Merti Dusun Kebondalem, Saat Tradisi Leluhur Menghidupkan Ekonomi Warga
Sleman – Spektroom :
Suasana Dusun Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, Sabtu (29/8/2026), tampak berbeda. Warga dari berbagai usia memenuhi jalan dusun. Anak-anak, orang dewasa hingga para lansia berbaur dalam satu iring-iringan, mengikuti kirab gunungan hasil bumi. (Merti).
Di tengah arak-arakan itu, tersimpan sebuah pesan sederhana: rasa syukur. Merti Dusun, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, kembali digelar masyarakat Kebondalem.
Kepala Dusun Kebondalem, Galuh Ade Novi, mengatakan Merti Dusun digelar setiap dua tahun sekali. Seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari swadaya masyarakat.
“Ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus upaya melestarikan budaya yang sudah turun-temurun,” ujar Galuh.
Kirab gunungan menjadi salah satu prosesi yang paling ditunggu. Gunungan berisi tumpeng dan hasil bumi diarak mengelilingi dusun. Ratusan warga mengikutinya dengan penuh antusias.
Bagi warga yang menyaksikan dari pinggir jalan, kirab tersebut menjadi tontonan yang menarik. Tak sedikit pengguna jalan yang berhenti sejenak dan mengeluarkan telepon seluler untuk mengabadikan prosesi budaya tersebut.
Namun, Merti Dusun tidak berhenti pada urusan tradisi. Di balik keramaian acara, terdapat geliat ekonomi warga.
Sejumlah pelaku usaha kecil memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak makanan dan berbagai dagangan. Kerumunan warga menjadi pasar tersendiri bagi mereka.
“Alhamdulillah, yang jualan di acara ini laris manis dan dapat menambah ekonomi keluarga,” kata Galuh.
Bagi pelaku UMKM, keramaian tradisi menjadi kesempatan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Merti Dusun pun secara tidak langsung menciptakan ruang pertemuan antara budaya, masyarakat dan ekonomi lokal.
“Ke depan diharapkan ada bantuan dari Pemerintah DIY, termasuk melalui dana keistimewaan,” harapnya.

Apresiasi terhadap upaya warga menjaga tradisi juga disampaikan Panewu Prambanan, Purwati, S.H., M.M., yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Merti Dusun ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi cerminan dari akar kebudayaan dan kekompakan yang harus terus dijaga. Ini cara kita mensyukuri karunia Tuhan dan melestarikan warisan leluhur,” ujarnya.
Purwati berharap kegiatan budaya di Kebondalem dapat terus dikembangkan hingga menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Kapanewon Prambanan.
Jika dikelola secara berkelanjutan, tradisi semacam ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Menjelang akhir acara, suasana kembali riuh. Gunungan yang sejak awal menjadi pusat perhatian akhirnya diperebutkan warga.
Bukan hanya anak-anak yang bersemangat. Orang dewasa pun ikut berebut mendapatkan bagian dari gunungan.
Di tengah tawa dan kegembiraan warga, Merti Dusun Kebondalem menunjukkan makna lain dari sebuah tradisi: ketika warisan leluhur tetap hidup, kebersamaan tumbuh, dan roda ekonomi kecil masyarakat ikut bergerak.