Netralisir Duka, Hidupkan Asa: Ritual Adat di Pedalaman Sekadau

Netralisir Duka, Hidupkan Asa: Ritual Adat di Pedalaman Sekadau
Masyarakat Dayak Taman ulu peniti dusun Gandis Sekadau fofo bersama Team SAR dan pihak Perusahan usai menggelar ritual Mudas tolak bala setelah kejadian laka Helikopter di bukit Puntak. (Foto: Humas polres Sekadau).

Sekadau - Spektroom : Di sebuah kampung yang dikelilingi hutan lebat di pedalaman Sekadau, suara doa dan denting ritual adat menggema pada Minggu pagi (26/04/2026). Warga Dayak Taman di Kampung Ulu Peniti, Dusun Gandis, berkumpul dalam 1 lingkaran kebersamaan, melaksanakan ritual Mudas Buang Pamali Kampong sebuah tradisi turun-temurun yang dipercaya mampu menolak bala dan memulihkan keseimbangan hidup.

Ritual ini bukan sekadar seremoni budaya. Ia hadir sebagai respons kolektif atas duka yang masih terasa, pasca insiden jatuhnya helikopter PK-CFX di Bukit Puntak pada (16/04/ 2026). Peristiwa itu menyisakan trauma, terutama bagi warga yang terlibat langsung dalam proses evakuasi korban.

Di tengah suasana khidmat, tokoh adat memimpin rangkaian ritual yang sarat makna. Sesajen disiapkan, doa-doa dipanjatkan, dan simbol-simbol adat dihadirkan sebagai bentuk komunikasi dengan alam dan leluhur.

Bagi masyarakat Dayak Taman, keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur adalah fondasi kehidupan yang tak terpisahkan.

Bupati Sekadau, Aron, yang turut hadir dalam kegiatan itu, menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas daerah. Ia menyebut ritual ini sebagai cara masyarakat memulihkan semangat sekaligus memperkuat solidaritas pasca musibah.

“Ini bukan hanya soal adat, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat bangkit dari peristiwa yang mengguncang,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Camat Nanga Taman, Roberthus Robby. Ia menjelaskan bahwa Kampung Ulu Peniti sempat menjadi lokasi transit jenazah korban sebelum dipindahkan ke posko utama. Situasi itu, menurut kepercayaan setempat, perlu “dinetralisir” agar tidak meninggalkan dampak buruk bagi warga.

Ritual pun menjadi jembatan antara keyakinan dan pemulihan psikologis masyarakat. Warga percaya, melalui prosesi ini, kampung akan kembali bersih dari energi negatif dan kehidupan dapat berjalan normal.

Di balik suasana sakral, terselip pula rasa bangga. Pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada warga sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan mereka dalam proses evakuasi.

Pihak perusahaan turut menyerahkan bantuan sebagai ungkapan terima kasih atas gotong royong yang ditunjukkan masyarakat. Lebih dari sekadar tradisi, Mudas Buang Pamali Kampong menjadi refleksi tentang ketangguhan komunitas lokal dalam menghadapi krisis.

Di tengah keterbatasan, mereka memilih bertahan dengan cara mereka sendiri mengandalkan warisan leluhur sebagai sumber kekuatan.

Saat ritual usai, perlahan aktivitas kampung kembali berjalan. Namun satu hal yang tersisa: keyakinan kebersamaan dan tradisi adalah penopang utama dalam melewati masa-masa sulit.

Berita terkait