NU Kota Sumenep Tegaskan Kemandirian Organisasi, Dorong Pengembangan Ala Tariqoh Jami’iyah
Sumenep -Spektroom : Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kota Sumenep menegaskan komitmennya untuk membangun kemandirian organisasi melalui pengembangan berbasis kekuatan internal atau tariqoh jami’iyah.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Lailatul Ijtima’ yang dirangkai dengan dzikir dan doa Asyura di pelataran Masjid Nurul Muhlisin, Desa Marengan Daya, Kecamatan Kota Sumenep, Kamis malam (25/6/2026).
Kegiatan yang bertepatan dengan 10 Muharam atau Hari Asyura itu juga diwarnai pemberian santunan kepada 30 anak yatim. Acara dihadiri Wakil Ketua Syuriah MWC NU Kecamatan Kota Sumenep KH Achmad Halimi serta Ketua Tanfidziyah MWC NU Kota Sumenep KH Hantok Sudarto.

KH Achmad Halimi mengajak jamaah untuk memperkuat keimanan serta membentengi diri dan keluarga dengan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan kembali pesan Rasulullah SAW tentang kondisi umat Islam pada akhir zaman yang diibaratkan seperti buih di lautan.
“Jumlah umat Islam banyak, tetapi akan dihinggapi penyakit hubbud dunya wa karohiyatul maut, yakni cinta dunia secara berlebihan dan takut menghadapi kematian,” ujarnya.
Menurut KH Halimi, kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat mengikis kecintaan terhadap tanah air. Ia mengingatkan bahwa orientasi material yang berlebihan berpotensi mengabaikan kepentingan bangsa dan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kota Sumenep KH Hantok Sudarto menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama harus terus bergerak dengan mengedepankan kemandirian organisasi.
“NU harus berkembang dengan kemampuan sendiri melalui pola tariqoh jami’iyah, tidak menggantungkan diri kepada pemerintah ataupun pihak lain,” katanya.
KH Hantok menambahkan, sinergi antara Pengurus Cabang, MWC, hingga ranting menjadi kunci dalam memperkuat khidmat organisasi kepada umat. Menurutnya, kolaborasi seluruh struktur NU akan memperkokoh peran jam’iyah dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Peringatan Hari Asyura tersebut menjadi momentum bagi warga Nahdliyin di Kota Sumenep untuk memperkuat spiritualitas, meningkatkan kepedulian sosial, sekaligus meneguhkan semangat kemandirian organisasi dalam menjalankan khidmat kepada umat dan bangsa.(Ruslan Irianto).