Pawai Ogoh-Ogoh menjelang hari Raya Nyepi ,Gubernur Maluku Minta Jaga Toleransi

Pawai Ogoh-Ogoh menjelang hari  Raya Nyepi ,Gubernur Maluku Minta Jaga Toleransi
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, melepas karnaval pawai ogoh-ogoh dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026. Foto: Spektroom/Eva. M

Ambon–Spektroom: Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, melepas karnaval pawai ogoh-ogoh dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026 di depan Gong Perdamaian Dunia, Kota Ambon, Rabu (18/3/2026).

Dalam sambutannya, gubernur menegaskan perayaan Nyepi tahun ini menjadi momen istimewa karena berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri. Ia menyebut, kondisi tersebut mencerminkan kekayaan keberagaman Indonesia yang tetap hidup dalam harmoni.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku, saya mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi kepada seluruh umat Hindu. Juga selamat Idulfitri kepada umat Muslim. Ini momentum untuk memperkuat persaudaraan,” kata Lewerissa.

Ia menjelaskan, Nyepi mengajarkan pengendalian diri melalui Catur Brata Penyepian seperti tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Nilai-nilai ini, menurutnya, sejalan dengan makna Idulfitri yang menekankan kesucian hati, saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi.

Gubernur menekankan, keberagaman agama di Maluku bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk menjaga persatuan. Ia mengajak masyarakat terus merawat toleransi, saling menghormati, serta memperkuat gotong royong antar umat beragama.

“Maluku dikenal dengan nilai persaudaraan yang kuat. Ini harus terus dijaga agar kehidupan masyarakat tetap rukun dan damai,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PHDI Kota Ambon, Ida Bagus G. Dwibawa, menyampaikan bahwa pelaksanaan pawai ogoh-ogoh berjalan aman dan penuh kebersamaan.
Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut melibatkan partisipasi lintas umat beragama, mulai dari proses pembuatan hingga pelaksanaan pawai.
“Yang menggotong ogoh-ogoh bukan hanya umat Hindu, tapi juga saudara-saudara dari umat lain. Ini bentuk nyata kebersamaan di Ambon,” katanya.

Peserta Pawai Ogoh - Ogoh tiba di Depan Kantor Korem 151 Binaiya, Ambon. Foto: Spektroom


Menurutnya, pembuatan ogoh-ogoh membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan dengan tingkat kerumitan tinggi karena menggunakan rangka anyaman bambu.

Adapun rute pawai dimulai dari Gong Perdamaian Dunia menuju kawasan Polda lama, dilanjutkan ke depan Korem, Tugu Trikora, dan kembali ke titik awal.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, sehingga perayaan Nyepi di Ambon berlangsung aman, tertib, dan penuh nuansa persaudaraan.(EM)

Berita terkait

Polda DIY, Pemda dan Suporter Sepakat Jaga Kondusivitas Liga 2026/2027

Polda DIY, Pemda dan Suporter Sepakat Jaga Kondusivitas Liga 2026/2027

Sleman-Spektroom : Rivalitas antar pendukung sepak bola di Yogyakarta diharapkan tetap berada dalam koridor sportivitas. Menjelang kompetisi BRI Super League 2026/2027, Polda DIY bersama pemerintah daerah, manajemen klub, dan kelompok suporter menyepakati komitmen bersama untuk menjaga keamanan dan kondusivitas. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama yang difasilitasi Polda DIY

Fatmawaty, Bian Pamungkas
Gubernur Maluku Dorong Penyelesaian Sengketa Aset Banda 3.700 Hektar dan Penataan Batas Taman Nasional Manusela

Gubernur Maluku Dorong Penyelesaian Sengketa Aset Banda 3.700 Hektar dan Penataan Batas Taman Nasional Manusela

Jakarta-Spektroom: Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, mendorong pemerintah pusat dan Komisi II DPR RI untuk segera menyelesaikan penataan aset perkebunan pala di Kepulauan Banda serta melakukan rekonstruksi ulang tata batas Taman Nasional Manusela. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Ruang Rapat Komisi II, Senayan, Jakarta,

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru
Sulawesi Tenggara Akan Memiliki Bendungan Terbesar Pesosika

Sulawesi Tenggara Akan Memiliki Bendungan Terbesar Pesosika

Jakarta – Spektroom :  Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagai bagian dari target pembangunan infrastruktur baru bidang Sumber Daya Air tahun 2025–2029. Bendungan Pelosika diproyeksikan menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede, sekaligus menjadi bendungan terbesar di Sultra.

Nurana Diah Dhayanti
ссс