Pontianak Jadi Kota Berpolusi Udara Terburuk di Indonesia, akibat Asap Karhutla
Pontianak-Spektroom : Kota Pontianak tercatat sebagai wilayah dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di Indonesia berdasarkan data pemantauan kualitas udara terbaru.
Indeks Kualitas Udara (AQI) di Pontianak mencapai 248 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut terpaut cukup jauh dibandingkan sejumlah kota besar lainnya.
South Tangerang berada di posisi kedua dengan AQI 152, disusul Bandung dan Medan masing-masing 132, Serpong 110, Jakarta 105, Pekanbaru 101, Tangerang 79, Palembang 78, dan Semarang 77.
Data kualitas udara dihimpun dari lima stasiun pemantauan milik Laboratorium Geofisika FMIPA Universitas Tanjungpura, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Greenpeace Indonesia.
Polutan utama yang mendominasi adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 173 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Konsentrasi tersebut jauh di atas ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Memburuknya kualitas udara di Pontianak terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Berdasarkan laporan harian Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kalimantan Barat per 28 Juli 2026, operasi pemadaman saat ini berlangsung di delapan kabupaten, yakni Kubu Raya, Ketapang, Kayong Utara, Mempawah, Bengkayang, Sambas, Sintang, dan Melawi.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu oleh BPBD kabupaten/kota bersama TNI, Polri, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pemerintah desa, hingga masyarakat setempat.
"Operasi darat terus dilakukan oleh BPBD kabupaten/kota bersama TNI, Polri, Manggala Agni, KPH, pemerintah desa hingga masyarakat sesuai kondisi di masing-masing daerah," kata Daniel.
Menurut dia, tantangan utama yang dihadapi petugas di lapangan adalah keterbatasan sumber air serta sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, terutama pada kawasan gambut.
Kabupaten Kubu Raya masih menjadi wilayah dengan intensitas penanganan tertinggi.
Pemadaman dilakukan di sejumlah titik, antara lain Desa Limbung, Kuala Dua, Punggur Kecil, Arang Limbung, hingga Rasau Jaya.
Sebagian besar lokasi masih mengeluarkan asap sehingga memerlukan pendinginan dan pemadaman lanjutan.
Selain operasi darat, BPBD Kalbar juga mengerahkan patroli udara dan helikopter water bombing untuk mempercepat penanganan kebakaran.
Pada 27 Juli, patroli udara difokuskan di wilayah Kubu Raya, Kayong Utara, dan Ketapang, sedangkan operasi water bombing dilakukan di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Pontianak, Yunus Sudaryanti, menegaskan pentingnya menjaga lahan gambut tetap basah untuk mencegah kebakaran dan menekan dampak asap.
Menurut Yunus, Kalimantan Barat memiliki sekitar 2,79 juta hektare ekosistem gambut atau sekitar 33,28 persen dari total luas gambut di Pulau Kalimantan.
Kabupaten Kubu Raya menjadi daerah dengan luasan gambut terbesar, mencapai sekitar 785,9 ribu hektare.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat.
Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti KN95, serta pemantauan berkala terhadap kualitas udara juga disarankan guna mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.