Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., Rektor UIN Malang: Spirit Kartini dan Relevansinya bagi Gen-Z di Era Digital
Malang-Spektroom: Semangat kesetaraan yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan energi moral yang terus hidup dan menemukan bentuk barunya di era digital. Bagi Generasi Z, nilai-nilai Kartini tidak lagi hadir dalam ruang-ruang terbatas, tetapi menjelma dalam cara pandang terhadap pendidikan, identitas, keadilan sosial, hingga relasi antarmanusia.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., menilai bahwa transformasi zaman justru mempertegas relevansi pemikiran Kartini. Dalam konteks kekinian, perjuangan kesetaraan tidak hanya berbicara soal perempuan, tetapi juga menyangkut akses, kesempatan, dan martabat manusia secara universal.
Dalam peringatan Hari Kartini 2026, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan Kartini harus ditransformasikan ke dalam gerakan nyata di era digital. Menurutnya, momentum ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga refleksi kolektif untuk memperkuat komitmen terhadap kesetaraan, khususnya di kalangan generasi muda.
Kartini hidup dalam keterbatasan sosial yang mengekang perempuan, terutama dalam akses pendidikan. Namun dari ruang sempit itu, ia melahirkan gagasan besar tentang hak setiap manusia untuk belajar dan berpikir merdeka. Pemikirannya yang terhimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi tonggak penting bahwa kesetaraan adalah panggilan kemanusiaan, bukan sekadar tuntutan sosial.
Dalam perspektif Gen-Z, nilai kesetaraan Kartini setidaknya hadir dalam lima dimensi utama.
Pertama, kesetaraan akses pendidikan. Di era digital, batas ruang kelas telah runtuh. Platform daring dan teknologi seperti kecerdasan buatan membuka peluang luas bagi siapa saja untuk belajar. Namun, kesenjangan masih nyata. Di sinilah semangat Kartini menemukan relevansinya: Gen-Z tidak cukup menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan yang mendorong inklusivitas.
Kedua, kesetaraan identitas dan ekspresi diri. Generasi Z dikenal lebih terbuka terhadap keberagaman. Nilai yang sejatinya telah ditanamkan Kartini melalui keberanian berpikir kritis dan kebebasan berekspresi. Namun, kebebasan ini harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
Ketiga, kesetaraan dalam ruang publik dan kepemimpinan. Media sosial kini menjadi ruang baru partisipasi. Gen-Z memiliki peluang besar untuk bersuara dan memimpin. Tantangannya adalah memastikan ruang ini tetap inklusif dan tidak didominasi kelompok tertentu. Semangat Kartini mendorong terciptanya ruang yang adil bagi semua.
Keempat, kesetaraan dalam relasi sosial. Kartini menolak segala bentuk dominasi yang merendahkan martabat manusia. Dalam kehidupan Gen-Z, ini tercermin dalam relasi yang sehat—berbasis saling menghargai, empati, dan kesetaraan, baik di keluarga, pertemanan, maupun dunia kerja.
Kelima, kesetaraan sebagai kesadaran kritis. Di tengah banjir informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci. Kartini telah memberi teladan untuk tidak menerima realitas secara pasif. Gen-Z dituntut mampu memilah informasi, melawan hoaks, dan membangun narasi yang adil dan objektif.
Namun, implementasi nilai-nilai tersebut tidak lepas dari tantangan. Paradoks digital menjadi salah satu hambatan utama. Teknologi di satu sisi membuka akses, tetapi di sisi lain menciptakan kesenjangan baru. Tidak semua individu memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan literasi digital.
Selain itu, komodifikasi nilai Kartini juga menjadi persoalan. Semangat perjuangan sering kali direduksi menjadi simbol seremonial semata, tanpa implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, esensi Kartini justru terletak pada tindakan konkret, bukan sekadar perayaan simbolik.
Prof. Ilfi menegaskan bahwa Gen-Z memiliki potensi besar untuk melampaui simbol dan masuk ke substansi perjuangan. Mereka dapat menjadi agen perubahan melalui advokasi sosial, inovasi digital, serta praktik kehidupan yang menjunjung tinggi kesetaraan.
“Semangat Kartini hari ini tidak cukup diperingati, tetapi harus dihidupkan. Generasi Z memiliki kekuatan besar melalui teknologi untuk memperluas akses pengetahuan, memperjuangkan keadilan, dan membangun peradaban yang lebih inklusif. Kesetaraan bukan hanya wacana, melainkan tindakan nyata yang dimulai dari diri sendiri,” tegas Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si.
Lebih jauh, ia menilai bahwa warisan Kartini bersifat dinamis. Jika Kartini hidup di era sekarang, ia mungkin akan memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan gagasannya. Namun, substansinya tetap sama: memperjuangkan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dengan demikian, semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi gerakan hidup yang terus menyala di tangan Generasi Z—menuju masa depan yang lebih setara, inklusif, dan bermartabat.