Pada Akhirnya, Adu Penalti Menjadi Penentu, Mengukir Sejarah Baru, 4 : 2 Untuk Timnas Garuda
Repost FIFA.com
Jakarta - Spektroom: Skuad Garuda mencatat babak baru dalam sejarah sepak bolanya setelah menjuarai Piala ASEAN FIFA. Sebelum kemenangan tersebut, dalam pertandingan reguler (waktu normal), kemenangan terakhir Indonesia atas Thailand dicapai pada 14 Desember 2016 dengan skor 2-1 di leg pertama final Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari
Head to head nya, hingga kini sudah ada 78 duel antara keduanya dan timnas harus mengakui Thailand masih lebih unggul. Timnas memetik 25 kemenangan, 16 laga berakhir imbang, dan Thailand sudah mengoleksi 37 kemenangan.
Kemenangan ke 25 tersebut ditorehkan Timnas Garuda diajang FIFA ASEAN Cup 2026, di puncak laga Thailand harus mengakui keunggulan Indonesia.
Ole Romeny, Luke Vickery, dan Dean James berbagi cerita tentang arti pencapaian tersebut.
Ada malam-malam dalam sepak bola yang maknanya melampaui hasil akhir di papan skor. Malam ketika sebuah kemenangan bukan hanya menjadi milik mereka yang berjuang di lapangan, melainkan juga milik mereka yang sepanjang perjalanan terus percaya, berharap, dan menanti.
Bagi Indonesia, malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi salah satunya. Gelar Piala ASEAN FIFA menjadi pencapaian bersejarah bagi tim nasional Indonesia di level senior. Setelah bertahun-tahun menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara, pasukan Garuda akhirnya menuntaskan perjalanan dengan trofi yang sebelumnya belum pernah mereka menangkan.
Namun, cara gelar itu diraih membuat pencapaian tersebut terasa semakin istimewa. Setelah melalui pertandingan final yang berlangsung ketat melawan Thailand, kedua tim tetap tidak terpisahkan hingga 90 menit dan babak tambahan. Pada akhirnya, adu penalti menjadi penentu, dan Indonesia keluar sebagai pemenang untuk mengukir sejarah baru, 4 : 2 untuk Timnas Garuda.
Bagi Ole Romeny, bagaimanapun, arti keberhasilan berarti lebih dari sekadar trofi.
“Sangat berarti, sangat berarti. Jika melihat semua orang, anak-anak, dan seluruh masyarakat, pencapaian ini begitu berarti bagi Indonesia. Kami sangat bangga dan rasanya seperti satu keluarga besar,” ujar Romeny kepada dikutip dari FIFA.com
Kata-kata tersebut menggambarkan bahwa bagi para pemain, perjalanan Indonesia di Piala ASEAN bukan semata-mata tentang pertandingan yang harus dimenangkan.
Ada sesuatu yang lebih besar yang mereka bawa setiap kali memasuki lapangan, hal itu adalah kebanggaan mengenakan jersey Merah Putih dan kesadaran bahwa mereka mewakili ratusan juta masyarakat.
“Ini sungguh luar biasa. Setiap kali bermain, kami selalu merasa sangat bangga mengenakan jersey ini. Terlebih ketika bermain di kandang sendiri, rasanya sungguh luar biasa,” lanjut Romeny.
Perasaan itu menemukan bentuknya di GBK. Dari atas lapangan, para pemain merasakan langsung energi yang mengalir dari tribun. Suara dan dukungan para suporter bukan sekadar latar dari sebuah pertandingan final, melainkan bagian dari pengalaman yang mereka jalani hingga peluit terakhir.
Sementara Luke Vickery mengungkapkan kepada FIFA bahwa final melawan Thailand merupakan pertandingan yang hampir mustahil dirangkum hanya dengan satu emosi. Ketegangan yang terjaga, perubahan momentum, hingga pertandingan yang akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti membuat perjalanan menuju gelar terasa panjang dan penuh gejolak.
“Sulit untuk menggambarkan pertandingan seperti ini. Ada begitu banyak emosi, dengan momentum yang terus naik dan turun,” kata Vickery.
Penyelenggaraan perdana turnamen resmi di bawah kalender FIFA ini berlangsung dari 24 September hingga 5 Oktober 2026 dengan Indonesia dan Hong Kong sebagai tuan rumah bersama.(@Ng).