Perlu Penambahan Alokasi Anggaran dan Stimulan Pengembangan Transportasi Umum
Surakarta – Spektroom: Target pemerintah untuk pembenahan angkutan umum di 20 kota dalam RPJMN 2025–2029, realisasinya diragukan.
Menurut pakar transportasi Nasional Djoko Setijowarno, hal tersebut dipicu oleh tren anggaran yang terjun bebas. Setelah mencapai puncaknya di angka Rp582,98 miliar pada 2023, alokasinya menyusut drastis hingga hanya direncanakan sebesar Rp82,6 miliar pada 2026.
“Sejauh ini, baru satu kota yang berhasil direalisasikan, yaitu Manado (Trans Manado) pada tahun 2025,” ungkapnya Djoko Setijowarno, kepada Spektroom, Sabtu (18/4/2026).
Djoko menjelaskan, sejak diluncurkan pada 2020, program subsidi layanan transportasi darat telah beroperasi di 15 kota, seperti Medan (Trans Metro Deli), Palembang (Trans Musi Jaya), Bogor (Trans Pakuan), Bandung (Trans Metro Jabar), Depok (Trans Depok), Bekasi (Trans Patriot), Banyumas (Trans Banyumas), Yogyakarta (Trans Jogja), Surakarta (Batik Solo Trans), Surabaya (Trans Semanggi Surabaya), Banjarmasin (Trans Banjarbakula), Bali (Trans Metro Dewata), Makassar (Trans Mamminasata), Balikpapan (Balikpapan City Trans), hingga Manado (Trans Manado).
“Mengingat pentingnya layanan ini, diperlukan alokasi anggaran yang lebih besar serta pemberian stimulan atau DAK dari Ditjen Perhubungan Darat bagi daerah-daerah baru,” kata Djoko yang juga Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
Ia juga berpendapat, agar pembenahan angkutan umum berjalan sesuai target ditengah ancaman krisis energi Bahan Bakar Minyak (BBM), maka pemerintah perlu memberikan dukungan strategis untuk memastikan pengembangan bus listrik.
Sejauh ini pengembangan bus listrik nasional yang diinisiasi oleh PT Inka melalui kolaborasi 4 perguruan tinggi (UGM, ITS, Universitas Airlangga dan ISI Denpasar) dan industri karoseri lokal Piala Mas telah membuktikan kemampuannya sejak pertemuan G20 Bali 2022.
Pengembangan bus listrik tersebut diharapkan terus berlanjut dan mampu memenuhi kebutuhan transportasi hijau di Indonesia.
“Saat ini, armada tersebut telah dioperasikan sebagai transportasi publik di Bandung, Surabaya, dan kawasan TMII,” ucap Djoko.
Disampaikan pula, melalui integrasi kebijakan yang komprehensif, mulai dari reformasi subsidi, dukungan terhadap produksi bus listrik nasional, hingga optimalisasi logistik jalur rel, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari krisis energi.
“Langkah strategis ini bukan sekadar upaya menjaga lingkungan, melainkan investasi jangka panjang demi stabilitas fiskal dan kesejahteraan masyarakat yang lebih berkelanjutan,” tandas Djoko Setijowarno yang juga Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata Semarang.