Prof. Dr. Mahfud Nurnajamuddin: UMKM Terancam Jadi Penonton Jika Negara Terlambat Berbenah

Prof. Dr. Mahfud Nurnajamuddin: UMKM Terancam Jadi Penonton Jika Negara Terlambat Berbenah
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Muslim Indonesia (UMI) sekaligus Asisten Direktur II Pascasarjana UMI, Prof. Dr. Mahfud Nurnajamuddin, (foto:ist)

Makassar-Spektroom:Ketika pemerintah terus mengejar investasi dan pembangunan proyek-proyek besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi, ada satu sektor yang justru menentukan daya tahan ekonomi Indonesia namun kerap belum memperoleh perhatian yang sepadan: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).


Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Muslim Indonesia (UMI) sekaligus Asisten Direktur II Pascasarjana UMI, Prof. Dr. Mahfud Nurnajamuddin, mengingatkan bahwa perubahan ekonomi global telah memasuki fase yang jauh lebih kompleks. Ketidakpastian bukan lagi peristiwa sesaat, melainkan kondisi baru yang harus dihadapi semua negara.


Perang dagang, konflik geopolitik, disrupsi rantai pasok, perubahan iklim, hingga kebijakan suku bunga dunia menciptakan tekanan berlapis terhadap perekonomian. Dalam situasi seperti itu, menurut Mahfud, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan investasi besar sebagai penopang pertumbuhan.


"Fondasi ekonomi Indonesia tetap berada pada UMKM. Mereka terbukti menjadi sektor yang paling bertahan ketika krisis 1998 maupun pandemi COVID-19 mengguncang perekonomian nasional," ujarnya.


Ironisnya, sektor yang menyumbang sekitar 61 persen Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja, dan mendominasi lebih dari 99 persen unit usaha nasional itu masih menghadapi persoalan klasik yang belum terselesaikan.


Biaya logistik tetap tinggi. Akses pembiayaan belum merata. Digitalisasi berjalan timpang. Sementara produk impor semakin agresif menguasai pasar domestik.


Di sisi lain, perilaku konsumen berubah drastis. Harga murah bukan lagi satu-satunya pertimbangan. Konsumen kini menuntut kualitas, layanan cepat, transaksi digital yang mudah, hingga produk yang ramah lingkungan.


"Kondisi ini membuat UMKM tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama. Bertahan saja tidak cukup," kata Mahfud.


Menurutnya, selama bertahun-tahun kebijakan pemerintah masih berkutat pada upaya menjaga agar UMKM tidak tumbang. Pendekatan tersebut dinilai sudah tidak memadai menghadapi persaingan global.


"Agenda besar sekarang bukan lagi menyelamatkan UMKM, tetapi memastikan mereka naik kelas," tegasnya.


Mahfud menilai transformasi digital harus menjadi prioritas. UMKM yang mampu memanfaatkan marketplace, media sosial, pembayaran digital, hingga analisis data pelanggan terbukti lebih cepat berkembang dibandingkan usaha yang masih mengandalkan pola pemasaran konvensional.


Namun digitalisasi saja tidak cukup. Inovasi produk menjadi syarat mutlak agar UMKM tidak terjebak dalam persaingan harga yang melelahkan. Produk lokal, menurutnya, hanya akan memenangkan pasar apabila memiliki kualitas, desain, dan nilai tambah yang mampu bersaing dengan produk impor.


Ia juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance atau ESG). Di pasar global, aspek lingkungan kini bukan lagi isu moral, melainkan syarat memasuki rantai pasok internasional.


Mahfud mengingatkan, beban transformasi itu tidak boleh hanya dipikul pelaku UMKM. Pemerintah harus mempercepat reformasi kebijakan melalui penyederhanaan perizinan, perluasan akses pembiayaan, pelatihan digital, hingga insentif bagi pelaku usaha yang mampu berorientasi ekspor.


Perguruan tinggi dan lembaga keuangan juga diminta keluar dari pola kerja sektoral. Riset harus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh pelaku usaha, sementara pembiayaan harus lebih inklusif bagi UMKM yang memiliki prospek berkembang.


Menurut Mahfud, indikator keberhasilan pembangunan UMKM juga perlu diubah. Selama ini, keberhasilan sering diukur dari bertambahnya jumlah pelaku usaha. Padahal, ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak UMKM yang berhasil meningkatkan produktivitas, masuk ke rantai pasok industri, memanfaatkan teknologi digital, serta menembus pasar ekspor.


"Jika transformasi ini terlambat dilakukan, jutaan UMKM hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri ketika produk asing semakin menguasai pasar domestik," ujarnya.


Bagi Mahfud, ketidakpastian global memang tidak dapat dihindari. Namun sejarah membuktikan setiap krisis selalu menghadirkan peluang bagi mereka yang siap beradaptasi.


Karena itu, ia menegaskan bahwa masa depan ekonomi Indonesia tidak semata ditentukan oleh besarnya investasi atau megahnya proyek infrastruktur, tetapi oleh keberhasilan negara membangun jutaan UMKM yang tangguh, inovatif, produktif, dan mampu bersaing di pasar global.

Tanpa perubahan kebijakan yang lebih progresif, kekuatan terbesar ekonomi nasional itu berisiko terus berjalan di tempat ketika dunia bergerak semakin cepat.

Berita terkait