Perayaan Ekaristi Pentakosta, Menandai Berakhirnya Masa Paskah
Bandarlampung - Spektroom: Hari Raya Pentakosta adalah perayaan liturgis dalam Gereja Katolik yang memperingati peristiwa turunnya Roh Kudus atas para rasul dan lahirnya Gereja.
Misa atau Perayaan Ekaristi Pentakosta diselenggarakan Gereja Katedral Kristus Raja Tanjungkarang, tepat pada hari Minggu ketujuh setelah Hari Raya Paskah, yang menandai berakhirnya Masa Paskah, pada Minggu 24 Mei 2026.
Pada Perayaan Ekaristi Pentakosta, Roh Kudus disebut pembaharu dunia dan kita diminta senantiasa datang agar supaya Dia memperbaharui dunia.
Yang diperbarui adalah segala hal, karena bahwa Dia bisa mengubah karena segalanya menjadi baru dan baik, maka dilawankan antara yang antara yang negatif dengan yang positif.
Hal itu disampaikan Uskup Gereja Katedral Kristus Raja Tanjungkarang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo dalam Homilinya pada perayaan Ekaristi Hari Raya Pentekosta,di Gereja Katedral Tanjungkarang, Bandarlampung, Minggu (24/5/2026).
Dalam wadah konsekuensi Roh Kudus tadi, dikatakan bahwa kita minta roh kudus mencairkan yang beku, memulihkan yang sakit, melembutkan yang keras dan seterusnya.
"Karena, Dia Roh yang memperbahari dunia, bisa kita susun daftar sebanyak-banyaknya hal-hal yang negatif dan kemudian kita minta Roh Kudus untuk mengubahnya menjadi positif, lalu di ujung dari semua itu ada kata yang penting yang diberikan oleh Yesus kepada para murid yaitu damai sejahtera" ucap Uskup Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo.
Pertanyaannya, apakah dunia yang sudah 2000 tahun lebih, dilayani oleh gereja sudah damai sejahtera? Belum. Salahnya di mana? Apakah roh kudus kurang berhasil? Padahal kita minta terus setiap tahun, setiap pada krisma. Apakah roh kudus kurang berhasil dalam tugasnya memperbaharu dunia? Setuju? tentu Tidak.Lalu dimana salahnya?
"Sejatinya Kita yang tidak berhasil. Artinya kita yang tidak bekerja sama dengan roh kudus. Kita tidak bisa menyalahkan roh kudus karena Dia tidak mau memperbaharu dunia dalam arti sulapan otomatis" terang Uskup lagi.
Uskup Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo melanjutkan, walaupun pada waktu Pentakosta bisa mengubah secara langsung orang-orang Galilea, dan para rasul, yang tiba-tiba bisa bicara dan orang yang mendengarnya bisa mendengar bahasa masing-masing.
"Apakah kita mau menuntut yang sama? Sepertinya tidak perlu. Karena bahasa yang mempersatukan, bahasa cinta itu sekarang sudah ditanam di dalam diri kita masing-masing" tandas Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo.
Hari Pentakosta bukan hanya perayaan liturgis tetapi juga sebuah pengingat akan panggilan kita untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai spirit Serviam.
Puluhan Jemaat yang memenuhi Gereja Katedral Kristus Raja Tanjungkarang diajak untuk menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai cinta dan belaskasih, integritas, keberanian dan ketangguhan, persatuan, totalitas, dan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang tidak hanya unggul dalam akademis tetapi juga bermakna dalam kontribusi sosial dan spiritua.(@Ng).