Perlukah Pengetahuan Fotografi Untuk Memotret di Era Smartphone

Perlukah Pengetahuan Fotografi Untuk Memotret di Era Smartphone
Foto dengan rana lambat membuat obyek bergerak menjadi kabur, agar cahaya tidak berlebihan masuk ke sensor, dibutuhkan filter di depan lensa yang disebut filter ND (Neutral Density) Foto: Nur Jalil/Spektroom

Makasar - Spektroom: Sebelum era smartphone, orang yang memotret terbatas pada fotografer atau paling tidak orang yang hobby fotografi. Namun setelah smartphone memiliki kamera bagus, bahkan canggih dengan pengaturan artificial intelligence maka hampir semua orang sudah bisa menjadi fotografer.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian seseorang tidak perlu lagi belajar teori-teori fotografi untuk menjadi fotografer pada zaman ini? Mungkin jawabannya adalah "Tidak perlu lagi belajar seribet dahulu". Orang yang ingin memotret dengan baik, hanya perlu mengetahui dasar-dasar fotografi.

Fotografi atau dalam bahasa Inggris Photography adalah “melukis dengan cahaya” berasal dari kata (photos = cahaya, graphos = melukis/menulis). Dengan demikian dapat dipahami bahwa unsur utama fotografi adalah cahaya.

Salah satu teknik komposisi, adalah mengambil foreground (latar depan, contoh daun) untuk membingkai obyek foto (Foto: Nur Jalil/Spektroom)

Tulisan ini tidak bermaksud berteori hingga sesuatu yang gampang menjadi sulit, melainkan berusaha menggunakan pilihan kata sesederhana mungkin.

Orang awam mungkin bingung dengan hasil jepretannya, kadang-kadang bagus tetapi di lain waktu hasilnya buruk. Perlu diketahui bahwa smartphone Anda sudah mengambil sebagian besar pekerjaan yang dahulu dipelajari dengan begitu sulit oleh para fotografer atau penghoby fotografi. Dan Anda dengan begitu “tega” membuat smartphone Anda bekerja keras.

Tanpa Anda sadari ketika memotret, paling tidak ada tiga unsur yang diatur oleh smartphone Anda agar foto Anda menjadi bagus dan seimbang. Tiga hal itu di dalam teori fotografi disebut “segitiga exposure”.

Segitiga exposure terdiri dari (1) Aperture atau bukaan lensa (2) Shutter speed atau kecepatan rana (3) ISO atau sensitivitas sensor. Ketiga hal ini saling terkait dan saling mempengaruhi.

Karena smartphone kameranya sudah disetting (diatur) otomatis, maka ketika Anda menekan tombol jepret (shutter), smartphone membaca lingkungan dan menentukan setting mana yang paling ideal. Semakin canggih smartphone, semakin tepat pula penentuan setting idealnya. Misalnya ketika berada di kondisi minim cahaya, maka untuk meningkatkan cahaya foto, smartphone akan mengatur ISO setinggi mungkin.

Pada smartphone yang belum canggih, ISO tinggi umumnya membuat kualitas foto menurun. Pada ISO tinggi, akan muncul bintik-bintik hitam atau warna lain (disebut noise) yang menurunkan kualitas foto. Berita bagusnya, bahwa pada smartphone tertentu yang pengolahan gambarnya canggih, ISO tinggi tidak lagi menjadi masalah, karena mempunyai AI (artificial Intelligence) yang dapat mengurangi bahkan menghapus noise. Namun perlu diketahui pula bahwa penghilangan noise yang berlebihan membuat foto juga menjadi tidak bagus karena kehilangan detail. Dalam hal tertentu justru tumpukan noise itulah yang menyusun gambar terlihat detailnya.

Salah satu jalan keluar bagi pengguna Smartphone jika berada di tempat kurang cahaya adalah menggunakan flash, namun perlu diketahui bahwa flash smartphone sangat terbatas jangkauannya sehingga tidak bisa digunakan untuk menjangkau area yang luas.

Selain segitiga Exposure, seseorang yang ingin meningkatkan pengetahuan memotretnya, sebaiknya mengetahui komposisi dan sudut pandang (angle).

Secara sederhana, komposisi adalah obyek apa saja yang boleh masuk di dalam foto (frame) dan apa yang tidak boleh serta bagaimana membuat obyek itu terlihat bagus.

Sedangkan angle atau sudut pandang adalah dari arah mana foto diambil, ada yang disebut low angle atau sudut rendah yang membawa kesan subyek foto lebih tinggi dari normalnya, atau high angle atau sudut tinggi yang membawa kesan subyek foto lebih pendek dari normalnya, sedangkan pada pengambilan tinggi rata-rata disebut "eye level". Kriteria lain adalah perspektif pengambilan, long shot, medium shot, close up. dsb.

Pengetahuan fotografi membuat kita dapat membuat foto yang lebih variatif dan menarik, meskipun dengan alat sederhana atau bahkan dengan kamera handphone. Dengan pengetahuan fotografi, kita mengetahui harus berbuat apa dengan alat yang kita miliki.

Demikian sekilas tulisan tentang fotografi. Zaman sekarang sudah sangat banyak sumber, baik teks maupun video yang bisa dijadikan referensi untuk meningkatkan pengetahuan fotografi kita. Selamat memotret.

Berita terkait