Nurochman: HUT ke-25 Batu Bukan Sekadar Seremoni, Lima Tahun ke Depan Harus Terasa bagi Warga

Nurochman: HUT ke-25 Batu Bukan Sekadar Seremoni, Lima Tahun ke Depan Harus Terasa bagi Warga
Nurochman hadir didampingi Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Sekda Kota Batu Alfi Nurhidayat, Ketua Panitia Hari Jadi ke-25 Badrut Tamam Widagdo, serta Pimpinan Cabang (Pimcab) Bank Jatim Batu Andre Sastrawan. ( Foto: Buang)

Batu -Spektroom : Wali Kota Batu Nurochman menegaskan peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu tidak boleh berhenti sebagai seremoni.

Lima tahun ke depan, pembangunan harus menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat, mulai dari penguatan ekonomi lokal, terbukanya kesempatan, kelestarian lingkungan hingga pelayanan pemerintah yang semakin dekat dengan kebutuhan warga.

Pesan itu disampaikan Nurochman saat meluncurkan Logo Hari Jadi ke-25 Kota Batu di halaman Balai Kota Among Tani, Kamis malam (17/9/2026).

Dalam peluncuran tersebut, Pemerintah Kota Batu mengusung tagline “Kreatif SAE” dengan tema “Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan.”

Nurochman hadir didampingi Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Sekda Kota Batu Alfi Nurhidayat, Ketua Panitia Hari Jadi ke-25 Badrut Tamam Widagdo, serta Pimpinan Cabang (Pimcab) Bank Jatim Batu Andre Sastrawan.

Walikota Batu didampingi Wakil walikota, sekda dan ketua Panitia dalam jumps pers. ( foto: buang).

Nurochman mengatakan usia 25 tahun merupakan perjalanan panjang bagi Kota Batu untuk terus mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ada banyak capaian yang patut kita syukuri, tetapi ada pula pekerjaan rumah yang masih harus kita selesaikan,” kata Nurochman.

Menurut dia, ulang tahun Kota Batu bukan semata momentum merayakan capaian masa lalu. Hari jadi harus menjadi ruang untuk melihat kembali arah pembangunan ke depan.

“Ulang tahun bukan hanya tentang merayakan apa yang sudah kita capai, tetapi juga tentang keberanian kita melihat ke depan dan bertanya: apakah Kota Batu ini akan kita bawa ke mana arahnya?” ujarnya.

Nurochman menegaskan, arah pembangunan tersebut harus bermuara pada kemakmuran dan kemaslahatan masyarakat Kota Batu.

Karena itu, logo HUT ke-25 tidak dimaknainya hanya sebagai identitas visual sebuah perayaan. Logo tersebut harus menjadi pengingat mengenai arah perjalanan Kota Batu, apa yang harus dijaga dan untuk siapa pembangunan dilakukan.

“Kreatif SAE” Jadi Semangat Baru

Nurochman menjelaskan, “Kreatif SAE” menjadi semangat baru Kota Batu pada 2026 setelah sebelumnya mengusung tagline “Sedoyo Sae”.

Menurutnya, kreativitas menjadi kebutuhan dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pengembangan potensi daerah. Pemerintah tidak bisa terus menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan persoalan yang terus berkembang.

“Kreativitas hari ini menjadi tuntutan kita semuanya. Kita harus lebih kreatif di dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Semangat kreatif itu juga diarahkan untuk menggali potensi ekonomi kreatif Kota Batu, termasuk gastronomi yang berkaitan erat dengan pertanian, makanan tradisional dan sejarah pangan masyarakat.

Kota Batu saat ini mengusung konsep agrokreatif bidang gastronomi dalam proses seleksi UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Nurochman berharap proses tersebut dapat menghasilkan capaian yang membanggakan bagi Kota Batu dan menjadi kado pada momentum usia ke-25.

Bangkit Bersama

Sementara “Bangkit Bersama” menjadi pesan penting dalam tema HUT ke-25. Bagi Nurochman, bangkit bersama bukan berarti pemerintah harus selalu berada di depan. Pemerintah justru harus berjalan bersama masyarakat, mendengar persoalan yang dihadapi warga dan mencari jalan keluarnya secara bersama-sama.

“Pemerintah harus mampu berjalan bersama masyarakat, mendengar persoalan yang ada, dan mencari jalan keluar bersama-sama. Sebab Kota Batu ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik seluruh warga yang hidup, bekerja, dan membangun harapan di dalamnya,” katanya.

Ia menilai pembangunan Kota Batu membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, petani, pelaku pariwisata, komunitas, anak muda hingga masyarakat secara luas.

Jaga Alam Raya

Pesan berikutnya adalah “Jaga Alam Raya.” Nurochman mengatakan Kota Batu tumbuh dari kekuatan alam. Karakter kota dibentuk oleh lingkungan, pertanian, pariwisata, pangan dan ruang hidup masyarakat.

Karena itu, pertumbuhan pembangunan harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.

“Ketika kita berbicara tentang kemajuan, kita juga harus bertanya apa yang kita tinggalkan untuk generasi setelah kita,” ujarnya.

Menurutnya, menjaga alam bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan Pemerintah Kota Batu.

Menuju mBatu SAE Berkelanjutan

Seluruh gagasan tersebut bermuara pada tujuan “mBatu SAE Berkelanjutan.” Nurochman berharap lima tahun mendatang tidak hanya menghasilkan pembangunan yang secara fisik bisa dilihat, tetapi juga perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Lebih banyak kesempatan, lebih kuatnya ekonomi lokal, lingkungan yang tetap terjaga dan asri, dan pelayanan pemerintah yang semakin dekat dengan kebutuhan warganya,” katanya.

Ia juga meminta logo HUT ke-25 tidak sekadar menjadi gambar yang menghiasi kegiatan seremonial.

“Jadikan logo ini sebagai pengingat atas pekerjaan kita bersama, bahwa perjalanan 25 tahun ini belumlah selesai, bahwa masih ada yang harus kita benahi, dan bahwa lima tahun ke depan adalah kesempatan kita untuk membuktikannya,” tegas Nurochman.

Badrut: Maju Boleh, Alam Jangan Dikorbankan

Ketua Panitia Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Badrut Tamam Widagdo. ( foto: buang)

Ketua Panitia Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Badrut Tamam Widagdo, mengatakan peluncuran logo menandai perjalanan seperempat abad Kota Batu.

Menurut Badrut, dari kota administratif kecil, Batu berkembang menjadi kota wisata yang dikenal secara nasional bahkan internasional. Ia menyebut tiga pesan utama yang hendak digerakkan melalui rangkaian HUT ke-25, yakni bangkit bersama, menjaga alam raya dan pembangunan berkelanjutan.

“Setelah 25 tahun, kita selayaknya sanggup bangkit bersama antar-stakeholder, antar-kelompok masyarakat: petani, pelaku wisata, seniman, UMKM, ASN, anak muda dan seterusnya untuk bekerja sama,” kata Badrut.

Ia menekankan pentingnya menjaga alam karena Kota Batu lahir dan berkembang dari kekuatan alamnya.

“Batu lahir dari alam, kita dianugerahi udara yang sejuk, gunung-gunung yang indah, yang merupakan bagian dari jati diri kita. Maju boleh, tapi alam mohon tidak untuk dikorbankan,” ujarnya.

Badrut berharap seluruh elemen masyarakat memberikan dukungan agar rangkaian Hari Jadi ke-25 Kota Batu berlangsung sukses sekaligus memiliki makna bagi perjalanan kota ke depan.

Logo 25 Tahun

Logo HUT Ke 25 Kota Batu batu. (Foto: buang).

Logo HUT ke-25 Kota Batu menampilkan angka 25 dengan bentuk dinamis yang dipadukan dengan siluet gunung, daun dan simbol alam lainnya. Unsur tersebut merepresentasikan keberagaman potensi yang dimiliki Kota Batu.

Dalam keterangannya, Nurochman menyebut sejumlah warna dan simbol dalam logo memiliki makna tersendiri, antara lain unsur anggrek yang tumbuh di Dadaprejo serta warna hijau yang berkaitan dengan komitmen menjaga alam.

Peluncuran logo tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya rangkaian peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu tahun 2026. Nurochman kemudian secara resmi meluncurkan logo dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.

“Semoga menjadi penanda perjalanan baru Kota Batu yang lebih baik, dengan tetap berpijak pada jati diri dan kekuatan masyarakatnya,” pungkasnya.

Berita terkait