Suara Anak Muda Menentukan Masa Depan Jakarta Menuju Lima Abad
Jakarta — Spektroom : Masa depan Jakarta tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kepedulian generasi muda dalam menjaga kota tempat mereka tumbuh dan beraktivitas. Suara anak muda menjadi bagian penting dalam mewujudkan Jakarta yang inklusif, aman, dan berkelanjutan menjelang usia lima abad pada 22 Juni 2027.
Semangat tersebut mengemuka dalam Workshop Aspirasi Orang Muda Jakarta – Kawula17 Goes to School Tahun 2026 yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Senin (26/10/2026).
Sebanyak 120 pelajar dari 15 SMA/SMK sederajat di Jakarta mengikuti kegiatan tersebut untuk menyampaikan aspirasi mengenai berbagai persoalan perkotaan, termasuk lingkungan.
Di hadapan para pelajar, Pramono mengingatkan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan arah masa depan Ibu Kota. Kepedulian terhadap lingkungan dan keberanian menyuarakan persoalan kota perlu tumbuh sejak dini agar perubahan positif dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
“Sebagai calon-calon pemimpin bangsa ke depan, kalian semua yang bertanggung jawab merawat, menjaga, dan saya yakin dalam kepemimpinan anak-anak muda seperti Angelika dan kalian semua, pasti Jakarta di tangan yang lebih baik,” ujarnya.
Bagi Pramono, forum aspirasi semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi. Para pelajar diharapkan memperoleh pengalaman yang bermanfaat bagi pengembangan diri sekaligus mampu menerapkan gagasan dan kepedulian mereka di sekolah maupun masyarakat.
Keterlibatan generasi muda menjadi semakin relevan ketika Jakarta bersiap memasuki usia 500 tahun. Tantangan kota, mulai dari kualitas udara dan air hingga ketersediaan ruang hijau, membutuhkan perhatian bersama agar pembangunan hari ini tidak mengurangi kualitas hidup masyarakat pada masa mendatang.
Co-Founder sekaligus Program Manager Kawula17, Maria Angelica Christy, menegaskan bahwa persoalan lingkungan merupakan bagian penting dari kehidupan orang muda. Keputusan yang diambil saat ini, menurutnya, akan menentukan kondisi kota yang diwarisi generasi berikutnya.
“Artinya, kondisi air, udara, ruang hijau, dan energi yang kita putuskan hari ini akan menentukan kualitas hidup kami puluhan tahun mendatang. Dengan kata lain, persoalan lingkungan Jakarta adalah persoalan orang muda Jakarta,” tuturnya.
Maria juga menghubungkan partisipasi pelajar dengan semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober. Menurutnya, keberanian menyampaikan pendapat dan kesediaan mendengarkan kelompok lain merupakan langkah penting untuk membangun kota yang terbuka terhadap aspirasi warganya.
“Dengan demikian, perjalanan menuju lima abad Jakarta dapat ditempuh bersama seluruh warganya, terutama orang muda,” pungkasnya.