Polopendem Kembali Naik Daun, Umbi-Umbian Tradisional Jadi Buruan Warga Solo
Surakarta – Spektroom: Lapak sederhana di depan Pasar Sangkrah Kota Solo, Kamis (23/7/2026), tampak ramai sejak pagi. Bukan buah impor atau makanan kekinian yang diburu, melainkan aneka polopendem atau umbi-umbian seperti ubi ungu, ubi madu, singkong, kentang hitam, kimpul, hingga kacang tanah.
Di tengah tren pola hidup sehat, bahan pangan tradisional ini kembali menjadi favorit sebagian warga Kota Solo. Selain mudah diolah, polopendem dinilai lebih alami dan cocok dijadikan camilan maupun pelengkap hidangan keluarga.
"Hampir setiap hari saya beli polopendem untuk konsumsi sendiri. Biasanya ubi ungu atau kentang hitam, tinggal dikukus atau direbus buat camilan sehat di rumah," ujar Tini, salah seorang pembeli.
Tak jauh dari Tini, Sunarti terlihat sibuk memilih berbagai jenis umbi-umbian. Ia membeli dalam jumlah lebih banyak untuk sajian acara keluarga.
"Ini buat tambahan menu pertemuan keluarga di rumah. Selain kue, saya pilih ubi madu, ubi ungu, mbili ketan, kentang hitam, dan kacang tanah supaya lebih bervariasi," katanya.

Di balik ramainya pembeli, ada Rendi, pedagang asal Jumapolo, Karanganyar, yang setiap dini hari berangkat menuju Solo dengan sepeda motor. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, ia menggelar dagangan di atas alas plastik di tepi jalan depan pasar.
Umbi-umbian yang dijualnya berasal dari kawasan Jumantono, Karanganyar, yang dikenal sebagai sentra penghasil singkong, ubi, dan kacang tanah.
"Kalau di desa, polopendem tinggal ambil di kebun. Kalau di kota harus beli, makanya saya senang jualan di sini karena peminatnya cukup banyak," ujarnya.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Singkong dijual Rp5.000 per kilogram, ubi putih, ubi kuning, dan ubi ungu Rp8.000 per kilogram, ubi madu Rp9.000, sedangkan kentang hitam, kimpul, dan kacang tanah dijual mulai Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
Tak hanya umbi-umbian, Rendi juga membawa hasil kebun lain seperti pisang kepok, pisang susu, daun pisang, hingga tape singkong produksi UMKM pedesaan.
"Kebetulan ada tetangga yang menitipkan hasil panennya untuk saya jual. Jadi pembeli bisa sekalian mencari kebutuhan lain," tuturnya.
Ramainya lapak polopendem menunjukkan pangan lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat. Di tengah banyaknya pilihan makanan modern, umbi-umbian tradisional justru kembali diminati karena harganya terjangkau, rasanya akrab di lidah, sekaligus menjadi pilihan camilan yang lebih sehat.