Musim Durian bawa Rejeki Bagi Petani Di Fakfak Papua Barat

Musim  Durian bawa Rejeki Bagi Petani Di Fakfak Papua Barat
Suasana jualan buah durian di thumburuni fakfak. (foto: Tony Teniwut)

Fakfak-Spektroom : Kota Fakfak di Papua Barat dikenal sebagai penghasil buah dan biji pala. Pala merupakan produk unggulan dan sumber pendapatan utama para petani di Fakfak, sehingga tidak heran bila kota ini sejak dahulu dijuliki Kota Pala.

Selain pala, kota tersebut juga merupakan salah satu daerah di tanah papua sebagai penghasil buah durian dengan citrarasa memikat setiap orang yang suka buah tersebut.

Pada saat musim panen tiba seperti saat ini,(Juni- Juli 2026) memasuki puncak musim durian, buah beraroma sedap dan segar hasil panen dari sejumlah kampung, membanjiri pasar dan ruas jalan utama di Kota Fakfak, sehingga menciptakan geliat ekonomi bagi para pedagang musiman.

Beesamaan dengan membludaknya buah tersebut, lapak-lapak penjualan durian bermunculan di sejumlah titik strategis, seperti kawasan Tanjung Wagom, lampu merah Pasar Rakyat Thumburuni, kompleks ruko di Jalan Salasa Namudat, hingga pertokoan di Jalan Izak Telussa. Kehadiran para pedagang tersebut menarik perhatian warga yang ingin menikmati durian segar langsung dari kebun.

Salah seorang pedagang, Teles Piahar (36), warga Kampung Gewerpe, mengatakan musim durian menjadi momentum yang dinantikan karena mampu meningkatkan pendapatan keluarga. Ia membawa durian hasil panen dari wilayah Kramongmongga dan Kayauni menggunakan mobil menuju Kota Fakfak.

"Musim durian ini pembeli ramai. Kami bawa buah dari Kramongmongga dan Kayauni menggunakan mobil," ujar Teles.

Menurutnya, durian berukuran besar dijual dengan harga Rp100.000 untuk empat buah, sedangkan durian ukuran kecil dipasarkan Rp50.000 untuk empat buah. Harga tersebut dinilai masih terjangkau sehingga menarik minat masyarakat untuk membeli dalam jumlah lebih banyak.

Teles mengaku mampu membawa sekitar 200 buah durian ke Kota Fakfak dengan biaya transportasi sekitar Rp300.000 sekali jalan. Dari hasil penjualan tersebut, omzet yang diperoleh dalam sehari dapat mencapai sekitar Rp2,5 juta, yang menjadi tambahan penghasilan bagi keluarganya selama musim panen berlangsung.

" Yaaaa...syukur dari hasil penjualan bisa dapat dua juta rupiah lebih untuk topang kebutuhan keluarga," kataya.

Ia menambahkan, durian yang dipasarkan berasal dari pohon-pohon yang telah lama dibudidayakan dan memiliki cita rasa khas dengan daging buah yang tebal. "Pokoknya durian saya enak, terutama yang berukuran besar," katanya sambil menunjukkan buah durian yang dijajakan kepada para pembeli.

Berita terkait

Walikota Batam: Daya Saing Batam Ditentukan Kualitas SDM yang Dipersiapkan dari Sekarang

Walikota Batam: Daya Saing Batam Ditentukan Kualitas SDM yang Dipersiapkan dari Sekarang

Batam-Spektroom : Walikota Batam Amsakar Ahmad melakukan peletakan batu pertama pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) Sekolah Menegah Kejuruan Negeri (SMKN) 13, Kelurahan Tanjung Buntung Kecamatan Bengkong. Peletakan batu pertama dilakukan secara simbolis bersama Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad Senin (13/7/2026). Dalam sambutannya, Amsakar menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka

Desmawati, Rafles
Pramono Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Pungli, Oknum Terbukti Bersalah Akan Ditindak Tegas

Pramono Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Pungli, Oknum Terbukti Bersalah Akan Ditindak Tegas

Jakarta – Spektroom : Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak akan memberikan toleransi terhadap praktik pungutan liar (pungli) yang dilakukan aparatur pemerintah, termasuk jika melibatkan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Setiap laporan yang masuk akan ditindak lanjuti melalui proses pendalaman sebelum dijatuhkan sanksi kepada

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas
DPRD  Kota Ambon Dukung Percepatan Pelantikan Raja Definitif di 9 Negeri Adat

DPRD Kota Ambon Dukung Percepatan Pelantikan Raja Definitif di 9 Negeri Adat

Ambon–Spektroom: Ketua DPRD Kota Ambon Mourits Tamaela mendesak Pemerintah Kota Ambon mempercepat proses pelantikan raja definitif di sembilan negeri adat yang hingga kini masih dipimpin pejabat sementara. Menurutnya, kepemimpinan definitif sangat dibutuhkan agar roda pemerintahan di negeri adat berjalan lebih efektif dan memiliki kewenangan penuh dalam melayani masyarakat. Pernyataan

Eva Moenandar, Bian Pamungkas