Peringati Hari Kartini, Siswa YPAC Surakarta Unjuk Bakat

Peringati Hari Kartini, Siswa YPAC Surakarta Unjuk Bakat
Penuh Haru Aska Siswa TPAC Surakarta Duatas Kursi Roda Bacakan Puisi Kartini ( Selasa 21/04/2026, Dan )

Solo - Spektroom : Peringatan Hari Kartini di Lingkungan Yayasan Pembinaa Anak Cacat - YPAC Surakarta ( selasa 21/04/2026 ) sangat menyentuh hati, anak anak berkebutuhan khusus mampu mengekspresikan berbagai bakat dan potensi yang dimiliki, meski dengan keterbatasan

Suasana hening dan haru sangat terasa saat Aska Ramadani yang duduk di kursi roda dengan lantang membacakan puisi tentang Kartini, bahkan siswa kelas 2 SMA LB YPAC Surakarta itu mampu memukau seluruh siswa dan tamu yang hadir di Aula Sekolah.

Ditemui usai membaca puisi Aska yang hoby menulis itu menuturkan sangat memahami makna perjuangan kartini sebagai pahlawan yang membukakan pendidikan bagi perempuan. Sosok Kartini dengan perjuangannya yang pantang menyerah juga menginspirasi penyandang disabilitas untuk berjuang, berkarya dan berprestasi.

Bagi Aska yang sering memenangkan lomba itu pendidikan merupakan senjata untuk mengubah nasib dan membuktikan kemampuan tidak hanya dinilai dari kondisi fisik.

"Saya ingin mengadaptasi sifat pantang menyerah Ibu Kartini dan selalu mengusahakan yang terbaik. Harapan saya, teman-teman perempuan bisa lebih berprestasi lagi dan untuk para difabel agar lebih diperhatikan oleh seluruh warga Indonesia," Tutur Aska dengan penuh semangat.

Peringatan tahun ini di YPAC mengusung tema "Kartini Masa Kini: Berani, Mandiri, dan Berprestasi" yang diwujudkan melalui berbagai unjuk Bakat Minat Pengembangan Diri dan Literasi yang disingkat " Bakmi Pedas" seperti peragaan busana yang penuh percaya diri, pembacaan puisi yang menyentuh hati, hingga unjuk kemampuan bela diri dan menari, semua dilakukan untuk memupuk kemandirian sejak dini.

Kepala SLB D1 YPAC Surakarta, Wiwik Harianti, menegaskan momen Kartini dimanfaatkan untuk pemantik siswa berani menyuarakan hal-hal baik dalam meraih cita-cita, tèrmasuk Sekolah berupaya keras mematahkan stigma negatif masyarakat yang memandang sebelah mata anak-anak berkebutuhan khusus.

Melalui pelatihan kewirausahaan dan pengembangan seni, para siswa dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang unik dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

"Momen Kartini bukan sekadar pakai kebaya, tapi anak-anak harus berani meraih mimpi dan mengatakan hal baik. Kami ingin menunjukkan bahwa mereka mampu mandiri seperti anak pada umumnya melalui keistimewaan dan ciri khas yang mereka miliki," Tegas Wiwik Harianti. (Dan)

Berita terkait