Minggu Ke 3 Juli, Harga Komoditas Strategis Masih Diatas HPP, Sedangkan IPH Beras Terus Meroket
Bandarlampung - Spektroom: Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung dipimpin Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum & Politik Yayan Ruchyansyah, Senin 20 Juli 2026, mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2026 secara virtual dari Ruang Command CenterLantai II Diskominfotik Provinsi Lampung, kompleks Kantor Gubernur Lampung di Bandarlampung.
Rakor tersebut dirangkai dengan Evaluasi Dukungan Pemerintah Daerah Dalam Program 3 Juta Rumah, berlangsung di Sasana Bhakti Praja Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, dipimpin Sekretaris Jenderal Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir.
Dalam paparannya Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono menyampaikan pada minggu ketiga Bulan Juli 2026 tercatat sebanyak tiga provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras, seperti di Provinsi Aceh naik 2,0%, Sulawesi Tengah, Papua dan Kalimantan Timur meningkat di atas 1%.
"Namun ada beberapa provinsi yang stabil, yaitu di Papua Selatan, Papua Pegunungan dan Banten. Sedangkan yang mengalami penurunan terjadi di Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Barat" ujar Ateng Hartono, Senin (20/7/2026).
Meskipun demikian, lanjutannya untuk Kabupaten/ Kota yang mengalami kenaikan IPH relatif cukup tinggi, yaitu Kota Langsa sebesar 8,07%, Kabupaten Sarmi 5,5%, Kota Supiori provinsi Papua, kemudian Aceh Barat Daya, Aceh Timur, Tambro, Pulau Taliban, Kabupaten Sumba Tengah mengalami peningkatan IPH beras di atas 4%. Apabila di pilah secara jenis produk, beras medium dan beras premium, untuk beras medium, mengalami peningkatan IPH sebesar 0,42%.
Ateng menjelaskan, kenaikan harga beras juga semakin meluas di berbagai daerah. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras medium meningkat menjadi 144 daerah pada minggu ketiga Juli 2026, dari 128 daerah pada minggu kedua.
"Peningkatan tersebut mulai terjadi pada bulan April, Mei, Juni sampai dengan bulan Juli. Jadi 4 bulan berturut-turut beras medium mengalami kenaikan .Bahkan beras premium kenaikannya sejak bulan Maret sampai dengan bulan Juli dan kondisi sampai dengan minggu ketiga Juli beras premium naik 0,42% dengan posisi harga pada Rp16.313.
Sedangkan Komoditas bawang putih, telah mengalami peningkatan IPH sejak Mei bahkan melampaui (Harga Acuan Pemerintah (HAP) bawang putih Rp.3.800/ Kg, sedangkan pada kondisi bulan Juli, minggu ketiga bawang putih merangsak naik hingga mencapai Rp.42.560/Kg.
"Artinya, kalau kita bandingkan antara harga di minggu ketiga Juli dengan HAP-nya, maka terjadi gap sekitar 12% terjadi di 271 Kabupaten/Kota dengan harga tertinggi yaitu Rp.100.000 dan harga terendahnya Rp.22.000. Harga tertingginya untuk bawang putih itu ada di Intan Jaya, Kabupaten Puncak, Kabupaten Pegunungan" terang Ateng lagi.
Sementara diforum yang sama Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Brigjen Pol Hermawan juga mengurai tentang harga komoditas Strategis yang masih berada diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
"Secara umum harga beberapa komunitas strategis masih berada di atas harga pembelian pemerintah maupun harga acuan penjualan. Terlihat bahwa harga gabah kering panen di tingkat petani tercatat dengan harga Rp7.046/Kg dan gabah kering giling Rp8.216/Kg. Sedangkan beras medium di tingkat penggelingan Rp13.186/Kg serta jagung pipilan kering Rp5.787/Kg"
Namun demikian terdapat beberapa komoditas yang perlu mendapatkan perhatian dan intervensi. Seperti harga ayam ras hidup berada pada posisi Rp22.142/Kg atau 11,43 persen di bawah harga acuan pembelian. Kemudian harga telur ayam ras sebesar Rp23.578/Kg atau 11,03 persen di bawah harga acuan pembelian.(@Ng).