Pembangunan Jembatan Batam-Bintan, Masih Sebatas Angan
Kepri–Spektroom : Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tengah bersiap menyambut salah satu lompatan infrastruktur terbesar dalam sejarahnya. Jembatan Batam–Bintan (Babin), bukan sekadar proyek konstruksi biasa, karena dua pulau yang selama ini hanya bisa terhubung melalui jalur laut.
Sebuah mega-infrastruktur yang dirancang untuk mengubah wajah kawasan dan masa depan perekonomian Provinsi (Kepri) secara fundamental.
Gagasan menghubungkan Batam dan Bintan melalui jalur darat sesungguhnya bukan ide baru. Desain awal jembatan ini pertama kali digagas oleh Pemerintah Provinsi Kepri pada tahun 2005, kemudian diperbarui pada 2010.
Selama lebih dari dua dekade, proyek ini terus berkembang dari sekadar wacana menjadi proyek yang kini telah memiliki kajian bisnis final, data tanah yang komprehensif, dan skema pembiayaan yang matang.
Jembatan Babin telah resmi ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan masuk dalam Major Project Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) berdasarkan Perpres No. 18 Tahun 2020. Status ini mencerminkan betapa strategisnya proyek ini tidak hanya bagi Kepri, tetapi juga bagi peta infrastruktur nasional Indonesia secara keseluruhan.
Jembatan Babin dirancang membentang sepanjang 14,75 kilometer dengan lebar right-of-way (ROW) jalan mencapai 100 meter. Jembatan ini terbagi dalam tiga trase utama yang menghubungkan Pulau Batam, Pulau Tanjung Sauh sebagai pulau penghubung tengah, hingga Pulau Bintan di ujung satunya.
Lebar jembatan yang awalnya didesain 28 meter kini diperlebar menjadi 33 meter, menyesuaikan kapasitas lalu lintas yang diproyeksikan meningkat signifikan pasca beroperasinya kawasan-kawasan industri baru di sepanjang koridor. Nilai investasi keseluruh proyek tersebut mencapai Rp16 triliun hingga Rp17 triliun.
Survei penyelidikan tanah di 19 titik borehole yang mencakup wilayah segmen Batam–Tanjung Sauh dan segmen Tanjung Sauh–Bintan telah tuntas dengan hasil yang menyatakan kedua lokasi layak untuk konstruksi. Proyek saat ini memasuki tahap finalisasi review design sebelum konstruksi fisik resmi dimulai.
Menyinggung hal tersebut Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, dengan tegas menyatakan bahwa komunikasi dengan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus berjalan aktif dan intensif. Berbagai tantangan yang dihadapi termasuk dinamika kondisi fiskal nasional disikapi secara realistis tanpa sedikitpun mengurangi tekad untuk mewujudkan proyek ini.
“Semua pembebasan lahan sudah di lakukan, kita membawa 4 investor langsung yang mau membangun seluruhnya walaupun pemerintah memberikan waktu jangka panjang, namun sampai hari ini belum ada perkembangan,” jelasnya.
Pemprov Kepri terus membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor strategis, konsorsium swasta, dan mitra pembangunan dari dalam dan luar negeri yang ingin turut serta dalam pembangunan ini.
“Apa gunanya terbangun jembatan Batam-Bintan, jika ada persoalan di belakang hari. Kita tidak ingin itu terjadi. Kalau ada tokoh masyarakat atau pemangku kepentingan untuk menemui Presiden terkait pembanunan Jembatan Batam-Bintan saya tidak keberatan persilakan,”ujar Gubernur.
Jembatan Batam–Bintan adalah representasi sejati dari filosofi pembangunan Kepri, bahwa sebuah provinsi kepulauan tidak boleh terbatas oleh batas-batas laut. Dengan Jembatan Babin, Kepri membuktikan kepada dunia,bahwa lautan bukan penghalang, melainkan jembatan menuju peluang yang tidak pernah habis.