Model Bioindustri Tanaman dan Itik Tingkatkan Produktivitas Lahan

Model bioindustri tanaman-itik

Model Bioindustri Tanaman dan Itik Tingkatkan Produktivitas Lahan
Lahan Rawa Lebak, di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, (Foto BRIN)

Bandung - Spektroom : Lahan Rawa Lebak, di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, dimanfaatkan untuk pertanian. Namun, produktivitas dan pendapatan petani masih rendah karena terbatasnya adopsi teknologi, fluktuasi harga, rendahnya kepemilikan lahan, dan kerentanan terhadap perubahan musim.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia beserta tim dari Pusat Riset Peternakan dan lain-lain mempelajari kondisi itu, untuk meningkatkan pertanian lokal.

Tantangan utama meliputi banjir yang tidak terduga saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Solusi potensial adalah model bioindustri tanaman-itik yang beradaptasi dengan variabilitas curah hujan dan merangkul pendekatan ekonomi sirkular. Sistem bioindustri terintegrasi ini menggabungkan tanaman, itik, atau ternak lain dengan pemanfaatan limbah biologis antar satu komoditas dengan komoditas lainnya.

“Melalui bioindustri tanaman-itik di lahan rawa lebak, kami melihat perlunya mengintegrasikan adaptasi terhadap variabilitas curah hujan dan mempromosikan ekonomi sirkular melalui penerapan beberapa teknologi. Implementasi ini diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani,” terang Aris dalam siaran pers yang diterima Spektroom, Kamis (30/04/2026).

Penelitian dilakukan terhadap 97 rumah tangga dari 3 kelompok tani dan 1 kelompok wanita tani di lahan seluas 75 hektar. Penelitian ini melibatkan sekitar 1000 ekor itik.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran jadwal tanam untuk beradaptasi dengan perubahan curah hujan. Sehingga, menghasilkan musim tanam yang lebih panjang dan berhasil meningkatkan produksi telur itik sebesar 14,69%, padi sebesar 350 kg/ha atau 5,85%, dan terong sebesar 11.945 kg/ha atau 76,57%.

Durasi pemeliharaan itik berkisar antara 12-21 bulan, dan pendapatan keseluruhan meningkat sebesar 26,1% untuk peternakan itik, 9,3% untuk padi, dan 221,5% untuk terong. Studi ini merekomendasikan keberlanjutan model bioindustri terintegrasi yang menguntungkan petani dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Aris membuat desain model bioindustri yang terdiri dari 3 komponen, yaitu peternakan itik (unggas), padi (pangan), dan terong (hortikultura).

“Itik menghasilkan telur, daging, dan limbah yang digunakan sebagai pupuk untuk padi dan hortikultura. Padi menghasilkan beras dan benih, juga limbah berupa dedak dan jerami," jelas Aris.

"Dedak padi digunakan sebagai pakan itik, dan jerami padi berfungsi sebagai mulsa untuk tanaman hortikultura. Tanaman terong sendiri menghasilkan buah segar dan olahan. Kondisi curah hujan menentukan jadwal tanam dan pola penggembalaan itik,” tambahnya.

Untuk mengetahui kondisi iklim, tim penelitian mempelajari pengetahuan lokal petani, menganalisis pola curah hujan dari BMKG untuk menentukan awal musim kemarau, dan mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan keahlian lokal untuk mengelola pola tanam.

Aris berharap, pendekatan ekonomi sirkular ini dapat meningkatkan budidaya itik, padi, dan holtikultura melalui tanaman terong.(kpv/ed:kg, tnt)

Berita terkait

Kementerian PU Kerahkan Mobil Tangki dan Air Bersih Mengatasi Kekeringan di Sangihe

Kementerian PU Kerahkan Mobil Tangki dan Air Bersih Mengatasi Kekeringan di Sangihe

Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan sarana dan prasarana tanggap darurat untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi masyarakat terdampak kekeringan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Dukungan tersebut diberikan melalui Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sulawesi Utara bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe. “Kementerian

Nurana Diah Dhayanti
Pemko Sawahlunto dan UMMY Solok Perkuat Kolaborasi Pendidikan, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat

Pemko Sawahlunto dan UMMY Solok Perkuat Kolaborasi Pendidikan, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat

Sawahlunto-Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi melalui penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Universitas Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY) Solok. Kerja sama tersebut ditandatangani Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra bersama Rektor UMMY Solok Rica Mega Sari di Sawahlunto, Jumat (14/8/2026). Kolaborasi diarahkan untuk memperkuat sinergi di bidang

Riswan Idris, Rafles
ссс