Mereka Tak Pernah Pulang: 82 Tahun Tragedi Mandor
Oleh: Syafaruddin Daeng Usman
Pontianak-Spektroom : Pagi selalu datang dengan tenang di Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Pohon-pohon menjulang, angin berembus perlahan, dan suara burung sesekali memecah kesunyian.
Namun di balik ketenangan itu, tersimpan salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Setiap tanggal 28 Juni, masyarakat Kalimantan Barat kembali menundukkan kepala. Mereka mengenang ribuan orang yang tak pernah pulang setelah dibawa paksa oleh tentara pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II.
Tahun ini, tepat 82 tahun berlalu sejak peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Mandor.
Tak ada foto yang merekam detik-detik pembantaian itu. Tak ada pula saksi mata yang mampu menceritakan secara utuh bagaimana ribuan orang mengakhiri hidupnya di kawasan yang saat itu tertutup rapat dari dunia luar.
Yang tersisa hanyalah jejak sejarah, kesaksian para penyintas, dokumen perang, dan makam-makam panjang yang kini berbaris sunyi di tengah kawasan memorial.
Di tempat itulah sejarah mencatat hilangnya satu generasi Kalimantan Barat.
Mereka yang menjadi korban bukan hanya rakyat biasa. Di antara mereka terdapat para sultan, bangsawan, ulama, guru, pegawai pemerintahan, tokoh masyarakat, pedagang, hingga pemuda-pemuda yang dianggap memiliki pengaruh.
Sebagian besar keluarga tidak pernah mengetahui ke mana anggota keluarganya dibawa. Mereka hanya melihat ayah, suami, saudara, atau anak mereka pergi bersama tentara Jepang, lalu menghilang tanpa kabar.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak ada yang kembali.Misteri itu baru mulai terkuak setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945.
Ketika pasukan Australia memasuki Kalimantan Barat, mereka menerima informasi tentang sebuah kawasan terlarang di Mandor. Lokasi itu selama masa pendudukan dijaga ketat militer Jepang dan tidak boleh dimasuki siapa pun.
Saat mendekati kawasan tersebut, mereka mencium bau menyengat yang sulit dilupakan. Bau kematian.
Di tengah hutan ditemukan kuburan-kuburan massal berisi jasad manusia dalam jumlah besar. Banyak yang sudah tidak dapat dikenali lagi. Sebagian jenazah bahkan belum dimakamkan secara layak. Temuan itu mengungkap fakta mengerikan yang selama ini tersembunyi.
Mandor bukan sekadar lokasi eksekusi. Tempat itu menjadi simbol operasi pembersihan besar-besaran yang dilakukan Jepang terhadap kelompok-kelompok yang dianggap dapat mengancam kekuasaan mereka di Borneo Barat.
Ribuan orang menjadi korban.Angka pastinya hingga kini masih menjadi perdebatan para sejarawan. Namun satu hal yang disepakati: Kalimantan Barat kehilangan begitu banyak putra terbaiknya dalam waktu yang sangat singkat.
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, dampak tragedi itu jauh melampaui jumlah korban.Yang hilang bukan hanya nyawa.
Yang hilang adalah para pemimpin, cendekiawan, tokoh agama, dan figur-figur yang menjadi penyangga kehidupan sosial masyarakat saat itu.
Sejumlah peneliti bahkan menyebut Tragedi Mandor sebagai salah satu pembunuhan elite lokal terbesar yang pernah terjadi di Indonesia selama masa pendudukan Jepang.
Akibatnya, banyak wilayah kehilangan figur kepemimpinan. Struktur sosial yang telah terbentuk selama puluhan tahun runtuh dalam waktu singkat.Kehilangan itu meninggalkan luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, delapan dekade lebih telah berlalu.Anak-anak yang dahulu kehilangan ayah telah menjadi kakek dan nenek. Bahkan banyak keluarga korban yang hanya mengenal anggota keluarganya melalui cerita yang diwariskan turun-temurun.
Namun ingatan tentang Mandor tidak pernah benar-benar hilang.Setiap tahun, masyarakat dari berbagai daerah datang berziarah ke Makam Juang Mandor. Mereka membawa bunga, memanjatkan doa, dan mengenang mereka yang namanya mungkin tak tercatat dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam memori keluarga dan masyarakat Kalimantan Barat.
Di tengah dunia yang terus bergerak maju, Mandor tetap menjadi pengingat bahwa perang selalu menyisakan duka yang panjang.
Bahwa kebencian dapat menghapus ribuan nyawa dalam sekejap. Dan bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini dibangun di atas pengorbanan mereka yang bahkan tidak sempat melihat Indonesia merdeka.
Di bawah rindangnya pepohonan Mandor, sejarah seolah berbisik kepada setiap pengunjung yang datang.
Jangan lupakan kami.