan jejak peradaban Melayu yang melekat kuat, kehidupan masyarakat terus bergerak, menyimpan harapan agar warisan masa lalu tidak hanya dikenang, tetapi juga menghadirkan kesejahteraan bagi generasi masa kini dan mendatang.

Warisan sastra, tradisi, serta nilai-nilai budaya hidup berdampingan dengan aktivitas masyarakat yang menggantungkan harapan pada berbagai peluang ekonomi, termasuk pariwisata. Potensi tersebut menjadi modal penting bagi Pulau Penyengat untuk berkembang tanpa kehilangan identitas dan akar sejarahnya.

Atas dasar itulah, Pemerintah Provinsi(Pemprov) Kepulauan Riau(Kepri) terus mendorong revitalisasi kawasan Pulau Penyengat. Upaya ini tidak semata-mata berorientasi pada pembangunan fisik, perbaikan infrastruktur, atau memperindah kawasan.

Lebih dari itu, revitalisasi diarahkan untuk menghidupkan kembali nilai strategis Penyengat sebagai pusat warisan sejarah dan kebudayaan Melayu, sekaligus menciptakan ruang kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menegaskan bahwa pelestarian sejarah dan budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata.

“Semua aktivitas budaya dan sejarah yang ada di Pulau Penyengat tidak hanya kami jaga sebagai warisan budaya, tetapi juga didorong menjadi pendukung pengembangan pariwisata di Kepulauan Riau,” ujarnya.

Dalam konteks itu, pariwisata dapat menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan kekayaan sejarah dengan kesejahteraan masyarakat. Ketika wisatawan datang untuk mengenal peradaban Melayu, mereka tidak hanya mengunjungi situs bersejarah, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, menikmati kuliner lokal, menggunakan jasa transportasi, membeli produk usaha kecil, dan mengenal tradisi yang masih hidup.

Namun, manfaat tersebut tidak akan tumbuh dengan sendirinya, diperlukan penataan kawasan yang terencana, pelayanan yang berkualitas, serta keterlibatan masyarakat agar perkembangan pariwisata benar-benar memberi nilai tambah bagi kehidupan warga Pulau Penyengat.

Balai Adat Pulau Penyengat. (Foto: Diskomnfo)

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepri, Rodi Yantari, menjelaskan bahwa pemerintah provinsi bersama Kementerian Pekerjaan Umum terus berkolaborasi dalam penataan kawasan dan pembangunan infrastruktur dasar di Pulau Penyengat.

Melalui program lanjutan Penyengat Mendelau, penataan kawasan diarahkan untuk memperkuat posisi pulau tersebut sebagai destinasi wisata budaya dan religi yang inklusif, nyaman, serta layak huni. Sejumlah pekerjaan mencakup pemeliharaan Masjid Raya Sultan Riau beserta plaza, pembangunan sistem pengolahan air limbah melalui tangki septik komunal, dan peningkatan pencahayaan kawasan.

Pada tahap berikutnya, pemerintah menyiapkan rencana penataan Balai Adat, berkoordinasi mengenai perbaikan Pelantar Kuning sebagai akses dari Tanjungpinang menuju Penyengat, serta melanjutkan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional.

Pembangunan infrastruktur tersebut memiliki arti lebih luas daripada sekadar meningkatkan daya tarik kawasan. Infrastruktur yang baik merupakan prasyarat bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat, perlindungan lingkungan, dan pengembangan pariwisata yang berkualitas.

Rodi menjelaskan bahwa aspek aksesibilitas diperhatikan melalui perencanaan jalur pedestrian, penunjuk arah visual dan taktil, akses pelantar, toilet publik, hingga tempat berteduh dan beristirahat. Jalur pejalan kaki yang menghubungkan berbagai situs bersejarah juga direncanakan agar masyarakat dan wisatawan dapat menjelajahi kawasan dengan lebih aman dan nyaman. Dukungan ruang terbuka hijau, penerangan, serta sistem drainase tertutup turut menjadi bagian dari penataan tersebut.

Dengan pendekatan ini, pembangunan Pulau Penyengat diharapkan tidak hanya menghadirkan kawasan yang lebih menarik bagi wisatawan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang setiap hari tinggal, bekerja, dan menjalankan aktivitas sosial serta budayanya di pulau tersebut.

Sebab, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari perubahan tampilan fisik suatu kawasan. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana perubahan itu menjawab kebutuhan masyarakat dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi semua.

Berita terkait

Kasatgaswil Kepri Densus 88 Temui Walikota Tanjungpinang, Perkuat Koordinasi

Kasatgaswil Kepri Densus 88 Temui Walikota Tanjungpinang, Perkuat Koordinasi

Tanjungpinang–Spektroom : AKBP Maslikan baru dilantik dan menjabat sebagai Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Kepulauan Riau (Kepri) Densus 88 Antiteror Polri, Selasa (27/10/2026) melakukan kunjungan silaturahmi kepada Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah. Dalam kesempatan itu, Kasatgaswil Kepri Densus 88 Antiteror Polri AKBP Maslikan menyampaikan kunjungannya untuk bersilaturahmi sekaligus memperkenalkan

Desmawati, Rafles
Wakil Wali Kota Surakarta Resmikan Green House Melon Premium, Dorong Ekonomi Warga

Wakil Wali Kota Surakarta Resmikan Green House Melon Premium, Dorong Ekonomi Warga

Surakarta – Spektroom:Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani meresmikan green house melon premium di Kampung Norowangsan, RW 13, Kelurahan Pajang, Selasa (27/10/2026). Fasilitas ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi warga melalui pertanian perkotaan, pemberdayaan UMKM, dan wisata edukasi lingkungan. Peresmian tersebut dirangkai dengan penyerahan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR)

Ciptati Handayani, Buang Supeno