Pascasarjana UMI Makassar Harus Percepat Persiapan Akreditasi Internasional
Makassar-Spektroom : Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., mendorong Program Pascasarjana (PPs) UMI mempercepat persiapan menuju akreditasi internasional, memperkuat kualitas riset, serta memastikan seluruh program pengembangan memiliki target dan hasil yang dapat diukur.
Arahan tersebut disampaikan saat membuka Rapat Kerja (Raker) Program Pascasarjana UMI Tahun 2026 di Aula Lantai 3 PPs-UMI, Senin (26/10/2026).
Raker mengangkat tema “Transformasi Program Pascasarjana UMI Menuju Pendidikan Unggul, Inovatif, dan Berdaya Saing Global Berlandaskan Nilai-Nilai Islami”.
Bagi Rektor, perubahan di Pascasarjana tidak cukup dilakukan melalui pembaruan dokumen atau penambahan program. Setiap rencana harus memiliki hubungan yang jelas dengan peningkatan mutu pembelajaran, pelayanan mahasiswa, kualitas penelitian, dan reputasi akademik universitas.
Prof. Hambali juga menegaskan, penyusunan program kerja Pascasarjana juga harus mengacu pada dokumen strategis universitas yang telah disahkan melalui Summit UMI.
Dokumen tersebut meliputi Rencana Strategis (Renstra), Rencana Operasional (Renop), Rencana Anggaran dan Aktivitas Tahunan (RAAT) berbasis Indikator Kinerja Utama (IKU), serta implementasi transformasi digital melalui UMI Connection.
“Transformasi di UMI dilakukan secara menyeluruh, bukan parsial. Kepemimpinan dan tata kelola dibangun di atas nilai-nilai Islam, profesionalisme, kolaborasi, dan inovasi,” tegas Prof. Hambali.
Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., menekankan posisi strategis Program Pascasarjana dalam penguatan mutu dan reputasi akademik UMI.
“Ibarat etalase, Program Pascasarjana adalah etalase utama Universitas Muslim Indonesia,” ujarnya.
Menurut Prof. Masrurah, kualitas Pascasarjana harus dapat dilihat melalui penyelenggaraan pendidikan, kompetensi lulusan, produktivitas penelitian, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Hasil penelitian, khususnya pada jenjang magister dan doktor, diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan akademik, tetapi dapat memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengoptimalkan jejaring alumni UMI yang telah berkiprah di berbagai bidang dan posisi strategis.
Potensi tersebut perlu didukung dengan peningkatan kualitas pelayanan mahasiswa serta kemampuan institusi beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Dengan demikian, reputasi Pascasarjana tidak hanya ditentukan oleh jumlah mahasiswa atau program studi, tetapi juga oleh kualitas proses pendidikan, hasil penelitian, dan kontribusi lulusannya.
Rencana implementasi tersebut juga mencakup kerja sama dengan PT Ruijie dalam penguatan infrastruktur dan layanan digital.
Direktur Program Pascasarjana UMI, Prof. Dr. H. Laode Husen, S.H., M.Hum., menyatakan komitmennya untuk menjadikan Pascasarjana sebagai salah satu penggerak transformasi akademik universitas.
Menurutnya, penguatan tata kelola, penerapan kurikulum OBE, optimalisasi teknologi digital, serta peningkatan mutu riset dan inovasi menjadi fokus pengembangan Pascasarjana.
“PPs-UMI memegang filosofi: Satu Data, Satu Arah, Satu Kecepatan, Satu Peradaban,” jelas Prof. Laode.
Prinsip tersebut menekankan pentingnya kesatuan data kelembagaan, keselarasan tujuan, konsistensi pelaksanaan program, serta orientasi pendidikan pada kemajuan dan kemaslahatan masyarakat.
Dalam digitalisasi pembelajaran, PPs-UMI telah menggunakan Learning Management System (LMS) sejak 2019. Sistem tersebut menjadi salah satu instrumen pendukung pembelajaran dan layanan akademik bagi lebih dari 4.000 mahasiswa aktif, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan.
Selain penguatan sistem dan mutu akademik, Direktur PPs-UMI menekankan pentingnya kerja sama antarprogram studi. Menurutnya, pengembangan Pascasarjana membutuhkan koordinasi yang baik agar sumber daya, program, dan kebijakan dapat saling mendukung.