Persediaan Melimpah, Harga Bawang Dan Cabe Di Pasar Youtefa Abepura Jayapura Turun
Harga cabai rawit yang dalam beberapa pekan sebelumnya menembus angka Rp.180.000 per kilogram, kini berada pada kisaran Rp 70.000 hingga Rp 90.000 per kilogram.
Jayapura-Spektroom : Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok, khususnya bawang merah, bawang putih, dan cabai di Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, dalam beberapa pekan terakhir ini mengalami penurunan.
Harga bawang merah yang sebelumnya sempat menembus Rp 95.000 per kilogram, terhitung Kamis,23 Juli 2026 turun pada kisaran Rp 65.000 per kilogram. Begitupun bawang putih yang sebelumnya Rp 90.000 per kilogram, kini berada dikisaran Rp. 60.000 per kilogram.
Sedangkan bumbu dapur seperti harga cabai rawit yang dalam beberapa pekan sebelumnya menembus angka Rp.180.000 per kilogram, kini berada pada kisaran Rp 70.000 hingga Rp 90.000 per kilogram.
Cabai lokal hasil panen petani asal Arso, Kabupaten Keerom, dibanderol Rp 80.000 hingga Rp 90.000 per kilogram, tergantung kualitas barang.
Salah seorang pedagang di Pasar Youtefa, Andy, mengungkapkan penurunan harga ini terjadi lantaran pasokan bawang dari luar daerah serta cabai lokal mulai kembali melimpah.
"Sebelumnya bawang putih sampai Rp 90 ribu, bawang merah Rp 95 ribu. Sekarang turun jadi Rp 60 ribu dan Rp 65 ribu karena stok barang yang masuk mulai banyak," kata Andy saat ditemui Kamis (23/7/2026).
Ia mengingatkan warga bahwa tren penurunan harga ini kerap berfluktuasi, terutama menjelang akhir pekan.
"Kalau hari Sabtu biasanya naik lagi karena Minggu pengiriman barang libur. Stok jadi sedikit, makanya harga naik lagi. Itu sudah pola biasa di Pasar Youtefa," jelas Andy yang mengaku puluhan tahun berjualan di pasar itu.
Sementara Mira mempunyai stategi tersendiri, yakni berani berspekulasi dengan menurunkan harga, supaya dagangannya tetap laris.
Ia berani melepas harga bawang putih sebesar Rp 55.000 per kilogram dan bawang merah seharga Rp 50.000 per kilogram, jauh lebih murah dari rata-rata harga pasar.
"Saya harus berani ambil langkah itu sebab kalau tidak begitu lapak sepih dan kapan orang mau datang beli. Lagi pula kita harus putar modal supaya usaha tetap berjalan," tutur Mira.
Turunnya harga kedua komoditas tersebut, dimanfaatkan sejumlah warga yang berbondong bondong berbelanja untuk penuhi persediaan rumah tangga.