Pontianak dan Konsistensi Menjaga Integritas

Pontianak dan Konsistensi Menjaga Integritas
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat menjadi pembicara di Talkshow Pencegahan Korupsi dalam rangka peringatan Hakordia 2025. Foto: Diskominfo Kota Pontianak.

Spektroom - Capaian Kota Pontianak yang kembali menempati posisi teratas Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK 2024 bukan sekadar angka.

Nilai 77,92 yang diraih, tertinggi di Pulau Kalimantan dan melampaui rata-rata nasional, menjadi sinyal kuat bahwa komitmen pemerintahan bersih di kota ini bukan wacana semata, melainkan kerja nyata yang dijaga secara konsisten.

Dalam konteks tata kelola pemerintahan, integritas adalah fondasi.

Tanpa integritas, pelayanan publik mudah rapuh, kepercayaan masyarakat terkikis, dan ruang penyimpangan terbuka lebar. Pontianak tampaknya memahami betul hal ini.

Wali Kota Edi Rusdi Kamtono menegaskan hal tersebut pada Tolw show Peringatan Hakorda disalah satu Hotel di Pontianak Jumat malam (12/12/2025)

Capaian SPI bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses panjang membangun pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
Menariknya, upaya menjaga integritas tidak hanya berhenti di internal birokrasi.

Pemerintah Kota Pontianak juga melibatkan masyarakat, khususnya generasi muda.

Talkshow, lomba konten, hingga edukasi antikorupsi menjadi strategi penting untuk menanamkan nilai integritas sejak dini.

Langkah ini patut diapresiasi, sebab pencegahan korupsi paling efektif justru dimulai dari perubahan pola pikir, bukan semata penindakan.

Ajakan kepada masyarakat untuk aktif melapor melalui kanal resmi seperti Inspektorat, Jaga.id, dan e-Lapor menunjukkan keterbukaan pemerintah terhadap pengawasan publik.

Ini pesan penting: pemerintahan yang bersih tidak alergi kritik, justru membutuhkan partisipasi warga sebagai mitra pengawasan.

Namun, pemerintah kota juga jujur melihat pekerjaan rumah yang masih ada.

Pengakuan bahwa sosialisasi antikorupsi masih perlu ditingkatkan menunjukkan sikap terbuka dan tidak cepat berpuas diri.

Pemahaman sederhana, seperti membedakan perilaku koruptif dengan tindakan korupsi, adalah dasar penting dalam membentuk karakter antikorupsi di masyarakat.

Pengalaman Pontianak yang sempat dipimpin penjabat wali kota dari KPK pun menjadi refleksi berharga.

Pengalaman tersebut bukan untuk dikenang sebagai masa lalu, melainkan dijadikan bekal memperkuat sistem dan budaya integritas ke depan.

Pada akhirnya, menjaga nilai SPI bukan soal mempertahankan peringkat, melainkan menjaga kepercayaan publik.

Selama komitmen pemerintahan bersih terus dirawat, dibarengi edukasi yang berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat, Pontianak berpeluang menjadi contoh bahwa integritas bukan slogan, tetapi budaya kerja.

Dan di tengah tantangan tata kelola pemerintahan hari ini, konsistensi seperti inilah yang paling dibutuhkan.

Berita terkait