Pembekalan Kelas Aman (Ayah Idaman) bagi Bidan dan PLKB Sukseskan Program KB
Jakarta - Spektroom: Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) dan PLKB Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) adalah dua pilar utama di lini lapangan dalam menyukseskan program Keluarga Berencana (KB) dan pembangunan keluarga
Seperti diketahui pelayanan Keluarga Berencana Pasca Persalinan (KBPP) merupakan salah satu indikator strategis nasional yang tercantum di dalam RPJMN tahun 2025-2029.
Pada tahun 2026 ini target KB pasca persalinan ditetapkan sebesar 60% atau setara dengan 2,7 juta aseptor.
Namun menurut Ruri, sampai dengan bulan Mei capaiannya berdasarkan data SIGA kita baru tercapai di angka 34%. Tentunya kita perlu berupaya sangat keras karena ingin mencapai target yang sudah ditetapkan dengan berbagai inovasi yang kita lakukan untuk pelaksanaan pelayanan KBPP.
Hal itu disampaikan Direktur Bina Kesehatan Reproduksi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), dr. Ruri Mutia Ichwan, pada virtual Pembekalan Kelas Aman (Ayah Idaman), bagi Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) dan PLKB Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), Rabu (17/6/2026).
"Selain itu KBPP juga menjadi salah satu rencana aksi prioritas dari Kemendukbangga/BKKBN yang dipantau secara berkala oleh kantor staff keprpresidenan. Oleh karena itu kita secara rutin melaporkan progres dari capaian KBPP ini" ujar Ruri.
Target tersebut, terus Ruri, memerlukan upaya yang terintegrasi, tidak hanya melalui penguatan akses dan kualitas pelayanan tetapi juga melalui peningkatan dukungan keluarga terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.
"Berdasarkan Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2023 sebanyak 27,7% perempuan yang tidak menggunakan kontrasepsi setelah melahirkan menyatakan salah satu alasannya adalah karena tidak memperoleh izin ataupun dukungan dari suami maupun keluarga" rinci Ruri menjelaskan.
Sedangkan untuk menjawab tantangan tersebut Direktorat Bina Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN mengembangkan inovasi kelas aman atau kelas Ayah Idaman yang merupakan inovasi yang direplikasi dari praktik baik pelaksanaan KBPP tahun 2025.
"Namun tidak menutup kemungkinan nanti ada inovasi lagi yang lain yang berkembang untuk kita bisa mencapai KBPP ini dengan baik yang bisa kita lakukan replikasi secara nasional" terangnya lagi.
Sementara diforum yang sama Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga BKKBN, Wahidin, mengatakan dari data Surkesnas membuktikan bahwa penguatan program Keluarga Berencana berkontribusi sangat signifikan terhadap upaya pengendalian kelahiran, penurunan angka kematian ibu, dan juga penurunan angka kematian bayi di Indonesia.
"Dengan angka fertilitas 2,13, Angka Kematian Ibu saat ini berada di 144 per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi berada di 14,12 per 1.000 kelahiran hidup. Tentu, kalau melihat angka ini, bahwa di Indonesia mengalami perbaikan, baik kesehatan ibu anak, dan tentu ini kaitannya dengan keberhasilan program KB dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi." ujar Wahidin menjelaskan.
Namun demikian, dalam mencapai target penurunan kematian ibu dan bayi, sesuai dengan tujuan global yang dituangkan dalam SDGS 2030, serta target nasional tahun 2029 dalam RPJMN, maka diperlukan upaya kolaborasi dan kerja keras dari berbagai stakeholder terkait.
Program KB, lanjut Wahidin, berkontribusi pada penurunan angka kematian ibu dan bayi melalui berbagai cara, antara lain mengurangi kehamilan resiko tinggi, mengatur jarak kelahiran, menurunkan paritas tinggi, mengurangi resiko kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah serta meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, serta meningkatkan kualitas pengasuhan bayi.
"Istilah BBLR digunakan untuk bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram (2,5 kg) saat dilahirkan, baik lahir secara prematur maupun cukup bulan" terangnya lagi.
Wahidin menambahkan, KB pasca persalinan bukan sekedar layanan kontrasepsi setelah melahirkan, tetapi merupakan intervensi penting untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, mengatur jarak kelahiran, menurunkan resiko kehamilan empat terlalu, serta mendukung pemulihan kesehatan ibu setelah melahirkan.
"Momentum pasca persalinan merupakan kesempatan yang sangat strategis, dimana setiap tahun terdapat sekitar 4,6 juta sampai dengan 4,9 juta persalinan di Indonesia" pungkasnya.(@Ng).