Pergerakan IPH Hingga Minggu Ke-4 Oktober, Tiga Provinsi Alami Kenaikan Diatas 3%
Jakarta - Spektroom: Sekretaris Jenderal Kementrian Dalam Negri (Sekjen Kemendageri) Tomsi Tohir memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Infiasi di Daerah Tahun 2026, berlangsung di Sasana Bhakti Praja Kementerian Dalam Negeri, di Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
Sekjen Kemendageri Tomsi Tohir dalam pengantarnya mengatakan dengan adanya pengaruh global dan juga kenaikan Indeks Harga Pemerintah (IHP) beras dan ayam ras, mengakibatkan inflasi year on year 2026 dibandingkan dengan tahun yang sebelumnya sedikit mengalami peningkatan.
Namun demikian, lanjut Tomsi, yang harus dijaga adalah harga komoditas yang menjadi kebutuhan masyarakat.
"Dengan melihat perkembangan inflasi tahunan beberapa tahun terakhir, kita bisa mengetahui bahwa setiap bulan Desember, kebutuhan masyarakat selalu meningkat, terutama menjelang liburan Nataru (Natal dan Tahun Baru: red), oleh sebab itu, perlu di antisipasi sejak dini." ujar Tomsi.
Menurutnya antisipasi tersebut bisa dilakukan dengan menggelar operasi pasar, baik oleh Pemerintah Kabupaten dan/ Provinsi bekerjasama dengan Bulog setempat.
Sementara diforum yang sama Deputi Bidang Statistik dan Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan, bahwa inflasi bulanan selama kurun waktu tiga tahun, 2023 - 2025 khususnya untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau, selama 3 tahun berturut-turut terjadi inflasi pada September 2023 sampai dengan 2025.
"Kalau kita cermati yang berikutnya, inflasi di bulan September di 3 tahun tersebut untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama andilnya yang secara berturut-turut cukup penyumbang terhadap inflasi ini, terutama cabai merah kemudian juga daging ayam dan itu juga terjadi di bulan September 2026" terang Ateng Hartono merinci.
Pada bagian lain paparannya, Ateng Hartono juga menyampaikan untuk pergerakan IPH sampai dengan minggu keempat di bulan Oktober, ada tiga provinsi yang IPH-nya di atas 3%, yaitu di Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Barat.
Sedangkan Sulawesi Tengah, Jambi, Sulawesi Selatan, dan Maluku, mengalami kenaikan IPH sebesar 2%. Hampir semua provinsi yang mengalami peningkatan IPH terutama didorong oleh cabai merah dan cabai rawit.
"Namun demikian ada 10 Kabupaten/Kota yang mengalami penurunan IPH terdalam, terutama terjadi di Provinsi Sulawesi Utara dan Kepulauan Sangihe yang mengalami penurunan sampai 5,23% dan di Kabupaten Bolang Mongondow Timur turun 1,16%" ujarnya lagi.
Sementara di Kabupaten/Kota di Provinsi Papua, Papua Tengah, Maluku, Sulawesi Tenggara, dan Papua Barat juga mengalami kenaikan IPH cukup tinggi, terutama di Provinsi Papua yaitu di Kabupaten Biak Numfor dan Provinsi Papua Tengah di Kaupaten Paniai.(@Ng).